Oleh: Selvia Nurohmah, 2310103023, Universitas Islam Tazkia
Dua Prinsip dalam Satu Penampilan
Dalam industri kecantikan global, kita di hadapkan dalam dua pilihan yaitu “Clean Beauty” yang berdasarkan pada gerakan wellness dan sains, sedangkan “Halal Beauty” berdasarkan pada kepatuhan pada prinsip agama. Meskipun terlihat sama, namun kedua prinsip ini memiliki arah yang tidak sama. Karena hal ini lah seringkali remaja Muslim merasa kebingungan antara lebih penting keselamatan kimia atau kepatuhan spiritual?
Clean Beauty: Antara Kepastian dan Ketidakjelasan
Dalam prinsip “Clean Beauty” bahan-bahan yang digunakan dinyatakan bebas dari paraben, SLS, dan Sulfat. Walaupun demikian, perlu diperhatikan bahwa ternyata belum ada strandar global tentang atura yang menentukan apa yang dianggap “bersih”, namun dipertimbangkan berdasarkan interpretasi yang dibuat oleh masing-masing merek. Hal ini justru yang menjadi salah satu masalah dalam klaim produk-produk clean beauty.
Produk dengan kandungan alkohol jenis tertentu, contohnya cetyl alcohol, yang dianggap aman oleh pecinta kebersihan alami, dapat menjadi kontroversial dari perspektif halal. Sebaliknya, ada beberapa komposisi yang benar-benar bebas alkohol, tetapi malah menggunakan pengawet sintetis, yang menjadi polemik dan diperdebatkan oleh ahli dermatologi.
Halal Beauty: Suci Secara Spiritual, Bagaimana dengan Kimia?
Halal beauty mengacu pada hukum Islam yaitu adanya sertifikasi halal dengan prosedur yang kompleks dan terstruktur, dimulai dari larangan penggunaan bahan yang berasal dari hewan yang diharamkan dan juga berasal dari alkohol dan khamr, serta bahan yang terbebas dari najis. Tetapi, perlu diperhatikan lagi jaminan keamanan formula ini dapat selaras dengan standar halal.
Salah satu produk yang sudah bersertifikasi halal, namun masih menjadi pertimbangan bagi masyarakat yaitu lipstik matte tahan lama. Yang menjadi pertimbangannya yaitu bagaimana pandangan fiqh tentang ini, dengan bahan-bahan yang halal dan komposisi yang tahan air. Dengan pertimbangan apabila formula-formula itu sesuai dengan syarat-syarat sertifikasi halal, kepatuhan halal, kinerja produk, dan keselamatan bahan yang digunakan.
Titik Benturan: Ujian Alkohol dan Etika
Penggunaan alkohol dan bahan turunan lainnya sebagai salah satu tambahan untuk skincare atau makeup menjadi salah satu konflik besar dalam dunia industri. Untuk “Halal Beauty” harus jelas jenis alkohol apa yang digunakan dan berasal dari mana alkohol ini, apabila alkohol ini berasal dari hasil fermentasi khamr, maka sudah jelas tidak boleh digunakan. Dalam dunia “Clean Beauty” mereka mengizinkan penggunaan alkohol dengan strandar tertentu, seperti alkohol ini di anggap aman dan alami.
Beberapa produk toner atau micelar water mengandung alkohol untuk calming atau menyegarkan yang berfungsi sebagai pengawet. Clean Beauty mungkin menghindari alkohol tertentu. Halal Beauty harus memastikan bahwa alkohol yang digunakan tidak berasal dari bahan haram. Di titik ini, konsumen harus lebih berhati-hati karena sertifikasi halal produk kecantikan kulit tidak selalu menunjukkan bahan kimia apa yang ada dalam daftar bahan.
Masa Depan: Sinergi Murni atau Hanya Pencitraan?
