Fundamental Ekonomi Solid, Pemerintah Tegaskan APBN 2026 Sehat dan Daya Beli Masyarakat Tetap Kuat

Fundamental Ekonomi Solid, Pemerintah Tegaskan APBN 2026 Sehat dan Daya Beli Masyarakat Tetap Kuat
Menteri Keuangan Republik Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa

PEKANBARU (RiauInfo) – Pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia memasuki pertengahan tahun 2026 berada dalam kondisi yang sangat solid. Berdasarkan data riil hingga bulan April, pertumbuhan ekonomi nasional berhasil mencatatkan angka optimis sebesar 5,61 persen pada awal tahun, yang sekaligus mematahkan berbagai spekulasi negatif mengenai adanya perlambatan ekonomi domestik secara signifikan atau ancaman krisis keuangan.

Selain pertumbuhan yang kuat, stabilitas ekonomi nasional ditopang oleh tingkat inflasi yang sangat terkendali di angka 2,42 persen. Menteri Keuangan menjelaskan bahwa terjaganya angka inflasi ini merupakan hasil nyata dari keseriusan koordinasi dan kerja keras antara Pemerintah Pusat melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan daerah (TPID) yang dipimpin langsung oleh Menteri Dalam Negeri untuk menjaga stabilitas harga di pasar.

Bantahan Penurunan Daya Beli

Menkeu Purbaya secara tegas membantah berbagai opini dan klaim yang beredar di media sosial mengenai penurunan daya beli masyarakat. Ia memaparkan bahwa kontribusi belanja masyarakat justru menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi dengan menyumbang sebesar 2,9 persen dari total pertumbuhan 5,61 persen, disusul investasi sebesar 1,7 persen, dan belanja pemerintah sebesar 1,3 persen.

"Angka pertumbuhan menunjukkan daya belinya malah bagus. Kontribusi 2,9 persen itu lebih tinggi dibanding triwulan-triwulan sebelumnya, di mana belanja masyarakat tumbuh sekitar 5,5 persen. Ini merupakan salah satu level tertinggi yang biasanya hanya berkisar di angka 4,9 hingga 5 persen," ujar Purbaya dalam konferensi pers yang dipantau wartawan pada Selasa (19/5/2026).

Indikator kekuatan konsumsi domestik ini juga diperkuat oleh lonjakan masif pada sektor otomotif setelah sempat mengalami tren negatif akibat faktor musiman musiman pada bulan Maret. Data per April 2026 menunjukkan penjualan mobil melonjak tajam hingga 55 persen, sementara penjualan sepeda motor tumbuh kuat di angka 28,1 persen. Aktivitas ekonomi ini juga diikuti oleh kenaikan konsumsi BBM, peningkatan total penjualan listrik sektor industri, serta pertumbuhan konsumsi semen domestik.

Sinergi Fiskal-Moneter dan Intervensi Pasar

Guna memastikan sektor riil dan swasta tetap bergerak produktif, pemerintah terus mempererat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter bersama Bank Sentral. Salah satu strategi utama yang dijalankan adalah penempatan dana pemerintah di bank komersial untuk memperkuat likuiditas sistem keuangan, yang ditunjukkan melalui pertumbuhan uang inti (base money/M0) sebesar 14,1 persen pada bulan April guna memicu penyaluran kredit swasta.

Di sisi lain, pemerintah secara aktif melakukan tindakan nyata guna meredam tekanan eksternal terhadap nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka Rp17.600 per dolar AS akibat sentimen risk-off global. Langkah konkret ini diwujudkan melalui intervensi langsung berupa pembelian kembali (buyback) di pasar obligasi (bond market) melalui strategi cash management guna menstabilkan harga Surat Berharga Negara (SBN) dan menekan tingkat yield.

"Tindakan kita menjaga stabilitas bond market itu sudah bisa mengembalikan kepercayaan investor asing terhadap obligasi kita. Melalui intervensi bertahap sejak pekan lalu, aliran dana asing mulai masuk kembali. Tercatat hari ini asing masuk sebesar Rp500 miliar di pasar sekunder dan Rp1,68 triliun di pasar primer, yang ke depan akan menambah suplai dolar dan memperkuat rupiah," kata Menkeu.

Reformasi Pajak dan Kinerja APBN

Hingga periode April 2026, kondisi defisit APBN tercatat mengalami perbaikan yang signifikan menjadi Rp164,4 triliun atau hanya sebesar 0,64 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka defisit ini menyusut drastis dibandingkan dengan posisi Maret yang sempat menyentuh 0,93 persen dari PDB, sementara posisi keseimbangan primer kembali mencatatkan surplus sebesar Rp28 triliun.

Perbaikan performa fiskal ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan negara sebesar 13 persen, di mana sektor penerimaan pajak tumbuh solid mencapai 16 persen sejalan dengan aktivitas ekonomi yang tinggi. Kenaikan tertinggi disumbang oleh Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan PPNBM yang tumbuh mencapai 40 persen, serta Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi (Pasal 21) yang naik sebesar 25 persen.

Sektor Kepabeanan dan Cukai juga mulai menunjukkan pembalikan arah ke zona positif dengan pertumbuhan 0,6 persen menjadi Rp100,6 triliun, setelah sempat mengalami kontraksi di awal tahun. Kenaikan ini ditopang oleh reformasi birokrasi, pengetatan IT, serta keseriusan penindakan hukum di mana Direktorat Jenderal Bea Cukai berhasil menyita 684 juta batang rokok ilegal serta menggagalkan penyelundupan narkotika sebanyak 522 kali dengan total barang bukti 3,31 ton hingga bulan April.

Keberlanjutan Subsidi dan Ketahanan Pangan

Pemerintah memastikan bahwa seluruh program subsidi dan kompensasi energi, seperti BBM dan listrik, tetap dipertahankan penuh sesuai anggaran guna memitigasi fluktuasi nilai tukar serta menjaga stabilitas sosial-ekonomi masyarakat. Simulasi ketahanan fiskal telah memperhitungkan skenario terburuk jika harga minyak mentah dunia berada pada rata-rata 100 dolar AS per barel sepanjang tahun.

Untuk mendukung sektor ketahanan pangan, pemerintah telah mengucurkan anggaran sebesar Rp61,3 triliun per April 2026, termasuk alokasi melalui kementerian/lembaga dan pembayaran subsidi pupuk di depan sebesar Rp22,7 triliun untuk menekan cost of fund produsen. Dana tersebut juga disalurkan kepada Bulog yang per 30 April 2026 telah menyerap sebanyak 139 ribu ton beras, 3,5 juta ton gabah, dan 2,1 ribu ton jagung langsung dari para petani domestik.

Adapun program jaminan sosial lainnya seperti Bantuan Sosial (Bansos) mengalami pertumbuhan realisasi sebesar 30,2 persen menjadi Rp56,7 triliun. Sementara itu, anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat ini dialokasikan sebesar Rp268 triliun dari pagu awal Rp335 triliun, di mana efisiensi manajemen penyerapan anggarannya terus disempurnakan oleh Presiden tanpa mengurangi efektivitas pemenuhan gizi bagi 61,96 juta anak penerima manfaat di seluruh Indonesia.

Berita Lainnya

Index