JAKARTA (RiauInfo) – Inovasi perlindungan masyarakat berbasis kecerdasan artifisial (AI) bernama SATSPAM, yang dikembangkan oleh Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) bersama Tanla Platforms, berhasil mendapatkan pengakuan internasional. Teknologi penangkal scam dan spam ini resmi diangkat sebagai studi kasus oleh London Business School (LBS), salah satu sekolah bisnis terkemuka di dunia.
Dalam kajiannya, London Business School menyoroti SATSPAM sebagai contoh nyata bagaimana teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk melindungi masyarakat dari ancaman scam digital yang terus berkembang. Studi tersebut juga mengangkat pentingnya kolaborasi antara pelaku industri, pemerintah, regulator, dan pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem perlindungan digital yang lebih kuat, aman, dan terpercaya.
Pengakuan internasional ini turut mencerminkan sinergi yang kuat antara dunia usaha dan pemerintah Indonesia. Dukungan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dinilai sangat krusial dalam menciptakan ekosistem transformasi digital yang kondusif, sehingga inovasi lokal seperti SATSPAM dapat berkembang pesat dan diakui di tingkat global.
Director and Chief Legal and Regulatory Officer Indosat Ooredoo Hutchison sekaligus Chair Global Anti-Scam Alliance (GASA) Indonesia Chapter, Reski Damayanti, menyatakan bahwa pencapaian ini membuktikan kemampuan Indonesia di kancah global. Menurutnya, Indonesia tidak hanya mampu menghadapi tantangan epidemi penipuan digital, tetapi juga menghadirkan inisiatif yang berdampak nyata bagi masyarakat.
"Dari perspektif GASA, SATSPAM merupakan contoh konkret bagaimana kolaborasi antara operator telekomunikasi dan regulator dapat menghasilkan perlindungan yang berdampak sistemik bagi masyarakat. Model kolaborasi seperti inilah yang perlu terus diperluas dan diperkuat bersama stakeholder lain seperti penyedia jasa keuangan, platform digital, aparat penegak hukum, dan pihak terkait lainnya," ujar Reski.
Reski menambahkan, penipuan digital bersifat lintas sektor sehingga upaya perlindungannya pun harus dilakukan secara kolaboratif lintas ekosistem. Pihaknya juga menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan penuh dari Komdigi dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang telah memungkinkan kolaborasi berskala besar ini dapat terwujud dengan baik.
Sejak pertama kali diluncurkan pada Agustus 2025, SATSPAM tercatat telah membantu mendeteksi lebih dari 2 miliar indikasi scam dan spam di jaringan Indosat. Melalui pendekatan berbasis jaringan, sistem canggih ini memanfaatkan teknologi AI untuk menganalisis berbagai sinyal komunikasi secara real-time guna mengenali pola ancaman yang dinamis.
Inovasi ini hadir sebagai solusi mutakhir untuk menjawab tantangan scam dan spam digital yang semakin kompleks di tanah air. Dengan kemampuan deteksi yang mencapai tingkat akurasi di atas 90 persen serta mencakup perlindungan terhadap SMS dan panggilan suara, SATSPAM menjadi salah satu implementasi AI berbasis jaringan dalam skala terbesar.
Berbeda dengan pendekatan konvensional yang umumnya mengandalkan daftar blokir statis, SATSPAM dirancang untuk terus mempelajari pola ancaman baru secara mandiri. Kemampuan adaptasi yang tinggi ini membuat sistem mampu mengantisipasi berbagai modus penipuan digital baru yang gerakannya semakin dinamis dari hari ke hari.
Dukungan Regulator dan Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Perlindungan Masyarakat
Keberhasilan SATSPAM dalam melindungi pelanggan tidak terlepas dari dukungan dan kolaborasi erat bersama regulator. Komdigi berperan memberikan landasan yang memungkinkan pengembangan kapabilitas perlindungan berbasis AI dengan tetap mengedepankan kepatuhan terhadap regulasi, perlindungan data pribadi, serta kepentingan konsumen.
Sinergi kuat ini diwujudkan antara lain melalui Indonesia Anti-Scam Center (IASC). Wadah ini merupakan forum koordinasi lintas lembaga jasa keuangan yang dikoordinasikan oleh OJK dalam Satuan Tugas Aktivitas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) untuk mempercepat penanganan penipuan transaksi keuangan, termasuk pemblokiran rekening dan upaya pemulihan dana korban.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Nezar Patria, menegaskan bahwa pendekatan berbasis AI menjadi semakin penting untuk memperkuat perlindungan masyarakat di ruang digital. Menurutnya, kecepatan perkembangan modus penipuan membuat pendekatan konvensional tidak lagi cukup untuk diandalkan.
"Transformasi digital harus dibangun di atas rasa aman dan kepercayaan publik. Pemanfaatan AI untuk memperkuat perlindungan masyarakat dari scam dan spam merupakan langkah penting dalam menjaga ruang digital Indonesia tetap aman dan terpercaya. Inisiatif yang telah mulai dikembangkan oleh pelaku industri menunjukkan bahwa perlindungan terhadap masyarakat dari scam digital dapat diperkuat langsung di level jaringan telekomunikasi," kata Nezar.
Nezar melanjutkan, keberhasilan inovasi ini menjadi dasar bagi Komdigi untuk mendorong seluruh industri telekomunikasi nasional agar memperkuat sistem keamanannya. Pemerintah berharap seluruh operator dapat membangun sistem anti-scam serupa guna melindungi para pelanggan dari berbagai percobaan penipuan digital di masa depan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen Merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK, Dicky Kartikoyono, juga menyambut baik langkah IOH. Selaku Dewan Pembina Satgas PASTI, ia memandang penguatan perlindungan konsumen keuangan digital wajib dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor yang masif.
"Penipuan digital tidak dapat ditangani oleh satu sektor saja, karena modusnya kerap berawal dari kanal komunikasi dan bermuara pada kerugian finansial masyarakat. Karena itu, OJK melalui IASC akan terus mendorong sinergi untuk memperkuat pencegahan, deteksi, dan respons terhadap penipuan digital," tutur Dicky menjelaskan komitmen lembaga tersebut.
Di tengah meningkatnya kompleksitas ancaman siber, sistem keamanan terpadu ini menunjukkan bahwa pemanfaatan AI yang didukung kemitraan multisektor mampu menjadi fondasi penting bagi masa depan keamanan siber. Pengakuan dari London Business School menegaskan relevansi pendekatan tersebut, sekaligus membuktikan inovasi Indonesia mampu berkontribusi pada diskusi global.