Ratusan Jemaah Padati Tarawih Perdana di Masjid Al-Jihad Pekanbaru, Pengurus Baru Luncurkan Program Ekonomi

Ratusan Jemaah Padati Tarawih Perdana di Masjid Al-Jihad Pekanbaru, Pengurus Baru Luncurkan Program Ekonomi
Ustadz Dr. H. M. Rakib Jamari, SH, M.AG memberikan tausiah di Mesjid Al-Jihad, Pekanbaru pada malam pertama Bulan Ramadhan, Rabu (18/02/2026)

PEKANBARU (RiauInfo) – Kota Pekanbaru mulai diselimuti suasana religius seiring dengan pelaksanaan ibadah salat Tarawih perdana menyongsong 1 Ramadhan 1447 Hijriah yang jatuh pada Rabu (18/02/2026) malam. Di Masjid Paripurna Al-Jihad, Jalan Melur, ratusan jemaah tampak antusias memadati ruang masjid untuk menunaikan ibadah secara berjemaah dengan khidmat dan penuh rasa syukur.

Momen ini menjadi kian istimewa karena bertepatan dengan perkenalan resmi jajaran pengurus baru Masjid Paripurna Al-Jihad untuk masa bakti 2026-2031. Kehadiran sejumlah tokoh masyarakat dari Kelurahan Kedung Sari, Kecamatan Sukajadi, Kota Pekanbaru turut menambah kekentalan ukhuwah dalam pembukaan bulan suci tahun ini di lingkungan tersebut.

Ketua Umum Pengurus Masjid Paripurna Al-Jihad, H. Roni Amriel, SH MH, dalam sambutannya menyebutkan bahwa malam pertama Ramadhan ini dikonsep dengan semangat kebersamaan yang baru. Pihak pengurus tampil kompak dengan seragam khusus; imam dan muazin mengenakan busana putih bersih, sementara petugas lainnya mengenakan rompi identitas.

Roni menjelaskan bahwa jajaran pengurus baru ini merupakan hasil musyawarah mufakat demi kemajuan rumah ibadah ke depannya. Sebagai ketua terpilih, ia memperkenalkan Sekretaris Sofyadi, Bendahara H. Ridwan Selamat, serta jajaran wakil ketua yang akan mendampinginya selama lima tahun ke depan dalam mengelola manajemen masjid.

Kemandirian Ekonomi Melalui Al-Jihad Mart

Selain memperkenalkan struktur organisasi, Roni memaparkan visi besar pengurus dalam memberdayakan ekonomi umat berbasis masjid. Salah satu program unggulan yang ditargetkan mulai terwujud selama bulan Ramadhan ini adalah pendirian unit usaha "Al-Jihad Mart" sebagai motor ekonomi jemaah.

"Program Al-Jihad Mart ini diharapkan menjadi sumber dana berkelanjutan untuk mendukung program-program kemakmuran masjid. Kami ingin masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat kemandirian ekonomi bagi warga sekitarnya," ujar Roni Amriel di hadapan ratusan jemaah.

Ia juga mengajak seluruh warga di sekitar lingkungan masjid, sekitar Jalan Melur untuk senantiasa meramaikan masjid dengan berbagai kegiatan ibadah dan sosial sepanjang bulan suci. Menutup sambutannya, Roni menyampaikan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa kepada seluruh jemaah dengan doa agar diberikan kekuatan dan kelancaran dalam menjalankannya. 

Pesan Pengendalian Diri dan Bahaya Sifat Kikir

Memasuki sesi santapan rohani, penceramah ustadz Dr. H. M. Rakib Jamari, SH, M.Ag menyampaikan tausiah mendalam mengenai makna 'Marhaban' dan esensi pengendalian diri. Beliau menjelaskan bahwa istilah 'Marhaban' bukan sekadar ucapan selamat datang, melainkan simbol kesiapan jiwa menerima tamu agung yakni bulan Ramadhan.

Dalam uraiannya, ustadz Dr. Rakib menekankan bahwa inti dari puasa adalah perang melawan hawa nafsu secara totalitas. Penceramah kondang ini memperingatkan jemaah mengenai tiga hal utama yang dapat merusak kualitas puasa serta menghanguskan pahala ibadah, sehingga puasa yang dijalankan tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga.

Dr. Rakib juga menyoroti fenomena sosial mengenai bahaya kekikiran yang keterlaluan serta sifat merasa benar sendiri. Menurutnya, harta yang dikelola dengan sifat kikir tidak akan membawa berkah, sementara amalan yang dilakukan dengan tulus akan menjadi cahaya penerang bagi pelakunya kelak di alam kubur.

"Penerangan yang kita bangun di dunia melalui sedekah dan kebaikan akan menjadi penerang kita di alam kubur. Sebaliknya, sifat merasa paling benar hanya akan merusak tatanan persaudaraan dan menghalangi datangnya hidayah Allah dalam hati kita," jelasnya dalam pesan moralnya.

Terakhir, ia mengingatkan jemaah mengenai ancaman keras terhadap harta yang disembunyikan dari kewajiban zakat. Berdasarkan tuntunan agama, harta yang dibanggakan tanpa menunaikan hak kaum dhuafa akan menjadi beban berat di akhirat kelak, yang diibaratkan seperti kalung yang menjerat leher pemiliknya.

Rangkaian salat Tarawih perdana ini berjalan dengan sangat tertib, lancar, dan penuh kekhusyukan. Jemaah yang hadir tampak meresapi setiap butir pesan yang disampaikan, menandai dimulainya perjalanan spiritual masyarakat Kedung Sari dan sekitarnya di bulan penuh berkah tahun 2026 ini.

 

 

Berita Lainnya

Index