Jenis-Jenis Perencanaan Strategis yang Bikin Bisnis Kamu Nggak Cuma “Asal Jalan”

Jenis-Jenis Perencanaan Strategis yang Bikin Bisnis Kamu Nggak Cuma “Asal Jalan”
Ilustrasi

Oleh: Muhammad Ilham, mahasiswa Universitas Tazkia Bogor. 

Pernah nggak liat usaha tetangga tiba-tiba rame banget, sementara yang lain sepi? Rahasianya sering ada di perencanaan strategis. Bahkan untuk UMKM sekalipun, strategi yang pas bisa bikin beda jauh antara survive atau malah tumbuh pesat.

Di Indonesia, banyak UMKM yang sukses karena pintar memilih dan mencampur jenis perencanaan strategis. Yuk kita kupas lagi, kali ini dengan contoh-contoh lokal yang beneran terjadi di sekitar kita, termasuk di Bogor dan Jawa Barat.

1. Perencanaan Strategis Korporat (Corporate Level) – Ngatur Arah Besar

Ini soal visi jangka panjang: “Mau jadi apa usaha ini 5-10 tahun lagi?” Meski UMKM biasanya kecil, beberapa sudah mulai berpikir skala besar.

Contoh: Mikhayla Shoes di Bogor. Awalnya cuma bikin sepatu lokal biasa, tapi sekarang bisa jual ratusan pasang setiap hari dan bahkan tembus ekspor. Pemiliknya (Esa Belia) punya visi besar: bukan cuma jual di pasar lokal, tapi bangun brand sepatu yang dikenal orang Indonesia. Mereka diversifikasi model, dari casual sampai yang lebih premium, sambil tetap jaga kualitas bahan lokal. Hasilnya? Omzet jumbo dan penghargaan dari platform e-commerce.

Contoh lain: Dushishoes juga dari Bogor. Mulai dari UMKM kecil, sekarang ekspor sepatu dan menang penghargaan Shopee Super Awards. Itu keputusan “corporate” meski skalanya kecil: fokus jadi brand sepatu berkualitas dengan harga terjangkau.

2. Perencanaan Strategis Bisnis (Business Level) – Cara Menang di Pasar

Ini level “gimana cara bersaing”. Bisa dengan jadi yang termurah, yang paling unik, atau spesialisasi di ceruk tertentu.

Contoh keren: Wardah (awalnya UMKM kosmetik halal di Bandung). Mereka pakai differentiation strategy — fokus pada produk halal dan ramah untuk muslimah Indonesia. Sekarang sudah besar, tapi akarnya dari strategi bisnis yang tajam: bedain diri dari brand impor dengan nilai lokal dan harga yang masuk akal.

Di Bogor, banyak warung makan atau produsen susu kedelai yang pakai focus strategy. Contohnya bisnis susu kedelai milik Agus Murtini (istri pensiunan tentara). Mereka fokus di segmen makanan sehat berbasis kedelai lokal, pakai modal KUR BRI, dan sekarang naik kelas karena produknya konsisten dan sehat.

Atau Indomaret versi kecil: warung-warung kelontong di pinggiran Bogor yang pakai cost leadership — jual barang pokok dengan harga paling murah dan buka 24 jam supaya menang dari kompetitor. 

3. Perencanaan Strategis Fungsional (Functional Level) – Yang Bikin Hari-hari Lancar

Ini strategi di level departemen atau kegiatan sehari-hari: marketing, produksi, keuangan, HR.

Contoh di UMKM Bogor: Sebuah produsen susu kedelai tadi tadi, timnya fokus di fungsional marketing dengan kemasan yang lebih menarik setelah ikut pelatihan packaging dari BRI. Operasionalnya dioptimasi supaya nggak boros bahan baku, dan finance-nya pakai catatan sederhana tapi disiplin. Hasilnya, bisnis naik kelas tanpa buka pabrik besar.

Contoh lain: UMKM fashion di Bandung seperti Toko Koleksi Mama atau Erigo (awalnya UMKM). Strategi fungsionalnya kuat di marketing digital (Instagram dan marketplace) dan inovasi produk sesuai tren anak muda. Mereka juga pakai strategi pemasaran 4P: produk unik, harga pas, tempat strategis (online + offline), promosi rutin.

