Agrinas Palma Proyeksikan Kebutuhan CPO Indonesia 104 Juta Ton pada 2045

Sabtu, 05 September 2026 | 11:22:40 WIB
Agrinas Palma memproyeksikan kebutuhan CPO Indonesia mencapai 104 juta ton pada 2045, didorong biodiesel, pangan, ekspor, dan produk turunan.

JAKARTA (RiauInfo) – PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) memproyeksikan kebutuhan minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) Indonesia mencapai sekitar 104 juta ton pada 2045. Kebutuhan tersebut mencakup bahan baku biodiesel, pangan, ekspor, produk turunan sawit, hingga Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Proyeksi kebutuhan CPO tersebut disampaikan Direktur Utama Agrinas Palma Nusantara Mohammad Abdul Ghani di Jakarta, Jumat, 4 September 2026. Angka 104 juta ton menunjukkan kebutuhan peningkatan produksi sawit yang besar dalam 19 tahun mendatang.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Agrinas Palma memperkirakan produktivitas perkebunan perlu ditingkatkan dari sekitar 3 ton menjadi 4,4 ton CPO per hektare. Selain peningkatan produktivitas, diperlukan penambahan areal perkebunan sekitar 7,4 juta hektare.

Intensifikasi dan Ekstensifikasi

Mohammad Abdul Ghani mengatakan peningkatan produksi harus ditempuh melalui dua pendekatan utama, yakni intensifikasi dan ekstensifikasi perkebunan. Kedua pendekatan tersebut dinilai penting untuk menjamin ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.

“Baik intensifikasi dan ekstensifikasi perkebunan menjadi kunci dalam menjamin ketersediaan bahan baku berkelanjutan untuk mendukung ketahanan energi nasional,” kata Abdul Ghani.

Intensifikasi diarahkan melalui percepatan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penerapan pola tumpang sari tanaman pangan, Good Agricultural Practices, digitalisasi, mekanisasi, serta penguatan riset dan inovasi. Langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan produktivitas kebun tanpa semata-mata mengandalkan perluasan areal.

Sementara itu, ekstensifikasi direncanakan melalui verifikasi kawasan Hutan Produksi yang dapat Dikonversi. Pengembangan tersebut disebut perlu disertai reforestasi terhadap sisa kawasan dan pemanfaatan area marginal.

Peningkatan produksi juga harus berjalan bersama tata kelola perkebunan berkelanjutan. Agrinas Palma menekankan perlindungan kawasan High Conservation Value (HCV) dan High Carbon Stock (HCS), pelestarian keanekaragaman hayati, larangan penggunaan api dalam pembukaan lahan, serta penerapan sistem ketertelusuran berbasis teknologi informasi.

Kebutuhan Sawit untuk Biodiesel

Kebutuhan CPO domestik juga terdorong oleh perkembangan program biodiesel. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) sebelumnya menyebut implementasi biodiesel meningkatkan konsumsi minyak sawit dalam negeri secara signifikan.

Pada 2025, implementasi B40 diperkirakan menyerap sekitar 13 juta ton minyak sawit. Dengan penerapan B50 pada 2026, kebutuhan bahan baku biodiesel diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 14 juta ton.

Kebutuhan bahan baku biodiesel diperkirakan kembali meningkat pada 2027 menjadi sekitar 16–17 juta ton. Jika digabungkan dengan kebutuhan sektor pangan, oleokimia, dan berbagai produk turunan, konsumsi minyak sawit domestik diproyeksikan mencapai sekitar 29 juta ton.

Abdul Ghani menilai sektor agroindustri memiliki posisi penting dalam menjamin pasokan bioenergi nasional. Tantangan utama sektor tersebut adalah meningkatkan produktivitas, menjaga keberlanjutan, dan memastikan produksi dari sektor hulu terhubung dengan kebutuhan industri bioenergi.

“Indonesia memiliki potensi bioenergi yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan produktivitas, menjaga keberlanjutan, serta memastikan hasil dari sektor hulu dapat terhubung dengan kebutuhan industri bioenergi nasional,” ujar Abdul Ghani.

Hilirisasi dan Teknologi

Agrinas Palma juga mendorong pengembangan hilirisasi sawit melalui rantai produksi yang terintegrasi. Rantai tersebut mencakup pengelolaan kebun berkelanjutan, pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya, penggunaan truk listrik untuk mengurangi emisi dan biaya pengangkutan, hingga pengolahan di pabrik kelapa sawit.

Menurut Abdul Ghani, pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi CPO, tetapi juga memberikan dampak terhadap penciptaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan pangan dan energi, pertumbuhan ekonomi inklusif, serta pengembangan ekonomi sirkular.

“Pendekatan tersebut diharapkan membuka lapangan kerja, memenuhi kebutuhan pangan dan energi, menciptakan pertumbuhan ekonomi inklusif, mengoptimalkan ekonomi sirkular, serta mewujudkan pertanian berkelanjutan,” ujar Abdul Ghani.

Rencana pengembangan biodiesel dan bioetanol juga akan dilakukan melalui kerja sama strategis antara Agrinas Palma Nusantara dan PT Pertamina (Persero), dengan dukungan Danantara. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menghubungkan pasokan bahan baku dari sektor agroindustri nasional dengan kebutuhan industri bioenergi.

“Kami ingin menghasilkan biodiesel dan bioetanol dengan dukungan pasokan bahan baku dari sektor agroindustri nasional. Untuk mewujudkannya, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, BUMN, pelaku industri, lembaga pembiayaan, serta pemilik teknologi,” kata Abdul Ghani.

Proyeksi kebutuhan 104 juta ton CPO pada 2045 dengan demikian menempatkan peningkatan produktivitas, peremajaan tanaman, teknologi budidaya, keberlanjutan, hilirisasi, dan efisiensi industri sebagai bagian penting dari strategi pengembangan sawit Indonesia. Tantangan tersebut akan menentukan kemampuan industri sawit memenuhi kebutuhan pangan, energi, dan produk turunan dalam jangka panjang.

Terkini