Pesan di Tarawih Kedua: Ustadz Abdul Haris Domo Ingatkan Bahaya Penyakit Hati dan Kesombongan

Pesan di Tarawih Kedua: Ustadz Abdul Haris Domo Ingatkan Bahaya Penyakit Hati dan Kesombongan
Ustadz Abdul Haris Domo, MA

PEKANBARU (RiauInfo) – Suasana khidmat menyelimuti pelaksanaan salat Tarawih malam kedua Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Jihad, Jalan Melur, Kota Pekanbaru, Kamis (19/2/2026). Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Abdul Haris Domo, MA, menyampaikan pesan menyentuh mengenai pentingnya menjaga hati dari penyakit sombong dan riya agar ibadah puasa serta amalan lainnya diterima oleh Allah SWT.

Ustadz Abdul Haris Domo mengawali ceramahnya dengan menyoroti fenomena kesombongan yang sering muncul ketika seseorang diberikan limpahan harta oleh Sang Pencipta. Ia mengingatkan bahwa harta benda hanyalah titipan sementara yang tidak akan menyertai manusia hingga ke liang lahat.

"Manusia tidak membawa harta saat meninggal dunia, hanya kain kafan dan amal ibadah. Lantas, apa yang patut disombongkan di hadapan Allah?" ujar Ustadz Abdul Haris di hadapan ratusan jamaah yang memadati ruang utama masjid.

Penyakit Hati Menurut Imam Al-Ghazali 

Merujuk pada pemikiran tokoh besar Islam, Imam Al-Ghazali, sang ustadz menjelaskan bahwa sombong merupakan salah satu penyakit hati yang paling berbahaya. Penyakit ini seringkali tidak disadari namun dapat menggerogoti nilai-nilai kemanusiaan dan ketaatan seseorang.

Selain kesombongan, bahaya riya dalam beribadah juga menjadi poin penting dalam tausiyah malam itu. Riya didefinisikan sebagai sikap beramal seolah-olah ditujukan kepada Allah, padahal di dalam hati mengharapkan pujian atau pengakuan dari sesama manusia.

Beliau mengutip peringatan Rasulullah SAW tentang adanya golongan umat yang beribadah secara lisan seolah karena Allah, namun hatinya justru berpaling. Kondisi ini menunjukkan adanya ketidaksinkronan antara ucapan dan niat terdalam seseorang.

Filosofi Kelapa dan Jengkol

Struktur keikhlasan dalam beribadah dijelaskan secara menarik melalui analogi "Perjuangan Kelapa". Ustadz Abdul Haris menggambarkan betapa panjang proses yang dilalui sebutir kelapa, mulai dari dipetik, dikupas, hingga diperas menjadi santan yang bermanfaat.

"Kelapa berjuang melalui berbagai tahapan penderitaan tanpa pernah disebut-sebut kehebatannya, namun manfaatnya dirasakan semua orang," tuturnya. Hal ini menjadi simbol dari sebuah keikhlasan yang murni, di mana amal dilakukan tanpa perlu dipublikasikan.

Ia kemudian membandingkannya dengan analogi jengkol yang secara kontras seringkali langsung "tercium" atau disebut-sebut (sebagai gulai jengkol, padahal baru masuk) meskipun prosesnya tidak serumit kelapa. Perbandingan ini menjadi pengingat bagi jamaah agar tidak mudah memamerkan kebaikan yang baru saja dilakukan.

Urgensi Membersihkan Hati

Melalui mimbar Masjid Al-Jihad, ditegaskan pula bahwa Allah SWT senantiasa memerintahkan hamba-Nya untuk membersihkan diri, terutama kebersihan hati. Penyakit hati seperti iri, dengki, dan sombong harus segera dibuang agar ibadah sholat dan puasa memiliki nilai di mata Tuhan.

Ustadz Abdul Haris juga berpesan agar jamaah tidak terjebak pada sikap menghakimi atau menyalahkan kualitas ibadah orang lain. Menurutnya, seringkali kritikan tajam terhadap ibadah orang lain justru bersumber dari kondisi hati si pengkritik yang sedang tidak beres.

Pelaksanaan Tarawih kedua ini berjalan dengan tertib dan lancar. Kehadiran jamaah yang cukup ramai menunjukkan antusiasme masyarakat sekitar Jalan Melur dalam menghidupkan malam-malam awal di bulan suci Ramadhan 1447 H.

#ramadhan

Index

Berita Lainnya

Index