BOGOR (RiauInfo) – Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menegaskan komitmen pemerintah dalam pengentasan kemiskinan ekstrem melalui program inovatif "Sekolah Rakyat". Program ini dirancang sebagai solusi komprehensif untuk memutus mata rantai kemiskinan di Indonesia melalui jalur pendidikan formal yang terintegrasi dan berasrama.
Pernyataan tersebut disampaikan Wamensos saat memberikan pembekalan dalam kegiatan Retret Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tahun 2026 di Pusat Komando Bela Negara (Puskombelneg) Kementerian Pertahanan, Bogor, Jumat (30/1/2026).
Di hadapan para insan pers, Agus Jabo menjelaskan bahwa pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menargetkan angka kemiskinan ekstrem mencapai 0 persen pada tahun 2026. Target ini didasarkan pada mandat UU 11/2009 tentang Kesejahteraan Sosial serta instruksi strategis Presiden melalui Inpres 4/2025 dan Inpres 8/2025.
Satu Data Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN)
Salah satu langkah fundamental yang dipaparkan adalah implementasi "Satu Data Sosial Ekonomi Nasional" (DTSEN). Agus Jabo menyebutkan bahwa selama ini fragmentasi data antar kementerian (seperti DTKS, P3KE, dan Regsosek) sering menghambat ketepatan sasaran bantuan.
"DTSEN hadir sebagai basis data tunggal yang dipadankan dengan NIK dari Dukcapil. Ini menjadi rujukan resmi tunggal untuk perencanaan dan evaluasi program di seluruh Indonesia. Dengan data ini, kita bekerja berdasarkan evidence-based social policy, bukan lagi opini atau desakan politik," tegasnya. Melalui DTSEN, pemerintah dapat memetakan penduduk dari keluarga paling rentan (Desil 1) hingga sejahtera (Desil 10).
Sekolah Rakyat: Miniatur Pemutus Kemiskinan
Program Sekolah Rakyat dijelaskan sebagai unit mandat strategis untuk rehabilitasi dan pemberdayaan sosial. Berdasarkan Perpres No. 120 Tahun 2025, Sekolah Rakyat merupakan satuan pendidikan formal jenjang SD, SMP, dan SMA berbasis asrama yang biayanya sepenuhnya ditanggung oleh negara.
Agus Jabo menekankan filosofi "Axioma" dalam sekolah ini, yakni keyakinan bahwa tidak ada ciptaan Tuhan yang percuma. Input siswa dilakukan melalui Multi Entry tanpa tes masuk, dengan memprioritaskan anak-anak yang memiliki tantangan fisik, mental, maupun akademik dari keluarga tidak mampu.
Fasilitas Lengkap dan Dukungan Teknologi
Siswa Sekolah Rakyat dipastikan mendapatkan fasilitas hidup yang sangat layak. Data presentasi menunjukkan setiap siswa mendapatkan 8 set seragam lengkap (termasuk Jas Almamater, Batik, hingga Piyama), makan 3 kali sehari plus 2 kali snack dengan standar gizi tinggi, serta alat tulis lengkap.
Untuk mengejar ketertinggalan digital, Kemensos telah mendistribusikan alat pendukung belajar yang masif. Tercatat sebanyak 15.487 Laptop dan 596 SmartBoard telah disalurkan ke sekolah-sekolah rakyat. Pembelajaran juga sudah terintegrasi dalam Learning Management System (LMS) untuk memudahkan monitoring progres siswa.
Sebaran 166 Titik di Seluruh Indonesia
Hingga Januari 2026, tercatat sudah ada 166 titik Sekolah Rakyat Rintisan yang tersebar di 34 Provinsi dan 131 Kabupaten/Kota. Secara rinci, sebaran tersebut meliputi 35 titik di Sumatera, 70 titik di Jawa, 13 titik di Kalimantan, 28 titik di Sulawesi, 7 titik di Maluku, 7 titik di Bali dan Nusa Tenggara, serta 6 titik di Papua.
Total siswa yang saat ini terakomodasi mencapai 15.954 orang (3.025 siswa SD, 6.134 siswa SMP, dan 6.765 siswa SMA). Mereka didukung oleh tenaga profesional yang terdiri dari 2.218 Guru ASN-P3K dan 4.889 tenaga pendidik yang tersebar di 638 rombongan belajar (rombel).
Struktur Kerja Bersama Lintas Sektoral
Wamensos menegaskan bahwa "Sekolah Rakyat adalah Kerja Bersama". Struktur organisasinya melibatkan level tertinggi pemerintahan, di mana Menko Pemas, Menko PMK, dan Mensesneg bertindak sebagai Pengarah. Sementara Menteri Sosial bertanggung jawab sebagai Penanggung Jawab Operasional.
Kerja sama ini diperkuat oleh berbagai Satuan Tugas (Satgas). Satgas Tatakelola melibatkan KemenPU dan Kemendagri, Satgas Kurikulum melibatkan Kemendikdasmen dan Kemenag, serta Satgas Anggaran diawasi oleh BPKP dan Kemenkeu. Tim Ahli pun diperkuat oleh tokoh pendidikan nasional, Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA.
Investasi Masa Depan dan Kemandirian
Target akhir dari program ini adalah menghasilkan lulusan yang memiliki tiga pilar utama: Pintar (Knowledge), Berkarakter (Attitude), dan Terampil (Skill). Harapannya, lulusan Sekolah Rakyat siap menjadi agen perubahan bagi keluarganya dan memutus rantai kemiskinan nasional.
"Anaknya sekolah, keluarganya berdaya. Selain anak yang dididik, orang tua mereka juga mendapatkan jaminan kesehatan PBI-JK, bantuan sosial PKH/Sembako, hingga akses program 3 juta rumah jika memenuhi kriteria," tambah Agus Jabo.
Menutup pemaparannya, Wamensos berharap rekan-rekan media di PWI dapat ikut mengawal dan menyosialisasikan program ini. Kesaksian siswa seperti Sofia, yang kini merasakan fasilitas asrama dan pendidikan berkualitas, diharapkan menjadi inspirasi bagi jutaan anak Indonesia lainnya untuk berani bermimpi meski di tengah keterbatasan.