Oleh: Hadif, mahasiswa Universitaz Tazkia Bogor
Sinema Indonesia terlalu lama memanjakan penonton dengan ilusi bahwa keluarga selalu menemukan jalan pulang. Konflik, betapapun peliknya, kerap diselesaikan dalam satu adegan rekonsiliasi yang hangat—seolah luka batin bisa pulih secepat pergantian babak. Pola ini bukan hanya klise, tetapi juga membentuk ekspektasi semu tentang realitas.
Dalam lanskap semacam itu, Semua Akan Baik-Baik Saja karya Baim Wong—yang dijadwalkan tayang 13 Mei 2026—menawarkan sikap berbeda: ia tidak menenangkan, justru mengganggu. Film ini membongkar frasa yang paling sering kita gunakan untuk bertahan, sekaligus paling jarang kita pertanyakan: “semua akan baik-baik saja.”
Kalimat tersebut, dalam praktiknya, lebih dekat pada penyangkalan ketimbang harapan. Ia menjadi mantra yang diulang untuk meredam kecemasan, bukan untuk menghadapi masalah. Film ini menangkap keganjilan itu sejak awal, lalu mendorong penonton untuk melihat konsekuensinya secara telanjang.
Tokoh Langit (Reza Rahadian) menjadi pintu masuk yang efektif. Ia bukan pahlawan yang pulang membawa solusi, melainkan individu yang selama ini memilih menjauh dari keluarganya. Kepulangannya—yang dipicu oleh permintaan sang kakak, Tari (Happy Salma)—tidak menghadirkan rekonsiliasi, melainkan konfrontasi brutal dengan kenyataan: kematian. Ia dipaksa berhadapan langsung dengan jenazah Tari, sebuah pengalaman yang menghapus jarak emosional yang selama ini ia bangun.
Di titik ini, film menolak memberikan ruang bagi sentimentalitas yang berlebihan. Duka tidak ditampilkan sebagai momen katarsis yang indah, melainkan sebagai beban yang konkret. Langit harus mengurus anak-anak yang ditinggalkan, sementara konflik lain segera menyusul. Mantan suami Tari (Teuku Rifnu Wikana) datang bukan untuk berduka, tetapi untuk menuntut hak atas harta.
Di sinilah film menjadi relevan secara sosial. Ia menyingkap wajah keluarga yang jarang diakui: sebagai ruang konflik kepentingan. Ketika figur sentral hilang, relasi yang selama ini tampak utuh dapat runtuh dalam sekejap, digantikan oleh tarik-menarik antara tanggung jawab, hak, dan—sering kali—keserakahan. Film ini seperti mengingatkan bahwa keluarga bukan selalu tempat paling aman; ia juga bisa menjadi arena negosiasi yang paling keras.
Namun, kekuatan film ini tidak hanya terletak pada konflik. Pilihan untuk menghadirkan karakter anak dengan sindrom Down yang diperankan oleh individu dengan kondisi serupa menunjukkan keberanian yang jarang ditemui. Di tengah industri yang kerap menjadikan disabilitas sebagai alat pemancing empati sesaat, keputusan ini terasa sebagai pergeseran penting.
Kehadiran Alim bukan sekadar simbol, melainkan subjek yang hidup dalam cerita. Interaksinya dengan Reza Rahadian menghadirkan kejujuran yang sulit direkayasa. Dalam konteks ini, film tidak hanya berbicara tentang keluarga, tetapi juga tentang siapa yang berhak tampil dan diakui dalam narasi besar sinema.
Pilihan casting lainnya juga menarik untuk dibaca. Kehadiran Christine Hakim memberi dimensi otoritas yang ambigu—apakah figur tua selalu menjadi penopang, atau justru bagian dari struktur yang menekan? Sementara itu, debut Ade Rai menghadirkan ironi tersendiri. Sosok yang identik dengan kekuatan fisik ditempatkan dalam lanskap emosional yang rapuh, seakan menantang definisi maskulinitas yang selama ini kaku.
Pada akhirnya, Semua Akan Baik-Baik Saja tidak menawarkan pelipur lara. Ia tidak berjanji bahwa segala sesuatu akan kembali utuh. Sebaliknya, film ini menolak premis tersebut sejak awal. “Baik-baik saja” tidak hadir sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai proses yang penuh luka, kompromi, dan kelelahan.
Dalam konteks itu, film ini terasa penting. Ia mengajak penonton untuk berhenti mengandalkan kalimat penenang, dan mulai mengakui bahwa tidak semua hal bisa diperbaiki dengan mudah. Ada kehilangan yang tidak tergantikan, ada relasi yang tidak bisa dipulihkan sepenuhnya.
Dan mungkin, justru dari pengakuan itulah, makna “baik-baik saja” yang lebih jujur bisa ditemukan—bukan sebagai ilusi, melainkan sebagai keberanian untuk tetap berjalan di tengah ketidakpastian.