Oleh: Fx Wikan Indrarto, Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM
Perubahan iklim telah memicu darurat kesehatan global, dengan lebih dari 540.000 orang meninggal akibat panas ekstrem setiap tahun dan 1 dari 12 rumah sakit di seluruh dunia berisiko mengalami penutupan terkait perubahan iklim. Apa yang mencemaskan?
Data tersebut terdapat pada laporan bersama yang disusun oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Pemerintah Brasil (Presidensi COP30), dan Kementerian Kesehatan Brasil. COP30 (Konferensi Para Pihak ke-30) adalah bagian dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), yang diadakan di Belém, Brasil, pada 10-21 November 2025.
“Krisis iklim adalah krisis kesehatan, bukan di masa depan yang jauh, tetapi di sini dan saat ini,” ujar Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO. Laporan tersebut menampilkan bukti tentang dampak perubahan iklim terhadap individu dan sistem kesehatan, serta contoh nyata tentang apa yang dapat dilakukan, dan sedang dilakukan, oleh berbagai negara untuk melindungi kesehatan dan memperkuat sistem kesehatan.
Dengan suhu global yang kini melebihi 1,5°C di atas tingkat pra-industri, dunia telah mengalami dampak kesehatan yang semakin meningkat. Sekitar 3,3 hingga 3,6 miliar orang telah tinggal di daerah yang sangat rentan terhadap perubahan iklim, dan rumah sakit menghadapi risiko kerusakan akibat dampak cuaca ekstrem 41% lebih tinggi dibandingkan tahun 1990. Hal ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk memperkuat dan mengadaptasi sistem kesehatan guna melindungi masyarakat dari guncangan terkait iklim.
Tanpa dekarbonisasi yang cepat, jumlah RS yang berisiko dapat berlipat ganda pada pertengahan abad ini, yang menekankan pentingnya penerapan langkah-langkah adaptasi untuk melindungi infrastruktur kesehatan. Sektor kesehatan sendiri menyumbang sekitar 5% emisi gas rumah kaca global dan membutuhkan transisi cepat ke sistem rendah karbon dan berketahanan iklim. Hanya ada 54% rencana adaptasi kesehatan nasional berbagai negara yang terkait dengan risiko perubahan iklim terhadap RS, dan kurang dari 30% penelitian tentang adaptasi RS yang berfokus pada pendapatan, 20% mempertimbangkan gender, dan kurang dari 1% melibatkan penyandang disabilitas.
"Buktinya jelas: melindungi sistem kesehatan adalah salah satu investasi paling cerdas yang dapat dilakukan oleh negara manapun,” kata Profesor Nick Watts, Ketua Kelompok Penasihat Ahli dan Direktur, Pusat Kedokteran Berkelanjutan NUS. Mengalokasikan hanya 7% dari pendanaan adaptasi untuk kesehatan akan melindungi miliaran orang dan menjaga layanan penting di RS tetap beroperasi, selama guncangan iklim dan ketika pasien sangat membutuhkannya.
Ada kemajuan yang sedang dicapai antara tahun 2015 dan 2023, jumlah negara dengan Sistem Peringatan Dini Multi-Bahaya nasional meningkat dua kali lipat menjadi 101, yang kini mencakup sekitar dua pertiga populasi global. Namun, hanya 46% Negara Terbelakang dan 39% Negara Berkembang Kepulauan Kecil yang memiliki sistem tersebut yang efektif.
Kini terdapat lebih dari cukup bukti untuk meningkatkan tindakan, hari ini juga. Intervensi yang hemat biaya dan berdampak tinggi telah tersedia untuk setiap komponen dalam Rencana Aksi Kesehatan Belém Brasil. Namun demikian, strategi adaptasi pada akhirnya dapat gagal, kecuali jika strategi tersebut mengatasi akar penyebab kesenjangan derajat kesehatan, baik di dalam sistem kesehatan maupun di seluruh masyarakat.
Rencana Aksi Kesehatan Belém Brasil menyerukan kepada setiap pemerintah untuk pertama, mengintegrasikan tujuan pembangunan bidang kesehatan ke dalam Rencana Adaptasi Nasional. Kedua, memanfaatkan penghematan finansial dari dekarbonisasi untuk mendanai adaptasi kesehatan. Ketiga, berinvestasi dalam infrastruktur yang tangguh, dengan memprioritaskan RS dan layanan esensial. Dan keempat, memberdayakan masyarakat untuk membentuk respons yang memadai.
Pemerintah Brasil juga merilis laporan pendamping, yang menyoroti bahwa perubahan iklim menimbulkan risiko besar terhadap kesehatan manusia, terutama bagi populasi yang rentan dan terpinggirkan secara historis. Selain itu, adaptasi yang efektif memerlukan keterlibatan aktif masyarakat dalam merancang, menerapkan, dan memantau kebijakan kesehatan.
"Dengan merilis laporan ini, Brasil dan WHO menegaskan kembali pentingnya COP30 sebagai COP Kebenaran. Laporan ini memberikan data dan bukti yang jelas bahwa perubahan iklim telah berdampak langsung pada sistem kesehatan di seluruh dunia,” ujar Dr. Alexandre Padilha, Menteri Kesehatan Brasil. Tragedi baru-baru ini menunjukkan bahwa sekaranglah saatnya untuk menerapkan kebijakan dan tindakan yang mengatasi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan.
Rencana Aksi Kesehatan Belém, Brasil menguraikan tiga lini aksi untuk sistem kesehatan yang tangguh terhadap perunahan iklim. Pertama, surveilans dan pemantauan, yang berfokus pada penguatan surveilans kesehatan terpadu dan berbasis iklim. Kedua, kebijakan, strategi, dan pengembangan kapasitas berbasis bukti, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan sistem nasional dan lokal, dalam menerapkan solusi yang efektif dan berbasis kesetaraan. Dan ketiga, inovasi, produksi, dan kesehatan digital, yang mendorong penelitian, pengembangan, dan akses terhadap teknologi yang memenuhi kebutuhan kesehatan, untuk beragam populasi.
Sudahkah kita bertindak bijak?