Kadin Riau Didorong Bangun Ekosistem Porang Demi Kemandirian Organisasi

Kadin Riau Didorong Bangun Ekosistem Porang Demi Kemandirian Organisasi
PT Mitra Porang Nusantara menawarkan pembangunan ekosistem porang dari hulu hingga hilir kepada Kadin Riau. PT Nusantara Smart Farming memaparkan paket investasi nursery porang berkapasitas 100.000 bibit, target produksi satu siklus selama sembilan bulan.

PEKANBARU (RiauInfo) – Rapat Pleno dan Rapat Koordinasi Dewan Pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Riau Tahun 2026 menghadirkan paparan Presiden Direktur PT Mitra Porang Nusantara (MPN), Deny Welianto, mengenai pembangunan ekosistem porang dari hulu hingga hilir sebagai strategi memperkuat kemandirian organisasi dan ekonomi daerah. Kegiatan bertema Membangun Kemandirian Organisasi Melalui Kemitraan Usaha itu digelar di Ruang Rapat Graha Kadin Riau Lantai 2, Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, Senin (29/6/2026).

Dalam paparannya, Deny menjelaskan bahwa ekspor porang Indonesia mengalami penurunan drastis pada periode 2020 hingga 2021. Kondisi tersebut diperparah oleh fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang mendorong masyarakat membudidayakan porang tanpa edukasi memadai, kemudian disusul larangan ekspor ke China pada 2022 yang menyebabkan banyak bibit porang dimusnahkan.

Menurut Deny, porang merupakan komoditas bernilai tinggi yang memiliki masa harga terbaik hanya sekitar dua bulan. Kandungan glukomanan dengan tingkat viskositas tinggi menjadikan porang sebagai bahan baku yang dibutuhkan berbagai industri.

"Porang tidak hanya untuk pangan, tetapi juga memiliki pasar pada sektor industri, farmasi, kosmetik, dan pangan. Karena itu ekosistemnya harus dibangun secara menyeluruh dari hulu hingga hilir," kata Deny.

Ia menambahkan, berbagai persoalan yang dihadapi petani selama ini berawal dari perpindahan bibit porang dari kawasan hutan tanpa pendampingan budidaya yang benar. Selain itu, fluktuasi harga dipengaruhi fenomena FOMO, larangan BACC, hingga kondisi kelebihan pasokan (oversupply), sementara seluruh risiko pertanian masih ditanggung petani.

Sebagai solusi, PT Mitra Porang Nusantara membangun ekosistem porang yang menghubungkan petani, pembibitan (nursery), pelaku usaha, hingga industri dan UMKM. Melalui sistem tersebut, setiap kabupaten dirancang memiliki nursery yang mampu mengakomodasi tiga petani sebagai pusat produksi bibit.

Deny menjelaskan bahwa model bisnis tersebut diproyeksikan mampu mendorong kemandirian ekonomi daerah dengan potensi nilai siklus usaha mencapai Rp16,4 miliar. Sistem nursery juga menjadi mesin produksi bibit porang secara berkelanjutan sehingga pasokan tetap terjaga.

Dalam skema bisnis yang ditawarkan, petani akan terhubung dengan nursery melalui aplikasi Porang Insight. "Kontrak farming antara nursery dan petani dilakukan secara transparan dengan selisih harga Rp500 sehingga memberikan kepastian usaha bagi semua pihak," jelas Deny.

Selain itu, PT Mitra Porang Nusantara memperkenalkan aplikasi Kadin Connect yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung alur bisnis, memetakan potensi usaha, serta menyediakan transparansi data harga dan pelaku usaha di Provinsi Riau. Platform tersebut diharapkan membuka peluang investasi sekaligus memperkuat kemandirian organisasi Kadin.

Dalam roadmap menuju tahun 2030, Deny menyampaikan target utama adalah mewujudkan Kadin yang mandiri dan mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Ia juga menargetkan Kadin Riau menjadi pusat akses dan pengembangan jejaring bagi Kadin di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Bengkulu.

Pada kesempatan yang sama, Direktur PT Nusantara Smart Farming, Himawan Guritno, memaparkan konsep teknis pengembangan nursery porang. Perusahaannya mengusung enam nilai utama, yakni Profesional, Standardized, Collaborative, Innovative, Data Driven, dan Sustainable, sebagai dasar pengembangan usaha berbasis teknologi.

Himawan menjelaskan investasi pembangunan nursery berkapasitas 100.000 bibit porang terdiri atas Paket Ekonomi dengan konstruksi bambu senilai Rp190 juta, Paket Profesional menggunakan baja ringan single slope senilai Rp253 juta, serta Paket Premium dengan konstruksi baja ringan eksklusif senilai Rp468 juta. Target produksi ditetapkan satu siklus selama sembilan bulan, di mana setiap tanaman porang akan menghasilkan bibit untuk penanaman berikutnya.

Menutup paparannya, Deni mengajak Kadin Riau beserta seluruh jajaran pengurus untuk membangun kemitraan dalam pengembangan ekosistem porang. "Kami mengajak Kadin Riau bersama seluruh pengurus untuk bermitra demi mewujudkan kemandirian perusahaan sekaligus kemandirian organisasi," ujar Deni.

 

Berita Lainnya

Index