Menikmati Pagi Pulau Penyengat

787 views
news7479PEKANBARU (RiauInfo) – Membicarakan Pahlawan Nasional Raja Ali Haji, mau tidak mau kita juga harus membicarakan Pulau Penyengat. Di pulau kecil inilah, Raja Ali Haji (RAH) bertungkus lumus mencurahkan segenap akal budinya dalam goresan pena untuk menggugah kesadaran nasionalisme bangsanya agar bangkit merdeka, berdaulat dan bermartabat.

Pulau Penyengat pada awalnya bernama Pulau Air Tawar dan merupakan tempat orang-orang Eropa mengambil air tawar dan kayu. Pada suatu waktu, ketika memasuki Pulau Air Tawar, mereka diserang oleh segerombolan lebah yang dengan ganas menyerang dan menyengat orang-orang asing tersebut. Mulai saat itu, Pulau Air Tawar dikenal dengan nama Pulau Penyengat.

Sabtu pagi ini (29/11/2008), Humas Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta Yuhastina Sinaro, SST.Par, dan Pimred RajaAliHaji.Com yang sekaligus Redaktur Budaya MelayuOnline.com, Ahmad Salehudin, MA., berkesempatan menikmati nuansa pagi di pulau yang sangat bersejarah tersebut.

“Mungkin jika tidak mendapat undangan dari Gubernur Kepulauan Riau (Kepri), Drs. Ismeth Abdullah, melalui Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Kepri, Drs. Suhadjar, M.Si., kita pagi ini tidak bisa menikmati suasana Pulau Penyengat,” ungkap Naina, panggilan akrab Yuhastina Sinaro, sesaat setelah turun dari kapal Pompong yang membawa kami dari Tanjungpinang.

Perjalanan menaiki Kapal Pompong juga merupakan kenikmatan tersendiri. Selain menikmati goyangan kapal yang diayun-ayun gelombang air laut, kita juga dapat menikmati keindahan Pulau Penyengat dari tengah laut. Dari kejauhan, kita akan melihat pulau dengan luas sekitar 1.000 m X 2.000 meter tersebut dikelilingi oleh gugusan rumah-rumah terapung dengan latar belakang pegunungan yang masih menghijau di belakangnya.

Setelah turun dari Kapal Kompong, kita segera bergegas memasuki halaman Balai Adat Melayu Kepulauan Riau yang saat itu sedang ditata untuk digunakan sebagai tempat memperingati dua abad Raja Ali Haji pada siang harinya. Setelah menitipkan leaflet BKPBM, MelayuOnline.com, WisataMelayu.com dan RajaAlihaji.com kepada panitia, kami segera melanjutkan perjalanan menggunakan Becak Motor (Bemor) mengunjungi objek-objek wisata bersejarah di Pulau Penyengat seperti Masjid Sultan Riau dan makam-makam pahlawan Melayu, seperti Makam Raja Ali Haji dan makam Engku Hamidah, pemegang regalia Kesultanan Riau.

Di Pulau yang merupakan mas Kawin Sultan Riau kepada Engku Hamidah ini, kita tidak menemukan angkutan selain sepeda motor dan bemor. Terkait tidak adanya angkutan selain motor dan bemor ini salah seorang pengemudi bemor yang kami tumpangi mengatakan bahwa Pulau Penyengat terlalu kecil untuk menerima kehadiran mobil.

Namun karena tidak ada mobil itulah, kami merasakan sejenak segarnya udara tanpa polusi. Setelah sejenak menyempatkan mengelilingi Pulau Penyengat, kamipun harus kembali ke Balai Adat Melayu karena harus bersiap-siap mengikuti acara memperingati 200 tahun Raja Ali Haji.(ad)

 



Posting Terkait