PEKANBARU (RiauInfo) – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau mendorong penguatan profesionalisme dan etika wartawan di tengah perubahan industri media digital. Pesan tersebut disampaikan Ketua PWI Riau Raja Isyam Azwar dalam rangkaian Anugerah Jurnalistik Ali Kelana 2026 bertema pembangunan energi berkelanjutan di Riau.
Raja Isyam Azwar menyoroti tantangan profesionalisme pers yang semakin kompleks. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah munculnya oknum yang mengaku sebagai wartawan, tetapi tidak tergabung dalam organisasi pers resmi.
Menurut Raja Isyam, penyalahgunaan profesi wartawan dapat merusak kepercayaan publik terhadap pers. Praktik seperti intimidasi, pemerasan, dan perilaku tidak etis dinilai bertentangan dengan prinsip jurnalistik yang profesional.
“Pentingnya peran organisasi pers dalam membina wartawan agar bekerja secara profesional.”
Raja Isyam juga menyoroti kondisi industri media yang menghadapi persoalan integritas. Banyaknya media online yang belum terverifikasi dan belum memiliki kompetensi jurnalistik menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan pers yang kredibel.
Diskusi Masa Depan Pers Riau
Persoalan tersebut menjadi bagian dari Diskusi Tantangan dan Masa Depan Pers Riau yang menghadirkan Raja Isyam Azwar sebagai moderator. Diskusi menghadirkan Erwin Ardian, Pemimpin Redaksi Tribun Pekanbaru, dan Dr Suyanto, SSos, MSc sebagai pembicara.
Diskusi membahas prospek dunia pers di Riau sekaligus tantangan yang dihadapi perusahaan media dan wartawan. Perubahan pola konsumsi informasi masyarakat membuat media harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan perilaku pembaca.
Raja Isyam menilai organisasi pers memiliki posisi penting dalam menjaga kualitas profesi. Pembinaan wartawan diperlukan agar tekanan ekonomi dan persaingan industri media tidak menggeser standar etika jurnalistik.
“Upaya menjaga integritas jurnalis di tengah tekanan ekonomi dan persaingan industri media.”
Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) Riau Supriyadi turut menyampaikan pandangan mengenai masa depan pers di Riau. Supriyadi menekankan pentingnya diskusi untuk melihat prospek dan tantangan dunia pers di tengah perubahan zaman.
Supriyadi juga menyampaikan informasi terkait kegiatan organisasi serta apresiasi terhadap mitra media. Kolaborasi antara pemerintah, organisasi pers, asosiasi wartawan, dan perusahaan media dinilai menjadi bagian penting dalam menghadapi perkembangan industri informasi.
Transformasi Teknologi dan Etika Wartawan
Supriyadi menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah ekosistem media secara signifikan. Dunia pers mengalami transformasi dari media cetak konvensional menuju media digital yang memungkinkan informasi diproduksi dan disebarkan dengan lebih cepat.
Perubahan tersebut sekaligus membawa tantangan baru bagi wartawan. Kecepatan distribusi informasi harus tetap diimbangi dengan verifikasi, akurasi, tanggung jawab, dan kepatuhan terhadap etika jurnalistik.
Supriyadi mengingatkan agar perkembangan teknologi tidak membuat wartawan mengabaikan nilai moral dalam menjalankan profesinya. Pengawasan dan kesadaran terhadap tanggung jawab profesi tetap diperlukan ketika media menghadapi perubahan yang cepat.
“Kewaspadaan terhadap perubahan zaman dengan tetap menjaga nilai moral dan pengawasan Tuhan.”
Diskusi juga menempatkan kolaborasi antarorganisasi wartawan sebagai salah satu bagian penting dalam menghadapi tantangan pers di Riau. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat pembinaan sekaligus meningkatkan kualitas dan integritas wartawan.
Rangkaian Anugerah Jurnalistik Ali Kelana 2026 dengan tema pembangunan energi berkelanjutan menjadi momentum untuk mempertemukan insan pers dan pemangku kepentingan dalam membahas masa depan jurnalistik di Riau. Selain memberikan apresiasi terhadap karya jurnalistik, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk membicarakan tantangan profesionalisme pers.
Dengan perubahan teknologi yang terus berlangsung, tantangan pers Riau tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menguasai platform digital. Profesionalisme, etika, integritas, serta kemampuan organisasi pers dalam melakukan pembinaan tetap menjadi unsur penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap media.