Banyak UMKM kuliner di Jabar pakai strategi fungsional sederhana: optimasi stok bahan supaya fresh, training karyawan biar ramah, dan pakai TikTok/Reels untuk promosi harian.

4. Perencanaan Strategis yang Fleksibel (Emergent) vs Direncanakan Mateng (Deliberate)

  1. Deliberate Strategy (direncanakan mateng): Cocok buat UMKM yang industrinya stabil. Contoh produsen roti atau kerajinan tangan yang sudah punya roadmap tahunan soal produksi dan distribusi.
  2. Emergent Strategy (muncul dari lapangan): Ini yang lagi banyak dipakai UMKM sukses di era digital. Mereka mulai kecil, tapi cepat pivot berdasarkan apa yang terjadi.

Contoh klasik di Bogor: Banyak pelaku UMKM sepatu atau makanan yang awalnya jual offline, tapi pas pandemi langsung improvisasi ke online (GoFood, Shopee, TikTok Shop). Mereka nggak punya rencana tebal, tapi liat peluang dan langsung adaptasi — itu emergent strategy.

Contoh lain: UMKM songket atau kriya di daerah sekitar yang dulu hanya jual ke turis lokal, sekarang pakai Instagram dan ekspor berkat dorongan dari bank seperti BRI. Mereka belajar digital marketing secara mandiri dan improvisasi desain sesuai permintaan pasar.

Di Kampung Pie Sidoarjo (contoh serupa banyak di Jabar), mereka adaptasi pas pandemi dengan efisiensi bahan, bangun jaringan antar pelaku UMKM, dan belajar digital sendiri. Hasilnya tetap bertahan dan bahkan tumbuh.

Banyak UMKM di Bogor sekarang pakai campuran: punya visi besar (deliberate) seperti “mau ekspor dalam 3 tahun”, tapi tetap fleksibel ubah taktik marketing tiap bulan berdasarkan tren. 

Gimana Cara Menganalisis Mana yang Cocok Buat UMKM Kamu?

Tanya aja pertanyaan sederhana ini:

  1. Usaha kamu skala kecil banget? → Mulai dari functional (marketing & operasional) dulu.
  2. Pasar kamu berubah cepat (misalnya makanan atau fashion)? → Butuh emergent lebih banyak.
  3. Mau ekspansi atau ekspor? → Perkuat corporate & business level.
  4. Tim kamu masih sedikit? → Pakai strategi yang mudah dieksekusi, seperti digital marketing murah.

Tips praktis buat UMKM di Bogor atau mana pun: Mulai kecil aja. Lakukan analisis SWOT sederhana bareng keluarga atau karyawan. Ikut pelatihan gratis dari dinas koperasi atau bank (banyak yang kasih training packaging & digital). Libatkan orang yang tiap hari ketemu pelanggan — mereka tahu apa yang lagi dicari orang.

Contoh nyata: Banyak UMKM sepatu Bogor sukses karena rutin review setiap 3 bulan, bukan nunggu akhir tahun.

Penutup: Strategi Itu Senjata Buat UMKM Juga

Perencanaan strategis bukan cuma buat Gojek atau Unilever. UMKM di Bogor seperti Mikhayla Shoes, Dushishoes, atau produsen susu kedelai lokal membuktikan bahwa dengan strategi yang pas — entah corporate, business, functional, atau campuran deliberate-emergent — usaha kecil bisa naik kelas, bahkan tembus ekspor.

Yang penting: pilih yang sesuai kondisi, eksekusi konsisten, dan berani ubah kalau pasar berubah. Di era sekarang, yang terlalu kaku bisa ketinggalan, tapi yang nggak rencana sama sekali? Bisa muter-muter doang.

Mau coba terapin yang mana dulu di usaha kamu? Misalnya mulai dari marketing digital (functional) atau langsung bikin visi 3 tahun ke depan (corporate)? Kalau lagi jalanin bisnis di Bogor atau sekitarnya dan butuh contoh lebih spesifik (kuliner, fashion, kerajinan, dll), cerita aja ya. Kita bisa bahas bareng. Bisnis itu perjalanan, yang penting mulai dari langkah kecil hari ini!

 

 

#Artikel Mahasiswa

Index

Berita Lainnya

Index