SMSI Riau Bongkar Strategi Bertahan Media di Era AI dan Media Sosial

SMSI Riau Bongkar Strategi Bertahan Media di Era AI dan Media Sosial
Media Siber Wajib Tahu! AI Disebut Bukan Ancaman, Tapi Peluang Besar

BATAM (RiauInfo) – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam dunia jurnalistik menjadi sorotan utama dalam Forum Group Discussion (FGD) dan Workshop AI yang diselenggarakan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Riau di Batam, Kepulauan Riau, pada 17-19 Juni 2026. Kegiatan yang diikuti 31 pengurus dan anggota SMSI Riau tersebut menegaskan bahwa AI merupakan alat bantu yang dapat meningkatkan produktivitas media, namun tidak dapat menggantikan peran jurnalis.

Kegiatan selama tiga hari itu menghadirkan tiga narasumber yang memiliki kompetensi di bidang transformasi digital, media siber, dan kecerdasan buatan, yakni Wakil Ketua Umum SMSI Pusat sekaligus Co-Founder dan CEO Props Ilona Juwita, Praktisi Media Digital Zabur Anjasfianto, serta Syam Irfandi yang membawakan sesi berbagi mengenai jurnalisme AI.

Ketua SMSI Riau, Luna Agustin, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, forum ini menjadi sarana penting bagi insan media untuk memahami perkembangan teknologi informasi yang terus bergerak cepat.

"Kita harus menjadikan kegiatan selama tiga hari ini sebagai bagian untuk terus memperbaiki dan mendalami berbagai kemajuan teknologi yang terus berkembang," kata Luna saat membuka acara.

Selain itu, Luna juga menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut, terutama Pemerintah Provinsi Riau dan sejumlah pihak lainnya yang turut berkontribusi dalam pelaksanaannya.

"Terimakasih kami sampaikan kepada pihak-pihak yang telah ikut mensukseskan kegiatan ini, semoga jalinan kerjasama yang terjadi bisa terus terjaga dengan baik," imbuhnya.

AI dan Tantangan Adaptasi Media Siber

Pada sesi pertama yang dipandu Fitriady Syam, Praktisi Media Digital Zabur Anjasfianto menyoroti pesatnya perkembangan aplikasi berbasis AI yang kini dapat digunakan oleh siapa saja untuk menghasilkan berbagai karya digital. Menurutnya, kondisi tersebut harus direspons secara positif oleh kalangan jurnalis dan perusahaan media.

"Tidak harus kita hindari, AI membantu pekerjaan media, bukan menggantikan pekerjaan media," ujarnya.

Zabur menjelaskan bahwa media siber saat ini tidak lagi cukup hanya mengandalkan kualitas pemberitaan. Perubahan perilaku audiens yang semakin banyak mengakses informasi melalui media sosial menuntut media untuk beradaptasi dengan memanfaatkan berbagai platform digital secara optimal.

"Media sosial adalah kanal terbesar yang pernah dimiliki industri media. Media yang bertahan bukan yang paling besar, melainkan yang paling cepat beradaptasi terhadap perubahan perilaku audiens," sebutnya.

AI Membantu, Verifikasi Tetap Tanggung Jawab Jurnalis

Dalam sesi berikutnya, Syam Irfandi menegaskan bahwa AI memang memberikan kemudahan dan kecepatan dalam proses kerja jurnalistik. Namun, hasil yang dihasilkan AI tidak dapat langsung dipublikasikan tanpa proses pengecekan dan verifikasi oleh jurnalis.

"Harus ada koreksi juga yang dilakukan sebelum mengupload berita satu karya yang dibuat melalui AI. Dan yang perlu juga diingat, AI tidak bisa mendapatkan informasi langsung dari narasumber, dan itulah yang menjadi kelebihan kita sebagai seorang jurnalis, kita bisa melakukan wawancara langsung dengan narasumber, AI tidak," pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum SMSI Pusat sekaligus Co-Founder dan CEO Props, Ilona Juwita, menilai SMSI memiliki potensi besar untuk menghadapi perubahan pola konsumsi informasi masyarakat yang kini lebih banyak bergeser ke media sosial. Menurutnya, kekuatan jaringan anggota SMSI dapat menjadi modal penting untuk memperluas distribusi konten sekaligus meningkatkan pendapatan media.

"Jika saja SMSI mampu membuat jaringan dengan memanfaatkan medsos ini, akan menjadi kekuatan yang bisa meningkatkan penghasilan," ujarnya.

Ilona menambahkan, karya jurnalistik yang dipublikasikan di website perlu didukung dengan strategi distribusi melalui berbagai platform media sosial. Ia berharap kegiatan tersebut menjadi langkah awal bagi anggota SMSI untuk memperkuat jaringan digital, memanfaatkan teknologi AI secara bijak, serta terus berkarya demi meningkatkan kesejahteraan bersama melalui pengembangan media siber yang adaptif terhadap perubahan zaman.

Berita Lainnya

Index