PWI Riau Gelar Buka Puasa Bersama UAS, Tekankan Integritas Wartawan Melalui Amalan Ramadhan

PWI Riau Gelar Buka Puasa Bersama UAS, Tekankan Integritas Wartawan Melalui Amalan Ramadhan
Ustadz Abdul Somad memberikan tausiyah di hadapan pengurus dan anggota PWI Riau, Forkopimda Riau dan Mitra PWI Riau, Selasa 10 Maret 2026 di Kantor PWI Riau.

PEKANBARU (RiauInfo) – Keluarga Besar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Riau bersama Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) menggelar acara buka puasa bersama mitra kerja di Kota Pekanbaru, Selasa (10/3/2026). Kegiatan yang mengusung tema "Ramadhan Berkah, Ciptakan Wartawan Berintegritas" ini menghadirkan pendakwah kondang Ustadz Abdul Somad (UAS) untuk memberikan tausiyah agama di hadapan pengurus dan anggota PWI.

Dalam ceramahnya, Ustadz Abdul Somad memaparkan tujuh amalan utama di bulan Ramadhan yang dapat membentuk karakter wartawan berintegritas. Amalan pertama adalah I’tikaf yang dimulai pada jam 1 malam untuk menghaluskan rasa, diikuti dengan membayar zakat fitrah sebagai upaya menghaluskan hati dan membantu sesama.

UAS juga menekankan pentingnya menyempurnakan bilangan Ramadhan, baik 29 maupun 30 hari, serta memperbanyak takbir untuk menguatkan jiwa. Amalan berikutnya mencakup pelaksanaan Sholat Idul Fitri hingga mendengarkan khutbah, tradisi bermaaf-maafan untuk membersihkan hubungan antarmanusia, serta ditutup dengan ibadah puasa enam hari di bulan Syawal.

Peran Strategis Wartawan dalam Opini Publik

Terkait profesi kewartawanan, UAS menyoroti bahwa opini publik saat ini sangat dipengaruhi oleh apa yang dipublikasikan, bukan sekadar opini yang berkembang secara alami. Wartawan dinilai memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk pola pikir masyarakat melalui produk jurnalistik yang mereka hasilkan setiap hari.

"Penting bagi wartawan untuk memiliki integritas tinggi guna menyelamatkan masyarakat dari informasi yang salah," ujar UAS. Ia menambahkan bahwa integritas spiritual yang dibangun selama Ramadhan harus tercermin dalam kejujuran informasi yang disampaikan kepada khalayak luas.

Metode Hilal dan Tradisi Syawal

Dalam sesi edukasi agama, UAS menjelaskan perbedaan metode penentuan awal Ramadhan, di mana Muhammadiyah menggunakan kalender global internasional, sementara NU menggunakan metode lokal di setiap provinsi. Ia juga membandingkan dengan Malaysia yang menggunakan satu teropong terpusat untuk menentukan awal bulan suci secara nasional.

Mengenai Idul Fitri, puncaknya adalah mendengarkan khutbah, bukan sekadar melaksanakan Sholat Idul Fitri. Bahkan, perempuan yang sedang berhalangan tetap dianjurkan keluar rumah untuk mendengarkan pesan-pesan dalam khutbah tersebut agar mendapatkan keberkahan hari kemenangan.

Silaturahmi dan Nilai Tradisi

UAS juga mengingatkan pentingnya menghormati orang tua selagi masih hidup dan menjaga tradisi baik seperti Mandi Belimau sebagai simbol pembersihan diri. Di penghujung tausiyah, ia mengajak insan pers untuk mengejar malam Lailatul Qadar pada 10 malam terakhir Ramadhan yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, di antaranya Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang dan jajaran Forkopimda Provinsi Riau. Kehadiran para pimpinan daerah ini menunjukkan sinergi yang kuat antara pers dan pemerintah dalam menjaga kondusivitas informasi di Bumi Lancang Kuning.

Turut hadir mitra strategis PWI Riau dari berbagai sektor, seperti SKK Migas, RAPP, BRK Syariah, EMP, serta perusahaan mitra lainnya. Dukungan para mitra ini menjadi bukti apresiasi terhadap peran pers dalam mendukung pembangunan daerah melalui pemberitaan yang konstruktif.

Selain pengurus PWI Riau, acara ini juga diramaikan oleh Ketua PWI Kabupaten/Kota se-Provinsi Riau beserta anggota. Kebersamaan ini diharapkan dapat mempererat tali silaturahmi antar-insan pers di Riau sekaligus memperkuat komitmen terhadap kode etik jurnalistik.

 

 

 

Berita Lainnya

Index