Agrinas Palma Perluas Kebun Sawit 400 Ribu Ha untuk Biodiesel

Agrinas Palma Perluas Kebun Sawit 400 Ribu Ha untuk Biodiesel
Direktur Utama Agrinas Palma, Mohammad Abdul Ghani, mengatakan produksi biodiesel Agrinas Palma ditargetkan meningkat dari sekitar 900.000 ton menjadi 1,5 juta ton, termasuk tambahan sekitar 600.000 ton dalam satu tahun ke depan.

JAKARTA (RiauInfo) – PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) ditugaskan memperluas perkebunan sawit hingga 400.000 hektare untuk meningkatkan pasokan biodiesel kepada PT Pertamina (Persero). Perluasan tersebut disiapkan di tengah rencana pemerintah menerapkan mandatori biodiesel B60 mulai 2027. 

Direktur Utama Agrinas Palma, Mohammad Abdul Ghani, mengatakan Agrinas Palma saat ini mengelola sekitar 730.000 hektare kebun kelapa sawit. Penambahan lahan diperlukan untuk meningkatkan kapasitas produksi biodiesel perusahaan hingga sekitar 1,5 juta ton. 

“Kami ditugaskan untuk menambah 400 ribu. Kami ajak Pertamina end to end untuk bekerja sama, paling tidak itu ada 1,5 juta ton biodiesel nanti dari kita,” kata Mohammad Abdul Ghani saat menghadiri EBTKE ConEx 2026, Kamis, 3 September 2026. 

Menurut Abdul Ghani, Agrinas Palma ditargetkan dapat menghasilkan tambahan sekitar 600.000 ton biodiesel dalam satu tahun ke depan untuk diserahkan kepada Pertamina. Tambahan produksi tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperbesar kontribusi terhadap kebutuhan biodiesel nasional. 

Produksi Biodiesel Ditargetkan 1,5 Juta Ton

Saat ini produksi biodiesel Agrinas Palma disebut berada di kisaran 900.000 ton. Dengan revitalisasi lahan dan peningkatan produksi, jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi sekitar 1,5 juta ton pada tahun depan. 

“Tahun ini baru paling 900.000 ton masih sedikit. Makanya terbengkalai. Tapi kalau tahun depan naik dua kali lipat. Tahun depan 1,5 juta ton,” ujar Abdul Ghani. 

Selain perluasan perkebunan sawit, Agrinas Palma juga mendapat penugasan untuk menambah luasan perkebunan singkong atau sorgum hingga 300.000 hektare. Perluasan komoditas tersebut diarahkan untuk mendukung penyediaan bahan baku bioetanol. 

Abdul Ghani menjelaskan, produktivitas bahan baku energi berbeda berdasarkan komoditas. Dalam paparannya, satu hektare tebu disebut dapat menghasilkan sekitar 5 kiloliter etanol, sedangkan singkong menghasilkan sekitar 3–4,5 kiloliter dan kelapa sawit sekitar 4 kiloliter bahan baku biodiesel. 

Produktivitas Sawit dan Peremajaan Menjadi Tantangan

Ekspansi kebun sawit tersebut berlangsung ketika produktivitas perkebunan sawit Indonesia masih menjadi tantangan. Abdul Ghani menyebut Indonesia memiliki sekitar 17 juta hektare perkebunan sawit dengan produksi sekitar 50 juta ton, atau rata-rata sekitar 3 ton per hektare. 

Menurut Abdul Ghani, percepatan peremajaan atau replanting menjadi salah satu kebutuhan utama untuk meningkatkan produktivitas sawit. Dari sekitar 3 juta hektare lahan yang perlu diremajakan, kebutuhan peremajaan diperkirakan mencapai 500.000–600.000 hektare setiap tahun jika seluruh proses diselesaikan maksimal dalam enam tahun. 

Namun, realisasi peremajaan saat ini masih jauh di bawah kebutuhan tersebut. Abdul Ghani menyebut pelaksanaan replanting baru berada di kisaran 30.000–40.000 hektare per tahun. 

Kondisi produktivitas dan kebutuhan peremajaan tersebut menjadi faktor penting dalam strategi peningkatan pasokan bahan baku biodiesel. Karena itu, revitalisasi lahan sawit menjadi bagian dari rencana Agrinas Palma untuk mengejar tambahan produksi biodiesel.

Menuju Implementasi B60 pada 2027

Perluasan kebun sawit Agrinas Palma juga berkaitan dengan rencana pemerintah meningkatkan mandatori biodiesel dari B50 menuju B60. B50 merupakan campuran biodiesel berbasis Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dengan solar pada kadar 50 persen, sedangkan B60 ditargetkan memiliki kadar campuran biodiesel 60 persen.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya menyatakan optimistis mandatori B60 dapat diterapkan pada 2027. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi mengatakan Indonesia menjadi pionir dalam penerapan B50 secara global. 

Eniya mengatakan realisasi B50 oleh badan usaha dalam dua bulan terakhir rata-rata mencapai 80 persen. Pemerintah berharap penyaluran B50 dapat terealisasi sepenuhnya pada September 2026. 

Untuk menuju B60, pemerintah masih mengkaji spesifikasi campuran yang paling sesuai. Kajian mencakup kemungkinan penggunaan FAME secara penuh atau kombinasi FAME dengan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO). 

“Sekarang pun saya sedang minta BPDP untuk kajian, ini selesai di Desember. Nah, nanti kita hitung. Tapi untuk keberlanjutannya seperti apa, untuk masuk ke argumen B60 berapa tambah berapa, ini saya harus konsultasi ke periset nih yang melakukan,” kata Eniya Listiani Dewi. 

Kapasitas terpasang produksi biodiesel Indonesia saat ini mencapai sekitar 22 juta kiloliter. Kapasitas tersebut dinilai cukup untuk menopang kebijakan B50, meski pemerintah masih melihat kebutuhan peningkatan kapasitas ke depan, terutama karena ancaman El Nino terhadap produktivitas kelapa sawit. 

Dengan demikian, rencana Agrinas Palma memperluas kebun sawit 400.000 hektare tidak hanya berkaitan dengan ekspansi aset perusahaan. Perluasan tersebut terhubung langsung dengan peningkatan produksi bahan baku sawit, pasokan biodiesel kepada Pertamina, serta persiapan Indonesia menghadapi peningkatan mandatori biodiesel dari B50 menuju B60.

 

 

Berita Lainnya

Index