PEKANBARU (RiauInfo) – Malam kesebelas Ramadan 1447 Hijriah, jemaah terlihat masih memadati Masjid Al-Jihad, Jalan Melur, untuk melaksanakan sholat Tarawih berjemaah sekaligus mendengarkan siraman rohani tentang hakikat takdir dalam Islam, Sabtu (28/2/2026).
Penceramah pada malam tersebut, Ustadz Arsyad Ahmad, S.Sos, M.Pd., menyampaikan tausiyah mendalam mengenai rukun iman keenam, yakni iman kepada Qada dan Qadar.
Ustadz Arsyad mengawali ceramahnya dengan mengisahkan dialog antara seorang murid dan gurunya yang cukup menggelitik pikiran. Sang murid mengajukan tiga pertanyaan kritis, yaitu:
- Kalau Allah itu ada tolong tunjukkan
- Bukankan setan dan iblis terbuat dari api, mengapa dimasukkan ke dalam neraka
- Apa Itu takdir
Menjawab pertanyaan tentang takdir, sang guru memberikan analogi sederhana namun telak dengan bertanya apakah sang murid bermimpi akan ditampar pada hari itu. Ketika murid menjawab tidak, sang guru menjelaskan bahwa ketidaktahuan manusia akan masa depan dan terjadinya sesuatu di luar rencana manusia itulah yang disebut ketetapan Allah.
Memahami Takdir Mubram dan Muallaq
Lebih lanjut, Ustadz Arsyad membedah perbedaan antara Qada dan Qadar agar jemaah memiliki pemahaman yang komprehensif. Ia menjelaskan bahwa Qada merupakan ketetapan Allah yang bersifat mutlak atau dikenal dengan istilah Takdir Mubram, yang tidak dapat diubah oleh campur tangan manusia.
"Contoh dari Takdir Mubram ini adalah kematian. Tidak ada satu pun manusia yang bisa memajukan atau menunda ajal jika masanya telah tiba," ujar Ustadz Arsyad di hadapan jemaah yang menyimak dengan khidmat.
Sementara itu, Qadar adalah realisasi dari ketetapan Allah yang sifatnya bisa diusahakan melalui ikhtiar, atau disebut Takdir Muallaq. Hal-hal yang masuk dalam kategori ini antara lain adalah kesehatan, tingkat kecerdasan, hingga urusan rezeki yang sangat bergantung pada usaha maksimal hamba-Nya.
Menariknya, ia juga menyinggung bahwa urusan memilih dan mendapatkan pasangan hidup atau jodoh termasuk ke dalam kategori Takdir Muallaq. Hal ini menegaskan bahwa manusia diberikan ruang oleh Allah untuk berusaha mencari pasangan yang terbaik melalui jalur yang di ridhoi.
Sikap Muslim Terhadap Ketetapan Allah
Dalam menyikapi takdir, Ustadz Arsyad menekankan tiga poin utama bagi seorang Muslim.
- Pertama adalah bersikap tabah dan sabar saat menghadapi ujian,
- Kedua adalah senantiasa bersyukur ketika menerima nikmat, dan
- Ketiga adalah bertawakal secara penuh setelah melakukan usaha maksimal.
Ia kemudian mengilustrasikan pentingnya ikhtiar dengan merujuk pada kisah kepemimpinan Umar bin Khattab. Saat itu, Khalifah Umar memutuskan untuk membatalkan perjalanan menuju Syam yang sedang dilanda wabah dan memilih kembali ke Madinah sebagai bentuk menghindari takdir buruk menuju takdir yang lebih baik.
"Kisah ini mengajarkan kita bahwa takdir bukanlah alasan untuk berdiam diri. Kita wajib berikhtiar menghindari bahaya dan penyakit, karena usaha tersebut adalah bagian dari menjalankan perintah Allah," tambahnya lagi.
Agenda Ramadhan Masjid Al-Jihad
Rangkaian ibadah malam tersebut dipandu oleh Citra Anggraini selaku pembawa acara (MC). Sebelum memasuki waktu sholat Tarawih, suasana masjid diisi dengan program Fastabiqul Khairat yang dipandu oleh Sugeng Wiyono tentang program Masjid Al-Jihad yaitu pemenuhan kebutuhan malam Ramadhan dan realisasi Al-Jihad Mart.
Pelaksanaan sholat Tarawih sendiri berlangsung dengan khusyuk di bawah pimpinan Imam Irham, S.Sy., dan didampingi oleh Muhammad Sabirin yang bertugas sebagai Bilal. Jemaah tampak tertib mengikuti setiap rakaat hingga selesainya rangkaian ibadah di malam kesepuluh menuju kesebelas Ramadan tersebut.