Malam Ketiga Tarawih di Masjid Al-Jihad Pekanbaru, Ustadz Ridwan Bedah Hakikat Ikhlas dalam Beragama

Malam Ketiga Tarawih di Masjid Al-Jihad Pekanbaru, Ustadz Ridwan Bedah Hakikat Ikhlas dalam Beragama
Ustadz Ridwan, M.Sy

PEKANBARU (RiauInfo) – Jemaah tarawih memenuhi Masjid Al-Jihad yang berlokasi di Jalan Melur, Kecamatan Sukajadi, Kota Pekanbaru, untuk menunaikan ibadah salat Tarawih malam ketiga, Jumat (20/2/2026). Momentum Ramadhan 1447 H ini dimanfaatkan warga untuk memperdalam spiritualitas melalui ceramah agama.

Hadir sebagai penceramah, Ustadz Ridwan, M.Sy, yang menyampaikan materi bertajuk "Ikhlas dalam Beragama".

Dalam paparannya, ia menekankan bahwa ikhlas bukan sekadar kata-kata, melainkan sebuah dimensi spiritual yang sangat dalam dan personal antara hamba dengan Allah, Sang Pencipta.

Ustadz Ridwan menjelaskan bahwa menurut konsep Rasulullah SAW, ikhlas merupakan salah satu rahasia besar Allah Subhanahu wa Taala. Rahasia tersebut dititipkan langsung ke dalam lubuk hati manusia yang paling dalam, sehingga tidak ada satu pun makhluk yang mengetahuinya kecuali orang itu sendiri dan Allah.

Kemurnian Niat Tanpa Campuran

"Ikhlas itu sifatnya murni. Ia tidak boleh bercampur dengan kepentingan atau tendensi lain," ujar Ustadz Ridwan di hadapan jemaah yang menyimak dengan khidmat. Ia memberikan ilustrasi sederhana mengenai ibadah salat yang sedang dijalankan para jemaah malam itu.

Menurutnya, sebuah aktivitas seperti salat baru benar-benar bernilai ibadah jika dilakukan dengan murni. Ikhlas berarti tidak membiarkan pemikiran-pemikiran duniawi atau keinginan untuk dipuji (riya) masuk dan mengeruhkan kekhusyukan saat menghadap Allah.

Lebih lanjut, ia membedah bahwa sebuah aktivitas dapat dikategorikan sebagai amal yang ikhlas apabila memenuhi enam unsur kebenaran. Poin-poin ini menjadi parameter bagi setiap muslim untuk mengukur sejauh mana kemurnian amal ibadahnya sehari-hari.

Enam Parameter Kebenaran dalam Ikhlas

Unsur pertama adalah benar dalam berkata-kata. Ustadz Ridwan menyebutkan bahwa lisan yang jujur merupakan cerminan dari hati yang bersih. Kedua, adalah benar dalam berniat, di mana segala sesuatu harus bermuara hanya untuk mengharap rida Allah SWT.

Ketiga dan keempat adalah benar dalam bercita-cita serta benar dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Hal ini berkaitan dengan ambisi hidup seorang muslim yang harus selaras dengan syariat, bukan sekadar memuaskan nafsu atau egosektoral.

Selanjutnya, poin kelima adalah benar dalam bekerja. Ikhlas bukan berarti pasif, melainkan melakukan ikhtiar atau usaha dengan cara-cara yang halal dan profesional. Terakhir, poin keenam adalah benar dalam menyerahkan hasil.

Berserah Diri Sepenuhnya

"Setelah usaha maksimal dilakukan, maka tahap terakhir dari keikhlasan adalah tawakal atau benar dalam menyerahkan hasil kepada Allah," tambah Ustadz Ridwan. Ia mengingatkan agar manusia tidak merasa memiliki kuasa penuh atas hasil akhir dari sebuah pekerjaan.

Suasana di Masjid Al-Jihad tampak sejuk dan tertib. Para jemaah, mulai dari orang tua hingga remaja, terlihat antusias mencatat poin-poin penting yang disampaikan. Struktur bangunan masjid yang terbuka menambah kenyamanan udara malam di tengah padatnya jemaah.

Kegiatan dakwah rutin di bulan Ramadhan ini diharapkan menjadi bekal bagi masyarakat Pekanbaru khususnya masyarakat sekitar Mesjid Al-Jihad untuk memperbaiki kualitas ibadah. Tidak hanya secara kuantitas, namun lebih ditekankan pada aspek esensial seperti keikhlasan hati.

#ramadhan

Index

Berita Lainnya

Index