JAKARTA (RiauInfo) - Indonesia mempunyai kebun kelapa sawit yang jauh lebih luas misalnya dibanding negeri jiran Malaysia. Sayangnya, sejauh ini sawit di Indonesia belum memberikan efek ekonomi yang maksimal bagi perekonomian masyarakat.
"Sebenarnya Indonesia bisa lebih produktif misalnya dibandingkan Malaysia. Tapi memang kita harus bekerja keras untuk itu. Antara lain dengan melakukan penelitian dan riset yang lebih baik, sehingga sawit bisa memberikan nilai ekonomi yang lebih baik bagi perekonomian masyarakat kita," ujar Gubernur Riau (Gubri) HM Rusli Zainal SE MP saat menjadi pembicara pada seminar sehari bertajuk "Perubahan Iklim dan Masa Depan Pertanian Indonesia" yang ditaja Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor di Hotel Nikko, Jakarta, Sabtu (26/6).
Selain Gubri, tampil sebagai pembicara Menteri Pertanian (Mentan) Ir H Suswono MMA, Rektor IPB Dr Ir Herry Suhardiyanto MSc, Ketua Himpunan Alumni IPB yang juga salah seorang Deputi Kementerian BUMN Dr Ir M Said Didu serta beberapa pakar pertanian lainnya.
Gubri menjelaskan bahwa di Indonesia satu hektar sawit baru bisa menghasilkan 2,5 ton CPO per tahun. Sementara di Malaysia sudah bisa menghasilkan 4 ton. Di sisi lain, Malaysia juga sudah mengembangkan empat atau lima cluster industri hilir kelapa kelapa sawit.
Sementara Indonesia baru bisa menjual dalam bentuk gelondongan. "Ini antara lain karena riset di Malaysia itu luar biasa. Harusnya kita bisa lebih dari Malaysia karena kita punya lahan sawit yang jauh lebih luas," ulas Gubri lagi.
Di sisi lain, Gubri juga sempat menyinggung soal kontur tanah di Riau yang sekitar 51 persen adalah lahan gambut. Makanya, di Riau sangat rentan terjadi kebakaran hutan dan untuk memadamkannya sangat sulit. Oleh karena itu, harus ada kerja sama dan sinergi antara pusat dan daerah mencari solusi masalah kebakaran hutan ini agar Indonesia tidak lagi dianggap sebagai negara pengekspor asap.
Sementara itu, Mentan Suswono mempertanyakan black campaign beberapa pihak terhadap keberadaan sawit di Indonesia. Mentan melihat, kampanye negatif tersebut lebih kepada persaingan ekonomi karena sebenarnya sawit di Indonesia jauh lebih efisien. "Negara lain sebenarnya sulit untuk bersaing dengan sawit di Indonesia," ucap Suswono.
Bahkan, isu yang mengatakan bahwa pembangunan kebun kelapa sawit telah menyebabkan degradasi hutan dan berpengaruh negatif terhadap perubahan iklim, kata Mentan, kurang berdasar. "Ternyata sawit juga bisa menyerap emisi karbon. Sekarang lagi kita hitung berapa sebenarnya yang bisa diserap sawit itu," katanya.
Mentan tetap optimis, pembangunan kebun kelapa sawit di Indonesia akan turut memajukan perekonomian masyarakat kendati pembangunan dilakukan dengan banyak syarat, misalnya kebun kelapa sawit boleh dibangun di atas lahan gambut yang kedalaman tidak lebih dari tiga meter. "Tak bisa kita pungkiri bahwa sawit memberikan kontribusi bagi perekonomian masyarakat," katanya.(ad/rls)Soal Sawit, Indonesia Bisa Lebih Produktif
Kiki
Ahad, 27 Juni 2010 - 04:08:03 WIB
JAKARTA (RiauInfo) - Indonesia mempunyai kebun kelapa sawit yang jauh lebih luas misalnya dibanding negeri jiran Malaysia. Sayangnya, sejauh ini sawit di Indonesia belum memberikan efek ekonomi yang maksimal bagi perekonomian masyarakat.
"Sebenarnya Indonesia bisa lebih produktif misalnya dibandingkan Malaysia. Tapi memang kita harus bekerja keras untuk itu. Antara lain dengan melakukan penelitian dan riset yang lebih baik, sehingga sawit bisa memberikan nilai ekonomi yang lebih baik bagi perekonomian masyarakat kita," ujar Gubernur Riau (Gubri) HM Rusli Zainal SE MP saat menjadi pembicara pada seminar sehari bertajuk "Perubahan Iklim dan Masa Depan Pertanian Indonesia" yang ditaja Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor di Hotel Nikko, Jakarta, Sabtu (26/6).
