JAKARTA (RiauInfo) – Sepanjang tahun 2025, PT Astra International Tbk (Astra) kian agresif memperkuat kontribusi sosialnya dengan fokus utama pada pemberdayaan masyarakat desa. Melalui empat pilar utama yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan, Astra berhasil mencatatkan nilai transaksi ekspor produk unggulan desa binaan hingga mencapai Rp411 miliar.
Program ini dirancang tidak hanya sekadar memberikan bantuan sesaat, melainkan menciptakan kemandirian ekonomi dan dampak positif jangka panjang bagi masyarakat di pelosok nusantara. Strategi ini diwujudkan melalui integrasi program unggulan berbasis komunitas, yaitu Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards serta pengembangan Kampung Berseri Astra dan Desa Sejahtera Astra (DSA).
Presiden Direktur Astra, Djony Bunarto Tjondro menegaskan bahwa pendampingan yang konsisten dan kolaboratif menjadi kunci utama keberhasilan program ini. Menurutnya, Astra berupaya menciptakan program unggulan berbasis komunitas desa yang mampu menjawab tantangan hari ini sekaligus masa depan.
"Ketika komunitas memiliki kapasitas, inovasi, dan kesempatan untuk tumbuh melalui penguatan potensi dan kemandirian desa, dampak sosial yang tercipta akan lebih berkelanjutan dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa untuk hari ini dan masa depan Indonesia,” ujar Djony.
Hingga penghujung tahun 2025, Astra telah menjangkau lebih dari 210.426 penerima manfaat di berbagai sektor. Melalui program Desa Sejahtera Astra, perusahaan ini telah mendampingi lebih dari 1.515 kampung dan desa yang tersebar di sejumlah provinsi di Indonesia.
Dalam pelaksanaannya, Astra menggandeng generasi muda penggerak perubahan. Hingga akhir 2025, apresiasi SATU Indonesia Awards telah diberikan kepada 79 penerima tingkat nasional dan 713 penerima tingkat provinsi. Para pemuda inilah yang kemudian diintegrasikan langsung ke dalam ekosistem pembinaan desa.
Diluncurkan sejak 2018, Desa Sejahtera Astra melibatkan kolaborasi lintas sektor mulai dari pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi, komunitas, start-up, hingga Kelompok Usaha Desa (KUD). Fokus pengembangannya terbagi dalam tiga klaster utama: pertanian dan olahannya, kelautan dan perikanan, serta wisata, kriya, dan budaya.
Sektor Kesehatan dan Pendidikan
Pada pilar kesehatan, pendekatan Astra menyentuh langsung kebutuhan dasar ibu, anak, dan remaja. Salah satu contoh nyata terlihat di Desa Sejahtera Astra Rammang-Rammang, Sulawesi Selatan. Di sini, edukasi kesehatan berjalan beriringan dengan pengembangan desa wisata.
Masyarakat setempat dibina untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta pengelolaan sanitasi lingkungan. Hal ini tidak hanya meningkatkan kualitas kesehatan warga, tetapi juga menciptakan rasa aman dan nyaman bagi para wisatawan yang berkunjung ke kawasan tersebut.
Sementara pada pilar pendidikan, fokus diarahkan pada pengembangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang adaptif. Di Desa Sejahtera Astra Bumiaji, Kota Batu, ruang belajar komunitas disulap menjadi pusat literasi. Peran ini dimotori oleh Anjani Sekar Arum, Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2017 Bidang Kewirausahaan.
Anjani mendorong pendekatan pemberdayaan berbasis komunitas agar warga desa dapat tumbuh mandiri dan berinovasi. Langkah ini membuktikan bahwa pendidikan non-formal di tingkat desa mampu melahirkan masyarakat yang berdaya saing secara berkelanjutan.
Penguatan kapasitas juga dilakukan melalui teknologi digital. Seperti yang dilakukan Reza Permadi, Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2023, di Desa Sejahtera Astra Bugisang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Melalui literasi digital, ia membantu memperluas pasar paket wisata edukasi yang berimbas pada kenaikan pendapatan desa sekitar Rp50–60 juta dalam setahun.
Transformasi Mantan Pembalak Liar dan Petani Gula
Kisah inspiratif lainnya datang dari pilar lingkungan. Di Sumatera Barat, Ritno Kurniawan, Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2017 sekaligus Tokoh Penggerak Desa Sejahtera Astra Padang Pariaman, sukses melakukan transformasi sosial yang radikal namun positif.
Ritno berhasil mengubah pola pikir masyarakat dari aktivitas pembalakan liar menjadi pelestari hutan melalui Ekowisata Nyarai. Sekitar 170 warga, di mana 80 persennya adalah mantan pembalak liar, kini beralih profesi menjadi pemandu wisata. Pelestarian hutan pun berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan warga.
Di pilar kewirausahaan, peran Akhmad Sobirin di Desa Sejahtera Astra Semedo, Banyumas, menjadi bukti sukses penguatan ekonomi lokal. Penerima apresiasi tahun 2016 ini berhasil meningkatkan nilai tambah produk gula semut yang sebelumnya dihargai murah.
Kelompok tani yang awalnya hanya beranggotakan 25 orang, kini berkembang pesat menjadi lebih dari 1.500 petani. Nilai jual gula semut yang tadinya hanya Rp2.000–Rp5.000 per kilogram, kini meroket menjadi produk kualitas ekspor dengan harga hingga Rp15.000 per kilogram.
Menembus Pasar Global
Keberhasilan pembinaan ini terbukti dengan tembusnya produk desa ke pasar internasional. Desa Sejahtera Astra Purworejo, Jawa Tengah, sukses mengekspor produk Coffee Wood dan Coconut Rope Dog Chew ke Eropa dan Amerika Serikat dengan nilai transaksi fantastis mencapai Rp43,52 miliar. Capaian ini mendongkrak pendapatan masyarakat hingga 70 persen.
Prestasi serupa dicatatkan Desa Sejahtera Astra Pandeglang, Banten, yang melakukan pelepasan ekspor perdana 5.000 ekor ikan mas sinyonya ke Vietnam. Sementara itu, Desa Sejahtera Astra Bajawa, NTT, berhasil mengekspor 15 ton kopi ke Thailand senilai lebih dari Rp1,65 miliar dengan melibatkan 200 petani lokal.
Capaian gemilang di berbagai wilayah ini menunjukkan bahwa pemberdayaan komunitas yang dilakukan secara konsisten dan berbasis kebutuhan lokal mampu menghadirkan perubahan nyata. Integrasi empat pilar kontribusi sosial Astra telah membangun fondasi ekonomi yang kuat di tingkat tapak.
Astra berkomitmen untuk terus memperkuat pemberdayaan komunitas ini di masa mendatang. Langkah ini selaras dengan cita-cita Astra untuk sejahtera bersama bangsa serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia.