JAKARTA (RiauInfo) – Fenomena El Niño yang melanda Indonesia pada awal September 2026 meningkatkan risiko terhadap produksi kelapa sawit dan industri biodiesel. Penurunan produktivitas tandan buah segar (TBS) akibat cuaca panas dan kekeringan berpotensi mengurangi pasokan crude palm oil (CPO) sebagai bahan baku utama biodiesel.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Indonesia sedang menjalankan mandatori biodiesel B50, yaitu campuran biodiesel sebesar 50 persen dalam bahan bakar solar. Gangguan pasokan CPO dapat meningkatkan tekanan terhadap biaya produksi biodiesel sekaligus memengaruhi rantai pasok bahan bakar nabati di dalam negeri.
Direktur Eksekutif Sawit Watch, Achmad Surambo, mengatakan dampak El Niño sudah terlihat pada penurunan produksi TBS di lapangan. Menurut Achmad, gangguan produksi TBS berpotensi berlanjut karena dampak kekeringan dapat membayangi pasokan dalam beberapa bulan ke depan.
“Dampak El Niño ini terasa sangat langsung pada penurunan produksi TBS di lapangan. Ketika pasokan bahan baku kelapa sawit menurun, otomatis pasokan crude palm oil atau CPO yang menjadi bahan utama pembuat biodiesel ikut terganggu,” ujar Achmad Surambo, Kamis (3/9/2026).
Produksi TBS Menjadi Titik Rawan
Penurunan produktivitas TBS menjadi pukulan pertama bagi industri sawit dan biodiesel. Sawit Watch mencatat cuaca panas ekstrem serta kekeringan berkepanjangan yang dipicu El Niño berpotensi menurunkan hasil panen kelapa sawit di sejumlah daerah sentra produksi.
Gangguan pada tingkat kebun dapat berlanjut ke industri pengolahan. Ketika TBS yang tersedia berkurang, bahan baku untuk menghasilkan CPO ikut tertekan sehingga ketersediaan CPO untuk kebutuhan industri, termasuk biodiesel, berpotensi mengalami gangguan.
Risiko tersebut tidak hanya berkaitan dengan kondisi pasokan saat ini. Sawit Watch memperingatkan dampak kekeringan dapat membayangi ketersediaan bahan baku selama beberapa bulan setelah periode cuaca ekstrem berlangsung. Kondisi itu membuat stabilitas rantai pasok biodiesel menjadi salah satu sektor yang perlu diperhatikan.
Harga CPO Berpotensi Menguat
Di sisi lain, penurunan produksi sawit dapat memberikan dukungan terhadap harga CPO. Kekhawatiran terhadap pasokan membuat harga minyak sawit mentah berpotensi mendapatkan sentimen bullish ketika pasar memperkirakan ketersediaan komoditas semakin ketat.
Pakar energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, menjelaskan kenaikan harga CPO dapat langsung meningkatkan biaya produksi biodiesel. Yayan menyebut sekitar 85 persen biaya pembuatan biodiesel berasal dari harga CPO.
“Biaya produksi biodiesel naik karena bahan bakunya atau CPO ini menjadi mahal karena penurunan produksi akibat El Niño tadi,” ungkap Yayan Satyakti pada 2 September 2026.
Kenaikan harga CPO juga berpengaruh terhadap Harga Indeks Pasar (HIP) Biodiesel. Penetapan HIP Biodiesel menggunakan komponen harga CPO dan ongkos pengolahan sebesar US$85 per ton, sehingga kenaikan harga bahan baku dapat mendorong kenaikan nilai HIP Biodiesel.
B50 Menghadapi Tekanan Biaya
Penerapan B50 membuat kebutuhan bahan baku biodiesel semakin penting bagi keberlangsungan program mandatori biodiesel Indonesia. Ketika produksi sawit turun dan harga CPO meningkat, produsen biodiesel menghadapi tekanan dari sisi ketersediaan bahan baku sekaligus biaya produksi.
Yayan Satyakti menilai selisih antara HIP Biodiesel dan HIP Solar berisiko melebar ketika harga CPO meningkat. Selisih tersebut berkaitan dengan kebutuhan subsidi per liter untuk menutup perbedaan harga biodiesel dan solar.
Dengan demikian, El Niño menciptakan tekanan pada dua sisi. Dari sisi hulu, produktivitas TBS dan pasokan CPO berpotensi turun, sedangkan dari sisi hilir, produsen biodiesel berpotensi menghadapi kenaikan biaya produksi akibat harga CPO yang lebih tinggi.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah, industri sawit, produsen biodiesel, dan pelaku rantai pasok untuk menjaga ketersediaan bahan baku selama periode risiko El Niño. Stabilitas produksi TBS dan pasokan CPO menjadi faktor penting dalam menjaga kesinambungan implementasi B50.
Risiko El Niño terhadap sawit dan biodiesel juga menunjukkan keterkaitan erat antara kondisi iklim, produksi komoditas, harga CPO, dan biaya energi terbarukan. Pemantauan produksi sawit dan perkembangan harga CPO menjadi penting untuk mengantisipasi dampaknya terhadap rantai pasok biodiesel Indonesia.