JAKARTA (RiauInfo) – Pemerintah Indonesia menawarkan 32 proyek investasi strategis sektor transportasi dan infrastruktur senilai Rp207,64 triliun kepada investor Jepang melalui Indonesia–Japan Transportation and Infrastructure Business Forum and Business Matching 2026 di Tokyo pada 27–28 Agustus 2026.
Forum yang diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian tersebut mempertemukan pemilik proyek Indonesia dengan 50 perwakilan dari 36 perusahaan dan institusi Jepang. Pertemuan diarahkan untuk membuka peluang kerja sama investasi yang lebih konkret di sektor transportasi dan infrastruktur.
32 Proyek Ditawarkan
Sebanyak 32 proyek tersebut berasal dari sembilan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan nilai investasi indikatif Rp207,64 triliun atau sekitar 13,16 miliar dolar AS. Portofolionya mencakup berbagai sektor yang berkaitan langsung dengan konektivitas dan pengembangan kawasan.
Rinciannya terdiri atas 12 proyek jalan dan jalan tol, 10 proyek properti serta pengembangan kawasan hunian, enam proyek perkeretaapian dan Transit-Oriented Development (TOD), dua proyek pelabuhan dan logistik, serta dua proyek fasilitas fabrikasi baja.
Sekitar tiga perempat dari proyek yang ditawarkan merupakan proyek brownfield, yaitu aset yang telah beroperasi atau proyek yang memiliki basis aset dan kegiatan usaha sebelumnya. Kategori tersebut mencakup aset operasional, rencana ekspansi, divestasi, dan peluang asset recycling.
Karakteristik proyek brownfield memberikan calon investor akses terhadap rekam jejak operasional dan catatan pendapatan aset. Pemerintah juga membuka sejumlah skema kerja sama, mulai dari divestasi, joint venture, Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) atau konsesi, hingga sewa jangka panjang.
Jepang Dinilai Punya Peran Strategis
Wakil Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang Maria Renata Hutagalung mengatakan hubungan investasi Indonesia dan Jepang telah terbangun selama hampir tujuh dekade. Menurut Maria, kerja sama tersebut tidak hanya dinilai berdasarkan besarnya investasi, tetapi juga kualitas dan keberlanjutan kemitraan.
“Yang membedakan investasi Jepang di Indonesia tidak pernah semata-mata soal nilai, melainkan kualitas rekayasa teknik, disiplin dalam penyelesaian proyek, transfer teknologi dan keahlian kepada tenaga kerja Indonesia, serta kesediaan untuk bermitra dalam jangka panjang,” ujar Maria.
Maria juga menegaskan kemitraan kedua negara telah terlihat dalam infrastruktur yang digunakan masyarakat Indonesia. “Bukan sesuatu yang abstrak, melainkan terlihat nyata dalam infrastruktur yang digunakan masyarakat Indonesia sehari-hari,” kata Maria, merujuk pada kerja sama yang antara lain tercermin melalui MRT Jakarta dan Pelabuhan Patimban.
Untuk meningkatkan daya tarik investasi, pemerintah menyediakan sejumlah instrumen dukungan. Fasilitas tersebut antara lain penjaminan dan pembagian risiko melalui PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) serta pembiayaan jangka panjang melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).
Dari sisi perizinan, pemerintah menyediakan integrasi melalui Online Single Submission (OSS). Investor juga dapat memperoleh fasilitas tax holiday dan tax allowance, sementara pengembangan keterampilan tenaga kerja didukung melalui pendidikan vokasi dan fasilitas super deduction untuk biaya pelatihan.
Dihadiri Puluhan Perusahaan Jepang
Minat dari dunia usaha Jepang terlihat dari kehadiran 50 perwakilan dari 36 perusahaan dan institusi. Di antaranya terdapat Toyota Tsusho, Sumitomo Corporation, Obayashi, Shimizu, Penta-Ocean, Tokyu, JR East, Tokyo Metro, Mitsubishi Electric, Mizuho Bank, SMBC, Japan International Cooperation Agency (JICA), dan Japan External Trade Organization (JETRO).
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan memaparkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia kepada peserta forum. Pada semester I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61%, inflasi tercatat 3,34% secara tahunan, sedangkan realisasi investasi telah melampaui Rp1.010 triliun.
Setelah forum bisnis, kegiatan dilanjutkan dengan sesi business matching antara pemilik proyek Indonesia dan calon mitra dari Jepang. KBRI Tokyo menyatakan siap mendampingi calon investor sejak tahap penjajakan hingga tindak lanjut kerja sama.
Masuknya investasi Jepang pada proyek transportasi dan infrastruktur membuka peluang lanjutan bagi berbagai sektor yang berkaitan dengan pembangunan dan pengoperasian proyek. Berdasarkan jenis proyek yang ditawarkan, peluang tersebut mencakup konstruksi, properti dan pengembangan kawasan hunian, perkeretaapian, logistik, pelabuhan, serta bisnis pendukung infrastruktur.