Kuala Cinaku Sebagai Lumbung Padi di Riau Bakal Tinggal Kenangan

784 views

PEKANBARU (RiauInfo) – Dulu setiap mendengar nama Kuala Cinaku, maka orang pasti akan membayangkan suatu desa yang memiliki hamparan sawah yang luas. Dari dulu, Kuala Cinaku memang dikenal sebagai lumbung padi bagi Riau dan sekitarnya, karena produksi padinya melimpah dengan kualitas cukup bagus. 

Namun kini kondisi itu sudah tinggal kenangan. Lahan sawah di Kuala Cinaku semakin menyempit karena sudah beralih fungsi sebagai kebun sawit. Ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap produksi padi daerah itu.

“Daerah kami ini dulu sangat dikenal sebagai lumbung padi Inhu karena luasnya lahan pertanian. Tapi kini tidak lagi, sawah kami tidak lagi diisi tanaman padi telah berganti jadi tanaman sawit,” ungkap Kepala Desa Kuala Cinaku Mursyid ketika ditemui di Rengat Rabu (7/2).

Pergantian varietas tanaman itu sangat memprihatinkannya sebab sejak empat tahun terakhir masyarakat di daerahnya lebih berminat menanam kelapa sawit dibandingkan tanaman padi, sehingga lahan pertanian di daerah itu makin menipis.

Padahal, lanjut dia, luas sawah di desanya sekitar 1.600 hektare tetapi kini hanya tinggal sekitar 500 hektare yang ditanami padi karena 1.100 hektare dari luas sawah yang ada telah jadi kebun sawit.

“Masyarakat menanami sawah mereka dengan tanaman sawit karena tidak ada lagi lahan kebun untuk masyarakat. Kawasan yang semula hutan telah dijadikan kebun milik perusahaan besar sedangkan masyarakat tidak mendapat bagian,” ungkap Mursyid.

Itu sebabnya, lanjut dia, masyarakat menanami sawah mereka dengan tanaman sawit sebab tanaman tersebut lebih menjanjikan secara ekonomis bagi masyarakat dibandingkan tanaman padi.

Masyarakat beranggapan nilai ekonomis sawit lebih tinggi dibandingkan padi dan perawatannya mudah, usai tanam tinggal. Tidak seperti padi.

“Anggapan seperti inilah yang ada pada masyarakat. Jika dibiarkan terus maka sawah di Kuala Cinaku akan hilang,” ujar Mursyid.

Ia mengatakan, sawah pasang surut yang ada di daerahnya selama ini cukup potensial selain tanaman padi tumbuh subur juga berkualitas bagus.

Dijelaskannya, produksi padi didaerahnya jika gabah kering giling dalam satu hektare sawah menghasilkan lima sampai enam ton. Tetapi jika petani mempergunakan “voral” sejenis pupuk dari air kencing sapi maka produksi meningkat menjadi tujuh sampai delapan ton/hektare.(Ad)

 

Posting Terkait