YUSRIZAL memang terkesan agak pasrah. Sebab sehari setelah gempa itu dia sudah mencoba memperbaiki bandul yang patah itu. Namun tetap tidak bisa menggerakkan jarim jamnya. Ini ternyata disebabkan ada lagi beberapa perangkat lainnya mengalami kerusakan akibat gempa tersebut. Untuk memperbaikinya perlu mekanik yang berpengalaman.
"Kami akan berusaha terus memperbaikinya, sampai jarum Jam Gadang ini kembali bergerak," ujarnya. Dia memang sudah bertekad tidak akan membiarkan Jam Gadang berhenti berdetak. Apapun akan dilakukannya, termasuk minta dukungan dari Pemko Bukittinggi untuk mendatangkan para ahli jam.
Gempa yang mengoncang Sumbar selain membuat Jam Gadang itu berhenti berdetak, menaranya yang setinggi 26 meter itu juga mengalami kemiringan. Selain itu beberapa bagian bangunannya mengalami retak-retak, dan salah satu jendela kaca di bagian atas pecah. Serpihan kacanya kini berserakan di sekitar taman di bawah Jam Gadang itu.
Berdasarkan data yang diperoleh Suara Karya, Jam Gadang yang berhadapan langsung dengan Pasar Atas Bukittinggi ini dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1926. Konon pembangunan jam tersebut merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Sekretaris Kota Bukittinggi.
Menurut masyarakat setempat, bangunan Jam Gadang itu sendiri mulanya dibangun dengan menggunakan semen putih bercampur telor. Dengan posisi berada di daratan paling tinggi di Bukittinggi, Jam Gadang itu bisa dilihat dari kejauhan. Namun akhir-akhir ini karena pesatnya pembangunan gedung pertokoan, Jam Gadang itu jadi mulai sulit dilihat dari kejauhan.
Jam Gadang yang berada di posisi atas monumen itu sendiri terdiri dari 4 unit yang menghadap barat, timur, selatan dan utara. Diameter jam 80 sentimeter. Jarum jam digerakkan secara manual oleh mesin buatan pabrik jam Brixlion, Inggris. Namun mendapat sentuhan khusus dari ahli jam dari Jerman bernama Recklinghausen.
Konon untuk mesin jam ini hanya ada dua di dunia, yakni Jam Gadang di Bukittinggi dan Big Ben di London, Inggris, sehingga tidak salah jika disebut sebagai monumen "Kembar". Karena memiliki nilai historis yang panjang, maka Pemko Bukittinggi terus melakukan perawatan terhadap Gam Gadang ini.(ad)
Akan Tetap Tebarkan Pesona pada Pelancong
Kiki
Senin, 19 Maret 2007 - 11:23:33 WIB
YUSRIZAL memang terkesan agak pasrah. Sebab sehari setelah gempa itu dia sudah mencoba memperbaiki bandul yang patah itu. Namun tetap tidak bisa menggerakkan jarim jamnya. Ini ternyata disebabkan ada lagi beberapa perangkat lainnya mengalami kerusakan akibat gempa tersebut. Untuk memperbaikinya perlu mekanik yang berpengalaman.
"Kami akan berusaha terus memperbaikinya, sampai jarum Jam Gadang ini kembali bergerak," ujarnya. Dia memang sudah bertekad tidak akan membiarkan Jam Gadang berhenti berdetak. Apapun akan dilakukannya, termasuk minta dukungan dari Pemko Bukittinggi untuk mendatangkan para ahli jam.
Gempa yang mengoncang Sumbar selain membuat Jam Gadang itu berhenti berdetak, menaranya yang setinggi 26 meter itu juga mengalami kemiringan. Selain itu beberapa bagian bangunannya mengalami retak-retak, dan salah satu jendela kaca di bagian atas pecah. Serpihan kacanya kini berserakan di sekitar taman di bawah Jam Gadang itu.
Berdasarkan data yang diperoleh Suara Karya, Jam Gadang yang berhadapan langsung dengan Pasar Atas Bukittinggi ini dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1926. Konon pembangunan jam tersebut merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Sekretaris Kota Bukittinggi.
Menurut masyarakat setempat, bangunan Jam Gadang itu sendiri mulanya dibangun dengan menggunakan semen putih bercampur telor. Dengan posisi berada di daratan paling tinggi di Bukittinggi, Jam Gadang itu bisa dilihat dari kejauhan. Namun akhir-akhir ini karena pesatnya pembangunan gedung pertokoan, Jam Gadang itu jadi mulai sulit dilihat dari kejauhan.
Jam Gadang yang berada di posisi atas monumen itu sendiri terdiri dari 4 unit yang menghadap barat, timur, selatan dan utara. Diameter jam 80 sentimeter. Jarum jam digerakkan secara manual oleh mesin buatan pabrik jam Brixlion, Inggris. Namun mendapat sentuhan khusus dari ahli jam dari Jerman bernama Recklinghausen.
Konon untuk mesin jam ini hanya ada dua di dunia, yakni Jam Gadang di Bukittinggi dan Big Ben di London, Inggris, sehingga tidak salah jika disebut sebagai monumen "Kembar". Karena memiliki nilai historis yang panjang, maka Pemko Bukittinggi terus melakukan perawatan terhadap Gam Gadang ini.(ad)
Pilihan Redaksi
IndexPWI Tegaskan Tetap Penanggung Jawab dan Penyelenggara HPN 2027
PWI Pelalawan Gelar Workshop Masa Depan Media di Era AI
PWI Luncurkan Podcast PWI Channel, Tegaskan Peran Wartawan di Era AI
Destry Resmi Pimpin BI, Arah Suku Bunga Jadi Perhatian
PWI Riau dan Polda Riau Perkuat Kemitraan serta Kompetensi Wartawan
Tulis Komentar
IndexBerita Lainnya
Index Lingkungan
Cuaca Riau 29 Agustus: Pekanbaru Masih Diselimuti Udara Kabur Berkabut
Sabtu, 29 Agustus 2026 - 07:53:00 Wib Lingkungan
PWI Riau Bagikan 10 Ribu Masker di Tengah Kabut Asap Pekanbaru
Jumat, 28 Agustus 2026 - 14:30:00 Wib Lingkungan
Sekolah Pekanbaru Daring 26-28 Agustus, Imbas Kualitas Udara Memburuk
Selasa, 25 Agustus 2026 - 23:54:00 Wib Lingkungan
Prakiraan Cuaca Pekanbaru Kamis 27 November 2025: Waspada Potensi Hujan di Tengah Bencana Provinsi Tetangga
Rabu, 26 November 2025 - 20:00:11 Wib Lingkungan