Keluarga Cermin Kekuatan, Masyarakat Bangsa Dan Negara

746 views

SELATPANJANG (RiauInfo) – Sebagai unit terkecil dari masyarakat, keluarga merupakan cermin kekuatan masyarakat, bangsa dan negara. Kekuatan bangsa dan negara terletak pada ketahanan keluarga. Penjelasan itu kembali diingatkan Ketua Tim Penggerak (TP) Riau, Ny Hj Septina Primawati meninjau dari dekat pelaksanaan pengobatan dan pelayanan keluarga Berencana (KB) gratis yang dilaksanakan Tim Penggerak PKK Kabupaten di Kantor Kepala DesaSesap Kecamatan Tebing Tinggi, Kamis (7/6) kemarin.

“Oleh sebab itu, selain harus dijaga dan dipelihara, melalui berbagai program pembangunan yang dilaksanan, pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas sebuah keluarga. Diantaranya melalui Gerakan KB Nasional (GKBN),” papar isteri Gubernur Riau HM Rusli Zainal ini, ketika memberikan sambutan.

Ditambahkannya, keikutsertaan sebuah keluarga menjadi akseptor KB, semata-mata tidak hanya bertujuan mengatur jarak kelahiran atau membatasi jumlah anak yang dimiliki. Lebih dari itu, menjadi akseptor KB manfaatnya sangat besar bagi kesehatan ibu dan anak maupun keluarga secara keseluruhan.

“Bukan itu saja, dengan ber-KB, ketahanan, kesejahteraan dan kualitas sebuah keluarga akan lebih mudah ditingkatan. Karena itu, mengingat betapa penting KB, maka bagi keluarga yang masih tergolong pasangan usia subur namun belum ber-KB, segera ber-KB. Terserah, apapun alat kontrasepsi yang ingin digunakan. Yang penting jangan sampai ditunda-tunda lagi,” ajak Septina, memberikan motivasi..

Ketahanan, kesejahteraan dan kualitas keluarga dengan jumlah anak sedikit, kata Septina, akan lebih mudah ditingkatkan dibandingkan keluarga yang jumlah anaknya banyak. “Dan, akan semakin sulit lagi apabila keluarga yang banyak anak itu tergolong keluarga miskin,” katanya.

Pada bagian lain, agar daerah dan bangsa ini semakin mantap melangkah menuju hari esok yang sejahtera dan bermartabat, Septina juga mengajak setiap orang tua agar dapat membangun keluarganya sebagai pilar pembangunan yang kokoh.

“Keluarga kita mencerminkan martabat kita dan jangan tinggalkan keluarga kita dalam kondisi yang tidak berdaya,” pesannya sembari berulang kali mengingatkan KB itu bertujuan mewujudkan keluarga berkualitas.

Sementara itu selaku pelaksana, Ketua TP PKK Bengkalis, Ny Hj Fauziah Syamsurizal mengatakan, kegiatan tersebut diantaranya memang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan peranserta seluruh lapisan masyarakat, terutama keluarga kurang mampu dalam pelaksanaan GKBN. Baik itu sebagai akseptor KB maupun sebagai tenaga pelayanan. Misalnya, sebagai kader atau tenaga penyuluh dan pemberi motivasi kepada masyarakat.

“Sedangkan untuk pelayanan, melalui kegiatan diharapkan sebanyak mungkin, terutama keluarga yang tergolong dalam keluarga Pra Sejahtera dan Sejahtera I alasan ekonomi yang masih PUS dan tidak ber-KB dapat diajak menjadi akseptor KB. Namun demikian, bagi keluarga dari stratifikasi lainnya yang masih PUS dan ingin ber-KB, tetap akan dilayani. Pelayanan selama pelaksanaan kegiatan Kesatuan Gerak PKK-KB Kesehatan ini diberikan secara cuma-cuma, tidak dipungut biaya apapun,” imbuhnya.

Kemudian saat memberikan ceramah tentang tentang KB di Aula Serbaguna Kecamatan Tebing Tinggi, Kepala Kanwil BKKBN Riau, H Marlis Alamsa mengemukakan bahwa tidak benar budaya Melayu tidak mendukung GKBN. Bahkan sebaliknya, memberikan apresiasi yang tinggi.

“Kalau ada orang Melayu yang tetap berpegang teguh pada ungkapan ‘banyak anak banyak rezeki’ atau ‘banyak anak banyak tempat berteduh’, itu berarti orang itu tidak memahami tunjuk ajar budaya Melayu secara baik dan benar. Hanya sepotong-sepotong serta keliru dalam memahaminya” papar mantan Kepala BKKBN Kabupaten Bengkalis ini.

Untuk itu, seraya mengutip isi buku ‘Tunjuk Ajar Dalam Pantun Melayu’ yang ditulis H Tennas Effendi yang sengaja dibawanya dari Pekambaru, Marlis menambahkan, kalau hanya berpegang teguh pada contoh ungkapan yang sepenggal dimaksud, memang demikianlah kesimpulannya.

“Ungkapan ‘banyak anak banyak rezeki’, yang dipahami selama ini tidak lengkap. Yang sebenarnya itu, ‘banyak anak banyak rezeki, banyak hutang yang dibawanya, banyak fitnah yang kan menimpahnya’. Ini bermakna, agar orang Melayu jangan sampai memiliki anak banyak. Karena akibat anak banyak itu juga akan menimbulkan hutang dan fitnah yang banyak pula. Lebih-lebih di tengah hidup dan kehidupan seperti sekarang ini,” ujar Marlis.

Selain itu, sambung Marlis, menjadi akseptor KB bukan hanya ditujukan untuk kaum ibu atau isteri saja. Menurutnya, meskipun alat kontrapsi untuk kaum pria terbatas, tapi kewajiban dan tanggungjawab antara suami dan isteri tetap sama.

“Suami yang baik dan bijak, tidak akan melarang isterinya untuk ber-KB. Sebalinya, menyuruh dan mendukung sepenuhnya isterinya untuk ber-KB. Karena hal itu juga untuk kebaikan suami,” kata Marlis.

Di kesempatan yang sama, Ny Fauziah juga mengajak PUS untuk tidak lupa ber-KB. “Sebaiknya gunakan inplant (susuk KB). Memasangnya tidak sakit. Hanya seperti digigit semut. Saya juga menggunakan inplant,” ajak Fauziah.(ril)



Posting Terkait