Oleh: Muhammad Ikmal Zainurrasyid Rosyadi, Mahasiswa Universitas Tazkia
Fenomena anak muda yang ingin cepat kaya melalui aset berisiko tinggi semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan teknologi finansial, kemudahan akses ke pasar modal, serta masifnya promosi di media sosial mendorong generasi muda untuk berinvestasi pada instrumen seperti saham spekulatif, kripto, derivatif, hingga skema leverage trading. Platform seperti Binance, Tokocrypto, dan Bursa Efek Indonesia mempermudah akses transaksi hanya melalui gawai. Namun, di balik peluang tersebut, terdapat berbagai bias kognitif yang memengaruhi pengambilan keputusan finansial generasi muda.
- Baca Juga Digitalisasi UMKM dan Kesiapan Nyata
Salah satu bias yang dominan adalah overconfidence bias, yaitu kecenderungan individu untuk melebih-lebihkan kemampuan dan pengetahuannya. Anak muda yang baru memperoleh keuntungan dari satu atau dua transaksi cenderung merasa memiliki kemampuan analisis yang unggul. Padahal, keuntungan tersebut bisa jadi dipengaruhi oleh faktor keberuntungan atau kondisi pasar yang sedang bullish. Overconfidence sering membuat investor mengabaikan risiko, melakukan transaksi berlebihan (overtrading), dan kurang melakukan diversifikasi portofolio.
Bias berikutnya adalah herd behavior atau perilaku ikut-ikutan. Dalam era media sosial, keputusan investasi sering kali dipengaruhi oleh tren dan opini influencer. Ketika sebuah aset viral dan banyak diperbincangkan, muncul dorongan psikologis untuk tidak ketinggalan (fear of missing out atau FOMO). Akibatnya, keputusan investasi tidak lagi berbasis analisis fundamental atau manajemen risiko, melainkan pada sentimen kolektif. Fenomena ini sering memicu gelembung harga (asset bubble) yang pada akhirnya berujung pada koreksi tajam dan kerugian besar.
Selain itu, terdapat confirmation bias, yaitu kecenderungan mencari informasi yang mendukung keyakinan awal dan mengabaikan informasi yang bertentangan. Misalnya, ketika seseorang yakin bahwa suatu koin kripto akan naik, ia hanya mengikuti berita dan analisis yang bersifat positif, serta mengabaikan risiko regulasi atau volatilitas ekstrem. Bias ini mempersempit perspektif dan meningkatkan kemungkinan pengambilan keputusan yang tidak rasional.
Availability heuristic juga berperan besar. Anak muda cenderung menilai probabilitas suatu peristiwa berdasarkan contoh yang mudah diingat. Kisah sukses investor muda yang viral di media sosial lebih mudah diakses dalam memori dibandingkan kisah kegagalan yang jarang dipublikasikan. Hal ini menciptakan persepsi bahwa kesuksesan cepat adalah sesuatu yang umum dan mudah dicapai, padahal secara statistik justru sebaliknya.
Dari sudut pandang ekonomi perilaku (behavioral economics), konsep-konsep ini telah banyak dijelaskan oleh tokoh seperti Daniel Kahneman dan Amos Tversky. Dalam karya monumental mereka, Thinking, Fast and Slow, dijelaskan bahwa manusia sering menggunakan sistem berpikir cepat (System 1) yang intuitif dan emosional dalam mengambil keputusan, termasuk keputusan finansial. Pada konteks investasi berisiko tinggi, dominasi emosi seperti keserakahan dan ketakutan sering mengalahkan analisis rasional (System 2).
Implikasi dari bias-bias ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada stabilitas pasar secara agregat. Lonjakan partisipasi investor ritel yang kurang memahami risiko dapat meningkatkan volatilitas pasar. Jika terjadi koreksi besar, dampaknya bisa menurunkan kepercayaan publik terhadap sistem keuangan dan memperburuk kondisi ekonomi rumah tangga.
Oleh karena itu, literasi keuangan menjadi faktor kunci. Edukasi mengenai manajemen risiko, diversifikasi, serta pemahaman bahwa investasi adalah proses jangka panjang perlu diperkuat. Institusi pendidikan, regulator, dan pelaku industri perlu mendorong pendekatan yang lebih rasional dan berbasis data. Generasi muda perlu menyadari bahwa kekayaan berkelanjutan umumnya dibangun melalui disiplin, konsistensi, dan strategi jangka panjang, bukan spekulasi ekstrem dalam waktu singkat.
Dengan memahami bias kognitif yang memengaruhi perilaku investasi, anak muda dapat lebih reflektif dalam mengambil keputusan finansial. Kesadaran terhadap keterbatasan psikologis diri sendiri merupakan langkah awal menuju pengelolaan keuangan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Referensi
Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. New York: Farrar, Straus and Giroux.
Tversky, A., & Kahneman, D. (1974). Judgment under Uncertainty: Heuristics and Biases. Science, 185(4157), 1124–1131.
Barber, B. M., & Odean, T. (2001). Boys Will Be Boys: Gender, Overconfidence, and Common Stock Investment. The Quarterly Journal of Economics, 116(1), 261–292.
Shiller, R. J. (2000). Irrational Exuberance. Princeton: Princeton University Press.