Era AI Mengubah Pers Riau, Suyanto Tekankan Etika dan Independensi

Selasa, 15 September 2026 | 15:21:32 WIB
Dr. Suyanto, SSos, MSc membahas tantangan dan masa depan pers Riau dalam diskusi di Sekretariat PWI Riau, 15 September 2026, yang digelar bersamaan dengan Pengumuman LKTJ Ali Kelana 2026.

PEKANBARU (RiauInfo) – Tantangan dan masa depan pers Riau menjadi tema utama diskusi yang digelar bersamaan dengan Pengumuman Lomba Karya Tulis Jurnalistik (LKTJ) Ali Kelana 2026 di Sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau, Selasa, 15 September 2026. Diskusi menghadirkan Dr. Suyanto, SSos, MSc sebagai pembicara yang membahas perubahan lanskap media akibat kecerdasan buatan generatif (Generative AI) dan algoritma media sosial.

Dr. Suyanto, SSos, MSc menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar terhadap industri media massa. Pergeseran tersebut tidak hanya menyangkut cara media menyampaikan informasi, tetapi juga menyentuh model bisnis, kepercayaan publik, serta kualitas jurnalisme.

Menurut Suyanto, media massa saat ini menghadapi perubahan struktural yang sangat besar karena semakin dominannya platform kecerdasan buatan generatif dan algoritma media sosial. Perubahan tersebut membuat media perlu menyesuaikan strategi agar tetap relevan bagi masyarakat.

“Lanskap media massa sedang mengalami pergeseran tektonik akibat dominasi platform kecerdasan buatan (Generative AI) dan algoritma media sosial,” kata Suyanto.

Tantangan Pers Global

Suyanto menyebut terdapat sejumlah tantangan utama yang sedang dihadapi pers secara global. Tantangan tersebut antara lain penurunan pendapatan iklan konvensional, krisis kepercayaan publik atau trust crisis, serta penyebaran disinformasi dalam skala besar.

Penurunan pendapatan iklan konvensional membuat media harus mencari sumber pendanaan dan model bisnis yang lebih berkelanjutan. Pada saat yang sama, media harus mempertahankan kepercayaan publik ketika informasi yang beredar di ruang digital semakin sulit dibedakan antara informasi yang valid dan disinformasi.

Suyanto menilai masa depan pers global sangat bergantung pada kemampuan perusahaan media membangun model bisnis yang mampu beradaptasi dengan globalisasi. Model tersebut, menurut Suyanto, harus tetap menempatkan transparansi dan etika sebagai prinsip utama.

“Pers global harus mampu membangun model bisnis yang berkelanjutan dengan tetap mengedepankan transparansi dan etika,” ujarnya.

Pers Indonesia dan Publisher Rights

Pada tingkat nasional, Suyanto melihat pers Indonesia menghadapi persoalan keberlanjutan bisnis sekaligus tantangan regulasi. Kerangka hukum pers antara lain mengacu pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan regulasi penyiaran yang disebut dalam pemaparannya.

Suyanto juga menyoroti implementasi kebijakan Publisher Rights melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 32 Tahun 2024. Kebijakan tersebut dinilai menjadi salah satu tonggak penting dalam mendorong hubungan yang lebih adil antara platform digital global dan perusahaan media nasional.

Namun, tantangan industri pers nasional tidak hanya berasal dari faktor ekonomi dan regulasi. Praktik clickbait, sensasionalisme untuk mengejar traffic, serta persoalan independensi media di tengah konsolidasi kepemilikan juga menjadi perhatian.

Menurut Suyanto, tekanan untuk mengejar jumlah pembaca dapat membuat media mengutamakan kuantitas dibandingkan kedalaman dan manfaat pemberitaan. Karena itu, transformasi menuju jurnalisme yang memberikan dampak bagi masyarakat menjadi kebutuhan penting.

“Masa depan pers nasional sangat ditentukan oleh keberanian beralih dari jurnalisme kuantitas menuju jurnalisme berdampak atau impactful journalism,” tutur Suyanto.

 

Tantangan Khusus Pers Riau

Suyanto kemudian menguraikan kondisi pers di Provinsi Riau. Pertumbuhan media online di Riau disebut menunjukkan perkembangan secara kuantitatif, tetapi sebagian media belum memenuhi kualifikasi standar verifikasi perusahaan pers.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi industri pers lokal karena kualitas dan profesionalisme media menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat. Pertumbuhan jumlah media perlu berjalan beriringan dengan peningkatan standar jurnalistik dan profesionalisme perusahaan pers.

Pers Riau juga menghadapi tantangan dalam aspek keberlanjutan finansial. Suyanto menyoroti ketergantungan sebagian media terhadap dana kerja sama dengan pemerintah daerah yang berpotensi memengaruhi fungsi kontrol sosial pers.

Ketergantungan finansial terhadap pemerintah daerah, menurut pemaparan Suyanto, perlu menjadi perhatian karena pers memiliki fungsi kontrol sosial. Independensi menjadi faktor penting agar media tetap dapat menjalankan fungsi pengawasan terhadap kebijakan dan kepentingan publik.

Investigasi dan Jurnalisme Berbasis Data

Selain persoalan bisnis dan independensi, Suyanto menilai isu-isu strategis di Riau membutuhkan kualitas liputan yang lebih mendalam. Isu lingkungan, tata kelola sumber daya alam, dan pemberdayaan masyarakat disebut membutuhkan pendekatan investigatif.

Liputan investigatif membutuhkan riset yang memadai agar pemberitaan tidak berhenti pada informasi permukaan. Penggunaan data juga dinilai penting untuk menghasilkan jurnalisme yang lebih bermutu dan mampu menjelaskan persoalan publik secara komprehensif.

Suyanto menekankan bahwa teknologi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran masa depan pers. Kemampuan media menggunakan teknologi harus berjalan bersama dengan komitmen terhadap nilai-nilai jurnalistik.

“Masa depan pers tidak ditentukan semata oleh teknologi penyampaiannya, melainkan oleh konsistensi pers dalam menjaga marwah, etika, dan profesionalisme,” tegasnya.

Menurut Suyanto, pers tetap memiliki posisi penting sebagai salah satu pilar demokrasi. Media juga berperan sebagai ruang publik yang sehat dan menjadi penyambung suara masyarakat di tengah perubahan ekosistem informasi.

Diskusi “Tantangan dan Masa Depan Pers Riau” tersebut digelar pada rangkaian acara Pengumuman Lomba Karya Tulis Jurnalistik (LKTJ) Ali Kelana 2026 di Sekretariat PWI Riau pada 15 September 2026. Selain Suyanto, sesi diskusi juga menghadirkan Erwin Ardian, Pemimpin Redaksi Tribun Pekanbaru, sebagai pembicara pertama.

 

 

Terkini