PEKANBARU (RiauInfo) – Hubungan harmonis antara insan pers dan industri hulu minyak dan gas bumi (migas) di Provinsi Riau memasuki babak baru yang lebih solid. Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau melakukan kunjungan audiensi hangat ke Kantor SKK Migas Perwakilan Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) di Gedung Merah Putih Telkom, Pekanbaru, Selasa (13/1/2026).
Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi PWI Riau untuk menegaskan bersatunya kembali organisasi profesi tertua di Indonesia tersebut pasca berakhirnya dualisme. Selain silaturahmi, kehadiran jajaran pengurus ini juga bertujuan mematangkan dukungan strategis untuk menyukseskan perhelatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang mengusung nilai-nilai kebangsaan.
Ketua PWI Riau, Raja Isyam Azwar, menyampaikan kabar baik mengenai proses rekonsiliasi yang telah rampung melalui Kongres Persatuan empat bulan lalu. Kini, seluruh elemen PWI telah menandatangani pakta integritas untuk kembali fokus pada perjuangan jurnalisme yang sehat dan independen di Bumi Lancang Kuning.
"Kami sampaikan bahwa di Riau sudah tidak ada lagi dualisme. PWI kini lebih kuat dan siap memberikan kontribusi terbaik bagi negeri melalui pemberitaan yang objektif. Kami berharap kemitraan dengan SKK Migas yang sudah terjalin lama dapat terus berlanjut dengan prinsip win-win solution," ujar Raja Isyam dengan nada optimis.
Sebagai ujung tombak pers di daerah, PWI Riau tengah menyiapkan rangkaian agenda padat untuk menyambut HPN 2026. Program yang diusung kali ini, mulai dari mengikuti retreat patriotisme bagi seluruh Ketua PWI se-Indonesia di Magelang hingga kegiatan Kemah Kebudayaan di wilayah masyarakat adat Badui.
Selain itu, PWI Riau juga mengawal penganugerahan Press Card Number One (PCNO) bagi wartawan senior asal Riau yang telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia pers. Partisipasi aktif dalam forum-forum tokoh pers nasional juga menjadi prioritas utama untuk memastikan suara jurnalis Riau terdengar di level pusat.
Menanggapi paparan tersebut, Kepala SKK Migas Sumbagut, CW Wicaksono yang akrab disapa Tony, menyambut positif semangat persatuan PWI. Ia menekankan bahwa peran wartawan sangat krusial dalam mengedukasi publik, terutama untuk meluruskan pemahaman mengenai karakteristik industri hulu migas.
Tony mengakui bahwa hingga saat ini masih terdapat miskonsepsi di tengah masyarakat, bahkan di kalangan pejabat daerah, yang sering menyamakan industri migas dengan sektor tambang lain seperti batu bara atau sawit. Padahal, industri migas memiliki risiko tinggi dan skema operasional yang jauh berbeda.
"Migas itu punya rencana jangka panjang 20 sampai 30 tahun. Tantangannya besar, namun kontribusinya bagi ekonomi makro sangat vital. Di sinilah kami butuh media sebagai jembatan informasi untuk menghilangkan salah paham melalui edukasi yang tepat dan akurat," ungkap Tony.
Komitmen Keterbukaan Informasi
Dalam pertemuan yang berlangsung cair tersebut, SKK Migas juga menegaskan komitmennya terhadap keterbukaan informasi. Tony mengundang para jurnalis untuk melihat langsung operasional di lapangan, mulai dari sumur bor hingga fasilitas pengolahan, guna membangun kepercayaan (trust) antara pelaku industri dan masyarakat.
"Kami terbuka bagi semua kawan-kawan wartawan untuk datang dan berdiskusi. Gesekan kecil di lapangan justru tanda kita semakin dekat, yang terpenting adalah proses saling memahami dan menghormati satu sama lain," tambah Tony yang saat itu didampingi oleh Yanin Kholison beserta tim Humas SKK Migas Sumbagut.

Audiensi selama satu jam ini diakhiri dengan foto bersama dan komitmen untuk menjaga iklim investasi yang kondusif di Riau melalui sinergi informasi. Turut hadir mendampingi Raja Isyam antara lain Sekretaris N Doni Dwi Putra, Bendahara Anthony Harry, Ketua Panitia HPN 2026 Syarief Dayan, serta sejumlah pengurus inti lainnya seperti Bambang Irawan Syahputra, Luna Agustin, Jinto Lumban Gaol, dan Budi Satria.