Selain Gubri, tampil sebagai pembicara Menteri Pertanian (Mentan) Ir H Suswono MMA, Rektor IPB Dr Ir Herry Suhardiyanto MSc, Ketua Himpunan Alumni IPB yang juga salah seorang Deputi Kementerian BUMN Dr Ir M Said Didu serta beberapa pakar pertanian lainnya.
Gubri menjelaskan bahwa di Indonesia satu hektar sawit baru bisa menghasilkan 2,5 ton CPO per tahun. Sementara di Malaysia sudah bisa menghasilkan 4 ton. Di sisi lain, Malaysia juga sudah mengembangkan empat atau lima cluster industri hilir kelapa kelapa sawit.
Sementara Indonesia baru bisa menjual dalam bentuk gelondongan. "Ini antara lain karena riset di Malaysia itu luar biasa. Harusnya kita bisa lebih dari Malaysia karena kita punya lahan sawit yang jauh lebih luas," ulas Gubri lagi.
Di sisi lain, Gubri juga sempat menyinggung soal kontur tanah di Riau yang sekitar 51 persen adalah lahan gambut. Makanya, di Riau sangat rentan terjadi kebakaran hutan dan untuk memadamkannya sangat sulit. Oleh karena itu, harus ada kerja sama dan sinergi antara pusat dan daerah mencari solusi masalah kebakaran hutan ini agar Indonesia tidak lagi dianggap sebagai negara pengekspor asap.
Sementara itu, Mentan Suswono mempertanyakan black campaign beberapa pihak terhadap keberadaan sawit di Indonesia. Mentan melihat, kampanye negatif tersebut lebih kepada persaingan ekonomi karena sebenarnya sawit di Indonesia jauh lebih efisien. "Negara lain sebenarnya sulit untuk bersaing dengan sawit di Indonesia," ucap Suswono.
Bahkan, isu yang mengatakan bahwa pembangunan kebun kelapa sawit telah menyebabkan degradasi hutan dan berpengaruh negatif terhadap perubahan iklim, kata Mentan, kurang berdasar. "Ternyata sawit juga bisa menyerap emisi karbon. Sekarang lagi kita hitung berapa sebenarnya yang bisa diserap sawit itu," katanya.
Mentan tetap optimis, pembangunan kebun kelapa sawit di Indonesia akan turut memajukan perekonomian masyarakat kendati pembangunan dilakukan dengan banyak syarat, misalnya kebun kelapa sawit boleh dibangun di atas lahan gambut yang kedalaman tidak lebih dari tiga meter. "Tak bisa kita pungkiri bahwa sawit memberikan kontribusi bagi perekonomian masyarakat," katanya.(ad/rls)Pilihan Redaksi
IndexSMSI Riau dan DJP Gelar Pelatihan Coretax, Tingkatkan Kemandirian Pelaporan Pajak
Digitalisasi UMKM dan Kesiapan Nyata
Kecerdasan Buatan (AI) di Indonesia: Peluang dan Tantangan
Tulis Komentar
IndexBerita Lainnya
Index Ekonomi & Bisnis
Gebrakan Teknologi, Indosat Hadirkan Panggilan 5G Berbasis AI Pertama di Asia Tenggara pada MWC 2026
Senin, 02 Maret 2026 - 22:32:47 Wib Ekonomi & Bisnis
Bangga! Indonesia Punya Sahabat-Al, Platform Al Berbasis Aplikasi yang Paling Ngerti, Paling Indonesia
Kamis, 26 Februari 2026 - 22:23:34 Wib Ekonomi & Bisnis
Kenyamanan dan Fitur Keselamatan Jadi Magnet, Pengunjung IIMS 2026 Ramai-ramai Jajal The All New Kia Carens
Sabtu, 14 Februari 2026 - 09:06:00 Wib Ekonomi & Bisnis
Lindungi Pejuang Ramadan dari Penipuan Digital, IM3 Luncurkan Fitur SATSPAM+ Berbasis AIvolusi5G
Jumat, 13 Februari 2026 - 13:48:40 Wib Ekonomi & Bisnis