Model bisnis yang memiliki sertifikasi ganda halal, vegan, organik, dan cruelty-free mengadopsi konsep Sinergi Sejati. Metode ini tidak lagi hanya mengatakan bahwa itu "bebas dari". Sebaliknya, itu berkonsentrasi pada transparansi total, yang mencakup keseluruhan rantai pasokan, dari sumber hingga dampak. Integritas ini tidak hanya mencari label, tetapi juga membangun sistem yang diakui yang menggabungkan keyakinan spiritual (halal), etika (vegan dan tidak beracun), dan keberlanjutan (organik).
Rantai pasokan yang dapat dilacak adalah inti dari sinergi ini. Transparansi tentang asal-usul bahan, produksi, dan proses distribusi memenuhi tuntutan syariat akan kejelasan (bayyinah), sekaligus menjawab skeptisisme konsumen masa kini terhadap klaim semata. Oleh karena itu, terciptalah standar baru: produk yang tidak memaksa pelanggan untuk memilih antara agama dan sains, tetapi menggabungkan kepatuhan spiritual, keamanan ilmiah, dan tanggung jawab lingkungan dalam satu kepercayaan.
Konsumen Berdaulat di Tengah Kebisingan Pasar
Pada akhirnya, pelanggan yang cerdas dan kritis mendapat manfaat dari pertarungan antara Clean Beauty dan Halal Beauty. Kedua inisiatif ini mempromosikan standar yang lebih tinggi. Clean Beauty meminta industri untuk menjadi lebih transparan tentang keamanan bahan dan menghindari greenwashing, sementara Halal Cosmetics menetapkan standar ketat untuk kemurnian proses dan integritas sumber. Kombinasi persyaratan ini menciptakan pasar yang kompetitif di mana hanya merek yang benar-benar berkomitmen pada transparansi dan akuntabilitas yang dapat bertahan. Akibatnya, pelanggan tidak hanya menerima pilihan yang lebih banyak, tetapi mereka juga menerima barang dengan kualitas dan kejelasan yang lebih terjamin.
Industri harus bergerak maju dengan mengadopsi prinsip terbaik dari kedua belah pihak, bukan dengan memilih salah satunya. Prinsip-prinsip ini termasuk formulasi yang lebih aman dan minimalis, transparansi sumber bahan, proses produksi yang etis dan suci, dan komunikasi yang berpendidikan dengan pelanggan. Dengan konvergensi ini, bahan baku baru dan teknologi produksi yang memenuhi standar ganda diciptakan. Dengan menggunakan kedua pendekatan ini, industri dapat memperluas pasar dan membangun merek yang kuat yang sesuai dengan nilai-nilai konsumen kontemporer yang semakin luas.
Sangat penting untuk melakukan pemeriksaan produk yang cermat untuk pelanggan Anda, terutama mereka yang menginginkan harmoni antara prinsip wellness dan spiritual. Logo atau klaim pemasaran tidak cukup. Periksa situs web merek, perhatikan daftar bahan, dan tanyakan pertanyaan mendalam kepada produsen tentang sumber bahan dan prosedur sertifikasi. Pilih merek yang tidak hanya menjual slogan "bersih" atau "suci", tetapi juga dapat membuktikan janji mereka dengan kejujuran, data ilmiah, dan integritas. Industri menuju ke arah yang lebih moral dan bertanggung jawab didorong oleh konsumen yang kritis.
Kecantikan masa depan tidak lagi bergantung pada warna atau tekstur yang paling menarik. Sebaliknya, itu bergantung pada kejelasan yang paling tajam dalam apa yang kita lakukan, tujuan kita, dan bagaimana hal itu berdampak pada kita, iman kita, dan dunia kita. Standar baru ini mewajibkan keterbukaan total dari hulu ke hilir, yang berarti setiap komponen produk dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, kosmetik menjadi lebih dari sekadar rutinitas perawatan diri; ia menjadi pernyataan nilai yang menunjukkan kepedulian terhadap kesehatan diri, kepatuhan pada spiritualitas, dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan Bumi.