Bernostalgia Masa Jadi Wartawan, Ketua MPR RI Ahmad Muzani Terima Pengurus PWI Pusat dan Diundang ke HPN 2026

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:08:00 WIB
Ketua MPR RI Ahmad Muzani menerima audiensi Pengurus PWI Pusat. Mengenang masa menjadi wartawan tahun 1991, bahas etika jurnalistik, hingga undangan HPN 2026 di Banten.

JAKARTA (RiauInfo) – Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat menggelar pertemuan penting dengan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Ahmad Muzani, di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, pada Selasa (13/1/2026) sore.

Kunjungan ini bukan sekadar audiensi formal, melainkan menjadi ajang silaturahmi yang sarat makna antara pimpinan lembaga tinggi negara dengan induk organisasi kewartawanan tertua di Indonesia.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana yang hangat dan penuh keakraban. Diskusi yang terbangun tidak hanya membahas isu terkini, namun melebar pada refleksi mendalam mengenai peran pers dalam kehidupan kebangsaan.

Momen ini menjadi spesial ketika Ahmad Muzani membuka lembaran kenangan masa lalunya. Politisi senior ini mengenang kembali perjalanan kariernya saat masih menggeluti dunia jurnalistik puluhan tahun silam.

Ia bercerita, pada tahun 1991, dirinya pernah mengikuti ujian seleksi untuk menjadi wartawan muda di PWI DKI Jakarta. Ada satu momen dalam ujian tersebut yang hingga kini masih membekas kuat dalam ingatannya.

“Salah satu pertanyaannya adalah, jika dalam meliput kita menemukan kecelakaan di tengah jalan, mana yang didahulukan, membantu korban atau menulis berita?” ujar Muzani menirukan soal ujian masa itu.

Dengan tegas, Muzani menceritakan bahwa saat itu ia memilih jawaban untuk membantu korban terlebih dahulu, baru kemudian melaksanakan tugas memberitakan peristiwa tersebut.

Bagi Muzani, sisi kemanusiaan harus selalu ditempatkan di atas kepentingan apa pun, termasuk eksklusivitas berita. Jawaban itulah yang kemudian mengantarkannya lulus sebagai wartawan muda PWI.

“Menjadi wartawan itu bukan sekadar profesi, tapi panggilan hati. Artinya memilih untuk mengatakan yang benar itu benar, dan yang salah itu salah,” tegas pria yang pernah berkarier di majalah Amanah dan penyiar radio Ramako tersebut.

Menurutnya, esensi menjadi seorang jurnalis adalah memperjuangkan kebenaran serta kepentingan rakyat banyak di atas kepentingan pribadi. Nilai luhur ini, menurut Muzani, harus terus hidup meski seseorang telah berpindah profesi.

“Saya tidak pernah merasa terpisah dari wartawan. Hati saya sampai sekarang masih wartawan,” ungkapnya dengan nada serius.

Muzani juga menyinggung sejarah panjang PWI. Ia mengingatkan kembali nilai-nilai dasar yang dirumuskan sejak Kongres PWI tahun 1946 di Solo, yang menempatkan pers sebagai alat perjuangan.

“Di PWI wartawan itu disebut pejuang, sebab memperjuangkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi,” tuturnya menambahkan.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Muzani juga menyoroti perubahan lanskap jurnalistik saat ini. Ia mengapresiasi peran netizen dan konten kreator yang turut mengambil peran pewarta di ruang digital.

“Dari pemberitaan mereka kita mengetahui bahwa ada bantuan yang belum sampai dan penanganan yang belum optimal,” ujarnya melihat sisi positif jurnalisme warga.

Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, menyambut positif refleksi mendalam yang disampaikan oleh Ketua MPR RI tersebut. Kisah Muzani dinilai menjadi pengingat penting bagi seluruh insan pers.

“Apa yang disampaikan Ketua MPR menunjukkan bahwa jurnalisme sejati selalu bertumpu pada kebenaran dan kemanusiaan. Nilai-nilai inilah yang terus kita jaga di PWI,” ujar Akhmad Munir yang juga menjabat Ketua Dewas LKBN Antara.

Munir menegaskan bahwa PWI sebagai rumah besar wartawan Indonesia berkomitmen tetap merawat nilai-nilai luhur para pendiri bangsa yang berkontribusi terhadap kemajuan negara.

Undangan HPN 2026 di Banten

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal PWI Pusat, Zulmansyah Sekedang, memanfaatkan momentum ini untuk menyampaikan agenda besar kewartawanan nasional yang akan segera digelar.

Zulmansyah menyampaikan bahwa pertemuan ini juga menjadi bagian dari komunikasi strategis PWI menjelang pelaksanaan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang akan dipusatkan di Provinsi Banten.

“Kami secara resmi mengundang Ketua MPR RI untuk dapat hadir pada peringatan Hari Pers Nasional. Kehadiran beliau tentu akan menjadi kehormatan dan penguat semangat insan pers dalam menjalankan peran kebangsaan,” kata Zulmansyah selaku Ketua Panitia HPN 2026.

Ia menambahkan, HPN merupakan momentum refleksi bersama antara pers dan negara dalam menjaga demokrasi, persatuan, serta kepentingan nasional di masa depan.

Audiensi ini turut dihadiri jajaran lengkap Pengurus PWI Pusat, antara lain Bendahara Umum Marthen Selamet Susanto, Ketua Bidang Kemitraan dan Kerjasama Ariawan beserta wakilnya Kadirah, serta Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Irfan Junaidi.

Selain itu, hadir pula Wakil Sekretaris Jenderal Haryo Ristamadji, Ketua Departemen Hankam TNI-Polri Johnny Hardjojo beserta wakilnya Musrifah dan Badar Subur, Ketua Departemen Parlemen Ade Candra, Ketua Departemen Seni Budaya Ramon Damora, Ketua Departemen Kajian dan Litbang Akhmad Sefudin, serta Wakil Humas Akhmad Dani.

 

Tags

Terkini