APBN Mei 2026 Defisit Rp180,4 Triliun, Menkeu Tegaskan Kondisi Masih Aman

APBN Mei 2026 Defisit Rp180,4 Triliun, Menkeu Tegaskan Kondisi Masih Aman
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa

JAKARTA (RiauInfo) – Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Mei 2026 mencatatkan defisit sebesar Rp180,4 triliun. Hal tersebut terjadi karena realisasi belanja negara telah mencapai Rp1.365,4 triliun, sedangkan total penerimaan negara yang terkumpul baru menyentuh angka Rp1.185 triliun.

Meskipun mengalami defisit, Pemerintah menegaskan bahwa kondisi keuangan negara saat ini masih berada dalam batas yang aman. Nilai defisit hingga bulan kelima ini baru mencapai 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), angka yang terhitung masih sangat jauh dari target tahunan yang ditetapkan sebesar 2,68 persen atau setara Rp689,1 triliun.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa situasi fiskal ini masih terkendali dengan baik dan berjalan sesuai dengan perencanaan yang ada. Evaluasi berkala terus dilakukan untuk memastikan performa anggaran tetap terjaga hingga akhir tahun.

Tren Positif Pendapatan Negara 

"Kondisi ini masih dalam batas aman karena defisit tersebut baru mencapai 0,70 persen terhadap PDB, yang jauh di bawah target tahunan," ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam laporan realisasi APBN tersebut.

Di sisi lain, sektor pendapatan negara justru menunjukkan performa yang menggembirakan dengan tren pertumbuhan positif. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, total pendapatan negara mengalami pertumbuhan sebesar 19,1 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Pendorong utama dari kenaikan pendapatan ini berasal dari sektor perpajakan yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 22,1 persen. Nilai nominal yang berhasil dikumpulkan dari sektor pajak ini telah menyentuh angka sebesar Rp834,4 triliun.

Selain pajak, komponen penerimaan negara lainnya juga turut menyumbang hasil yang positif bagi kas negara. Penerimaan dari sektor Bea Cukai dilaporkan berhasil mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,7 persen hingga periode Mei 2026.

Pertumbuhan yang cukup baik juga terjadi pada sektor Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang tumbuh sebesar 19,9 persen. Lonjakan paling signifikan terlihat pada sektor Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPNBM) yang melejit hingga 41,3 persen dibanding tahun lalu.

Indikator Perbaikan Ekonomi 

Pemerintah optimistis bahwa kenaikan signifikan pada berbagai komponen pendapatan ini merupakan sinyal positif bagi kondisi finansial nasional. Pertumbuhan pada sektor PPN dan PPNBM secara langsung mencerminkan adanya peningkatan aktivitas konsumsi di tengah masyarakat.

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menambahkan bahwa angka-angka pertumbuhan ini menjadi indikator kuat bahwa roda perekonomian nasional bergerak ke arah yang lebih baik. Pemerintah juga akan terus memantau pergerakan data ini secara saksama dari bulan ke bulan.

"Data pertumbuhan yang cukup kencang ini menjadi bukti nyata bahwa perbaikan ekonomi sedang terjadi di masyarakat dan pemerintah siap memberikan stimulus jika ditemukan kendala," pungkas Purbaya Yudhi Sadewa.

Melalui data realisasi APBN hingga Mei 2026 ini, pemerintah berkomitmen untuk terus menjaga keseimbangan fiskal antara belanja produktif dan optimalisasi pendapatan. Stimulus ekonomi siap dikucurkan kembali kapan saja demi menjaga momentum penguatan ekonomi masyarakat tetap stabil.

 

Berita Lainnya

Index