Ikhlas Sebagai Fondasi dan Ruh Amal, Ustadz Abbas Ingatkan Jemaah Masjid Al-Jihad Pentingnya Memurnikan Niat

Ikhlas Sebagai Fondasi dan Ruh Amal, Ustadz Abbas Ingatkan Jemaah Masjid Al-Jihad Pentingnya Memurnikan Niat
Ustadz Abbas, S.Pd.I

PEKANBARU (RiauInfo) – Suasana religius menyelimuti Masjid Al-Jihad, Jalan Melur, Kota Pekanbaru, saat jemaah berkumpul untuk menunaikan ibadah salat tarawih malam keempat Ramadhan 1447 Hijriah, Sabtu (21/2/2026). Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Abbas, S.Pd.I, menyampaikan pesan mendalam mengenai urgensi sifat ikhlas sebagai pondasi sekaligus ruh dalam setiap amal ibadah yang dilakukan seorang muslim.

Ustadz Abbas menegaskan bahwa ikhlas bukan sekadar kata, melainkan sebuah proses pembersihan niat yang sangat mendalam. Secara etimologi, ikhlas berasal dari kata Kholasho, yang menggambarkan seseorang (Akhlasho) yang bersungguh-sungguh dalam mewujudkan niatnya tanpa mencampurkan dengan kepentingan atau motivasi lain.

Menurut Ustadz Abbas, seseorang baru dikatakan ikhlas apabila telah mampu memurnikan niatnya secara total. Hal ini berarti hati harus benar-benar bersih dari penyakit syirik kecil maupun riya, yakni keinginan untuk dipuji oleh sesama manusia saat melakukan kebaikan.

Membangun Fondasi “Lillahi Ta’ala” 

"Setiap yang kita lakukan di dunia ini harus berprinsip Lillahi Ta’ala, hanya karena Allah semata," ujar Ustadz Abbas di hadapan jemaah yang menyimak dengan khidmat. Beliau menekankan bahwa jika segala sesuatu sudah disandarkan kepada Allah, maka itulah esensi sejati dari keikhlasan.

Beliau memaparkan contoh nyata dalam ibadah keseharian, seperti membayar zakat, menjalankan ibadah puasa, hingga mendirikan salat. Semua rangkaian ibadah tersebut tidak akan memiliki nilai di sisi Tuhan jika tidak didasari oleh ketulusan yang murni tanpa mengharapkan imbalan duniawi.

Keunikan Surat Al-Ikhlas 

Dalam tausiyahnya, Ustadz Abbas memberikan ilustrasi unik mengenai makna ikhlas melalui struktur Al-Qur'an. Ia menjelaskan bahwa Al-Qur'an terdiri dari 114 surat, di mana biasanya nama surat sering kali diulang atau disebut di dalam ayat-ayat surat tersebut.

"Namun, ada hal menarik pada Surat Al-Ikhlas. Meskipun dinamakan Al-Ikhlas, tidak ada satu pun ayat di dalam surat tersebut yang menyebutkan kata 'ikhlas' secara eksplisit," ungkapnya. Hal ini menjadi simbol kuat bahwa ikhlas memang tidak perlu diucapkan atau dipamerkan.

Ustadz Abbas menambahkan bahwa Allah SWT menginginkan hamba-Nya memahami bahwa jika seseorang sudah benar-benar ikhlas, maka ia tidak perlu lagi menyebut-nyebut atau membunyikan amalannya. Ikhlas adalah bentuk hablumminallah (hubungan dengan Allah), bukan hablumminannas (hubungan dengan manusia).

Kondisi tersebut menggambarkan bahwa hanya individu tersebut dan Allah saja yang mengetahui kadar ketulusan hati seseorang. Ikhlas berarti tidak lagi mengharapkan pandangan, pujian, atau penilaian positif dari manusia, melainkan cukup dengan pengawasan Sang Pencipta.

Antusiasme Ibadah di Masjid Al-Jihad

Meski telah memasuki malam keempat, semangat masyarakat sekitar Jalan Melur untuk memakmurkan masjid tetap tinggi. Jemaah terlihat mengisi saf-saf yang tersedia, menunjukkan antusiasme yang konsisten dalam menjalankan rangkaian ibadah di bulan suci Ramadhan 1447 H ini.

Fastabiqul Khairat dipimpin oleh Drs. Wan Amhar, membangkitkan semangat infaq dan sedekah jemaah untuk berlomba-lomba menuju kebaikan. Mesjid Al-Jihad masih membutuhkan/kekurangan dana 4 hari operasional untuk malam ramadhan selanjutnya.

Ibadah salat Tarawih yang dipimpin oleh imam M. Rizki Ramadhan dengan bilal tarawih Wan Darel di Masjid Al-Jihad pun berlangsung dengan lancar dan tertib hingga usai.

#ramadhan

Index

Berita Lainnya

Index