INA: Energi Jadi Kunci Investasi Data Center AI di Indonesia

INA: Energi Jadi Kunci Investasi Data Center AI di Indonesia
INA melihat peluang besar Indonesia menjadi tujuan investasi data center berbasis AI, terutama karena ketersediaan energi dan besarnya pasar digital.

JAKARTA (RiauInfo) – Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi tujuan investasi data center berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Indonesia Investment Authority (INA) melihat ketersediaan energi, besarnya pasar digital, serta sejumlah faktor pendukung lain sebagai modal penting untuk menarik investor global. 

Director of Investment Indonesia Investment Authority (INA) Johan Batubara mengatakan kebutuhan komputasi AI global sedang tumbuh secara eksponensial. Pertumbuhan tersebut mendorong operator data center mencari lokasi baru di luar hub tradisional yang kapasitasnya semakin terbatas. 

“Di sinilah Indonesia punya keunggulan struktural sebagai negara surplus energi, justru ketika ketersediaan daya menjadi kendala utama ekspansi AI secara global,” kata Johan pada Rabu, 9 September 2026, sebagaimana dikutip dari Bisnis.com

Menurut Johan, keunggulan energi Indonesia semakin menarik karena didukung basis pengguna digital yang besar. Kombinasi antara ketersediaan energi dan pasar digital tersebut membuat Indonesia semakin diperhitungkan sebagai salah satu destinasi investasi data center oleh investor global. 

Energi Menjadi Faktor Utama

Johan menjelaskan data center merupakan salah satu sektor digital yang menjadi prioritas investasi INA. Infrastruktur data center dinilai menjadi bagian penting dari ekonomi digital karena menopang berbagai aktivitas ekonomi berbasis teknologi. 

Dalam menentukan lokasi pembangunan data center, ketersediaan daya listrik menjadi salah satu faktor utama yang diperhatikan investor. Kebutuhan tersebut semakin penting karena pengembangan AI membutuhkan kapasitas komputasi besar dan operasional infrastruktur yang membutuhkan pasokan listrik secara andal. 

Selain jumlah dan ketersediaan daya, investor juga memperhitungkan total cost of ownership atau keseluruhan biaya kepemilikan dan operasional dalam jangka panjang. Arah pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) turut menjadi pertimbangan karena banyak operator dan hyperscaler global memiliki komitmen menuju net zero. 

“Jadi, ketersediaan daya menjadi pertimbangan utama, sementara arah pengembangan EBT menjadi faktor yang semakin penting,” ujar Johan. 

 

Bukan Hanya Listrik

Daya tarik Indonesia sebagai lokasi investasi data center tidak hanya ditentukan oleh pasokan energi. Johan menyebut harga lahan, konektivitas, ketersediaan talenta digital, dan stabilitas regulasi sebagai faktor lain yang diperhitungkan investor ketika menentukan lokasi proyek. 

Harga lahan di Indonesia yang relatif kompetitif dibandingkan Singapura dapat menjadi salah satu pertimbangan ekonomi bagi investor. Namun, keuntungan biaya lahan perlu didukung kesiapan infrastruktur dan kepastian regulasi agar proyek data center dapat direalisasikan sesuai rencana. 

Peluang investasi juga tidak hanya berada pada pembangunan fasilitas data center utama. INA melihat potensi investasi pada sektor terkait dan rantai pasok yang mendukung industri data center di Indonesia. 

INA juga telah menjalankan peran sebagai co-investor melalui platform yang dibangun bersama DayOne. Menurut Johan, peran tersebut dapat meningkatkan kepercayaan investor asing sekaligus menjembatani kebutuhan investor global dengan ekosistem domestik melalui koordinasi bersama berbagai pemangku kepentingan. 

Tantangan Time-to-Power

Meski peluang investasi besar, investor masih menghadapi sejumlah tantangan dalam merealisasikan proyek data center di Indonesia. Salah satu persoalan penting adalah kesesuaian antara jadwal pembangunan proyek dan waktu tersedianya pasokan listrik atau time-to-power. 

Kesiapan infrastruktur pendukung juga menjadi faktor penting, terutama untuk proyek yang dikembangkan di luar hub data center tradisional. Infrastruktur tersebut meliputi konektivitas fiber, pasokan air untuk sistem pendinginan, serta ketersediaan kontraktor dan tenaga kerja terampil untuk pembangunan berskala besar. 

“Salah satu pertimbangan utama investor adalah keselarasan antara jadwal pengembangan proyek dan ketersediaan daya [time-to-power], serta ketersediaan infrastruktur pendukung lainnya di lokasi-lokasi strategis di luar hub tradisional, mulai dari konektivitas fiber, pasokan air untuk sistem pendinginan, hingga ketersediaan kontraktor dan tenaga kerja terampil untuk pembangunan berskala besar,” ungkap Johan. 

Dengan demikian, peluang Indonesia menarik investasi data center AI bergantung pada kemampuan menyediakan ekosistem yang terintegrasi. Kawasan yang mampu menawarkan listrik dengan kepastian waktu, konektivitas fiber, pasokan air, lahan siap dikembangkan, talenta, tenaga konstruksi, serta regulasi yang stabil berpotensi menjadi lokasi yang lebih menarik bagi investor. 

Pertumbuhan kebutuhan komputasi AI sekaligus membuat persaingan antarwilayah untuk menarik investasi data center semakin bergantung pada kesiapan infrastruktur. Bagi Indonesia, ketersediaan energi menjadi salah satu keunggulan utama, tetapi keunggulan tersebut perlu berjalan bersama kesiapan ekosistem dan kepastian pelaksanaan proyek. 

 

Berita Lainnya

Index