Pasca Pilkada: Harus Kemana Arah Media Massa?

PEMILIHAN Walikota dan Wakil Wali Kota yang dilaksanakan pada 18 Mei 2011 kemarin baru saja berlalu. Dalam pemilihan kemarin pasangan Firdaus dan Ayat terpilih sebagai “Datuk Bandar” jilid dua di bumi Bertuah ini hingga 2016 mendatang. Meskipun dalam perolehan suara kemarin jarak diantara kedua pasang tidak terlalu jauh. Hanya saja yang namanya menang ya tetap menang.
Dalam proses pemenangan setiap pasang calon, selain usaha yang dilakukan peran media tidak kalah penting. Setiap pasangan calon setiap hari “berseliweran” di dalam media cetak maupun elektronik. Media massa mencoba mengikuti setiap jejak langkah dan aktifitas mereka sehari-hari tanpa ada satupun yang terlewatkan. Ini dimaksudkan adalah untuk memberikan informasi kepada masyarakat Pekanbaru tentang program-program apa saja yang bakal diusung dan dijalankan jika duduk di “singgasana” pemerintahan nantinya. Melihat begitu pentingnya peranan media massa, maka pasca pilwako Pekanbaru ini, peranan media beralih, namun tetap dalam lingkup fungsi yang sama.Tidak dapat dipungkiri bahwa, banyak diantara pemberitaan dan isu-isu yang dilemparkan oleh pihak media massa terkait pilwako beberapa waktu lalu adalah pesanan. Artinya setiap pasang calon memang secara sengaja memesan ruang atau space untuk mempublikasikan hal-hal yang mereka anggap dapat menggaet hati pemilik suara. Dan hal itu dianggap wajar, karena ini adalah persoalan bisnis atau persoalan seberapa banyak materi yang bisa diraup pada momen-momen seperti ini. Kemudian hal ini menjadi tidak wajar, jika keadaan ini berlangsung setelah pasangan calon terpilih menjabat dan menjalankan tugasnya. Media massa tidak boleh larut dalam pergulatan profitable. Idealnya, didirikannya sebuah usaha yang bernama industri media pemilik modal harus mau pula menjalankan peran dan fungsinya sebagai kontrol sosial, sumber informasi yang layak dan memiliki nilai-nilai edukasi yang berpegang pada norma dan tata susila. Pasca pilwako Pekanbaru ini, media harus kembali ke fungsi asasnya. Setiap kebijakan yang diambil oleh walikota terpilih terlepas bermanfaat maupun tidak harus disampaikan kemasyarakat secara jujur. Karena ini akan menyangkut kemajuan dan berkahnya Pekanbaru sebagai Kota yang disebut-sebut menjunjung tinggi nilai dan marwah bangsa Melayu. KEKELIRUAN MEDIA MASSA YANG KERAP TERJADI MERUJUK pada beberapa literatur yang ada, media massa yang kini banyak beredar di Indonesia kerap melakukan kekeliruan dibeberapa aspek penting sebuah pemberitaan. Karena sebagian besar masyarakat Indoensia lebih ramai yang berperan sebagai penikmat ketimbang sebagai praktisi media. Berdasarkan fungsi utama media yaitu informasi, edukasi, hiburan dan transformasi nilai-nilai sosial. Informasi, Akibat informasi yang bergulir saban hari sangat beragam dan cepat terkadang media massa banyak melupakan prinsip pendalaman sebuah informasi. Karena media massa kerap mengutamakan kecepatan informasi. Maka wajar jika diantara media massa terjadi perebutan informasi. Bahkan kadang karena sangat mengutamakan kecepatan, proses re-check menjadi sedikit dilupakan dan berakibat pada tidak akuratnya berita yang disajikan. Dalam kasus ini, ada media yang bahkan terpeleset sehingga melakukan kesalahan elementer seperti menyajikan berita yang salah. Sehingga seringa berlakunya kesalahan informasi yang berdampak pada menyebarnya kepanikan. Padahal sebuah teori jurnalistik menyebutkan berita baru boleh disajikan jika memenuhi ABC theory atau Accuracy, Balance and Clarity dan penggabungan ketiganya menghasilkan Credibility (Errol Jonathans - Jurnalisme Pemilu). Edukasi, Salah satu fungsi utama media massa adalah pendidikan. Artinya, media massa diharapkan ikut mendidik penikmatnya (dalam konteks Indonesia adalah anak bangsa), agar menjadi lebih well educated, di tengah sistem pendidikan kita yang kerap diperdebatkan kesahihannya dalam mendidik generasi. Maka, dalam situasi ideal, apa yang disajikan media massa adalah sesuatu yang berdampak positif pada masyarakatnya tetapi tentu saja tidak harus mengajarkan mata pelajaran seperti yang dilakukan TPI bertahun-tahun silam. Hiburan, televisi kita memang menghibur. Paling tidak, ada jutaan orang yang tertawa dengan aksi Sule dan kawan-kawan di Opera Van Java. Meski lelucon kita masih sarat dengan nuansa pelecehan fisik, kita terhibur dan televisi melakukan tugas ini dengan baik. Tetapi, fungsi hiburan adalah fungsi yang terintegrasi dengan tiga fungsi lainnya. Artinya, tayangan hiburan seharusnya juga membawa misi Informasi, Pendidikan dan Transformasi Nilai-nilai sosial. Transformasi nilai-nilai sosial, ini adalah salah satu fungsi media. Tetapi maaf, dengan terpaksa fungsi ini tidak dibahas di sini. Bukan apa-apa. Sepertinya sia-sia berharap bahwa suatu saat media massa kita mewariskan nilai-nilai yang bagus untuk generasi berikutnya ketika ketiga fungsi di atas tidak berjalan baik saat ini. Maka, media massa kita memang masih terjebak pada paradigma laku atau tidaknya sebuah sajian dan tidak menyibukkan diri pada bagaimana nasib penikmat media setelah tayangan tersebut disajikan. Ini bukan kritik televisi (saja), tetapi semua media massa di Indonesia, mungkin sebaiknya berpikir ulang untuk menjawab fungsi-fungsi dasar media massa tadi. Jika keempat fungsi diatas kita lakukan penggabungan didalamnya seraya merujuk kepada fungsi media selama masa-masa menjelang pilwako kemarin, fungsi media dinilai banyak yang tidak maksimal. Misalnya fungsi informasi, selama proses kampanye berjalan tidak ada satupun media massa yang mampu “melirik” terkait sumber dana mana sebenarnya yang digelontorkan oleh kedua pasang calon sebagai biaya kampanye. Padahal informasi seperti ini sangat diperlukan oleh masyarakat, tentang sejauhmana kredibilitas pasangan calon untuk diberikan titah sebagai “Datuk Bandar” jilid dua. Kemudian aspek fungsi edukasi. Tidak banyak media massa yang membeberkan secara jelas tentang seperti apa nilai-nilai edukasi yang dapat diambil dari proses kampanye kemaren. Kalau untuk fungsi hiburan, sudah jelas sangat terpenuhi. Karena memang rata-rata media massa di Indonesia lebih mengedepankan nilai entertainment berbanding fungsi lainnya. Selanjutnya fungsi tranformasi nilai-nilai sosial, penulis melihat hal tersebut memang masih agak jauh dari harapan. Ini lebih disebabkan isu, informasi dan wacana yang berkembang kurang mnegedepankan nilai-nilai sosial positif. Tetapi lebih banyak mengedepankan nilai-nilai kepentingan. Penulis: EKO HERO S.Sos Mahasiswa S2- Media Dan Komunikasi Universiti Kebangsaan Malaysia

Berita Lainnya

Index