PEKANBARU (RiauInfo) –Memasuki malam kedelapan Ramadan 1447 H, Masjid Al-Jihad yang berlokasi di Jalan Melur, Kota Pekanbaru, dipadati jamaah yang hendak melaksanakan ibadah shalat Tarawih, Rabu (25/2/2026). Dalam kesempatan tersebut, penceramah Ustadz Dr. M. Fitriyadi, MA, menekankan bahwa sholat bukan sekadar kewajiban rutinitas, melainkan momentum sakral pertemuan antara seorang hamba dengan Allah SWT.
Inti dari ceramah tersebut menyoroti bagaimana penghayatan terhadap sholat dapat menjadi benteng moral bagi umat Muslim. Menurut Ustadz Fitriyadi, sholat yang dilakukan dengan penuh kesadaran sebagai bentuk "perjumpaan" dengan Pencipta secara otomatis akan menghindarkan seseorang dari perbuatan jahat dan maksiat dalam kehidupan sehari-hari.
Ustadz Dr. M. Fitriyadi, MA, menjelaskan bahwa sholat yang khusyuk memiliki korelasi positif terhadap perilaku sosial. Hal ini merujuk pada firman Allah dalam Surah Al-Ankabut yang menegaskan bahwa sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. "Jika kita menghayati sholat sebagai pertemuan dengan Rabb, maka sholat tersebut akan menjadi kontrol bagi seluruh perbuatan kita," ujarnya di hadapan jamaah.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa terdapat setidaknya 33 langkah teknis untuk mencapai derajat khusyuk dalam ibadah. Salah satu langkah paling krusial adalah memahami setiap kata yang diucapkan dalam bacaan sholat. Tanpa pemahaman, sholat berisiko menjadi gerakan mekanis yang kehilangan ruh spiritualnya.
Dalam tausiyahnya, penceramah juga mengutip hadis “As-salatu Mirajul Mukminin” yang memaknai sholat sebagai mikrajnya orang beriman. Ia mengingatkan bahwa Allah hanya menerima sholat dari hamba-hamba-Nya yang bersikap tawadhu (rendah hati) dan menjauhkan diri dari sifat sombong.
Disiplin Waktu dan Dialog dalam Sholat
Terkait teknis pelaksanaan, Ustadz Fitriyadi merinci kembali pentingnya disiplin waktu sholat di wilayah Pekanbaru. Ia mencontohkan rentang waktu Subuh yang dimulai dari fajar hingga terbitnya matahari sekitar pukul 05:00-06:22 WIB, serta pembagian waktu Zuhur dan Asar yang harus dijaga sebagai bentuk komitmen janji kepada Allah.
Kesadaran akan pertemuan dengan Tuhan ini, lanjutnya, sudah dimulai sejak doa iftitah dikumandangkan dan berlanjut pada dialog batin dalam Surah Al-Fatihah. Sholat yang terjaga waktunya dan dipahami maknanya akan menciptakan kesadaran bahwa manusia selalu berada dalam pengawasan Allah berulang kali dalam sehari.
Suasana di Masjid Al-Jihad malam itu terasa hangat dan interaktif. Di penghujung ceramah, Ustadz Fitriyadi mengadakan kuis ringan untuk menguji pemahaman jamaah. Pertanyaan seperti "Apa manfaat shalat khusyuk di luar waktu shalat?" dijawab dengan tepat oleh seorang jamaah remaja dengan jawaban “Mencegah perbuatan keji dan mungkar.”
Petugas Ibadah Malam Kedelapan
Rangkaian ibadah pada malam kedelapan Ramadan ini dipandu oleh Azarine K. Azlen selaku pembawa acara (MC). Sebelum memasuki Sholat Tarawih, program Fastabiqul Khairat terlebih dahulu dibawakan oleh Meifendri S.Ag untuk memberikan motivasi sedekah dan infak kepada jamaah yang hadir.
Pelaksanaan shalat Tarawih sendiri dipimpin oleh Imam Irham S.Sy, dengan Gibran bertugas sebagai Bilal. Lantunan ayat suci Al-Quran dari sang imam diiringi hujan lebat menambah kekhusyukan suasana di masjid yang menjadi salah satu pusat kegiatan ibadah di kawasan Jalan Melur tersebut.