Prabowo di KTT BRICS India: Empat Pilar untuk Ekonomi Global yang Adil

Ahad, 13 September 2026 | 22:22:00 WIB
Presiden Prabowo Subianto dalam KTT BRICS India, 13 September 2026, menekankan empat pilar pembangunan ekonomi: resiliensi, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan.

NEW DELHI (RiauInfo) – Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya resiliensi, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan sebagai empat pilar untuk membangun ekonomi yang lebih kuat dan adil bagi rakyat. Pesan tersebut disampaikan Prabowo dalam sesi terbuka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di India, 13 September 2026.

Dalam pidatonya, Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia menghadapi tantangan besar sebagai negara kepulauan yang berada di kawasan Ring of Fire. Kondisi geografis tersebut membuat Indonesia berhadapan dengan risiko bencana dan tantangan perubahan iklim.

Namun, Prabowo menilai tantangan tersebut juga dapat diubah menjadi peluang. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam, termasuk mineral kritis dan rare earth atau unsur tanah jarang yang dinilai penting bagi perkembangan ekonomi hijau global.

BRICS dan Kekuatan Kolektif

Prabowo mengajak negara-negara anggota BRICS memanfaatkan kekuatan kolektif untuk menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan pembangunan. Kekuatan tersebut mencakup sumber daya, kapasitas produksi, teknologi, dan akses pasar yang dimiliki negara-negara anggota.

BRICS harus memanfaatkan kekuatan kolektif negara-negara anggotanya untuk memberikan dampak nyata bagi dunia,” demikian pokok pernyataan Presiden Prabowo dalam sesi terbuka KTT BRICS India.

Menurut Prabowo, penggabungan berbagai kekuatan tersebut dapat memperkuat posisi negara-negara BRICS dalam rantai pasok global. Kerja sama tidak hanya diarahkan pada perdagangan, tetapi juga pada penciptaan nilai tambah melalui penguatan kapasitas produksi dan teknologi.

Prabowo juga menekankan pentingnya BRICS menjadi wadah untuk menghubungkan dan mengoptimalkan rantai pasok antarnegara anggota. Integrasi tersebut diharapkan dapat menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar bagi negara-negara yang terlibat.

Kita perlu menggabungkan sumber daya, kapasitas produksi, kemampuan teknologi, dan akses pasar untuk mengatasi tantangan global bersama,” menjadi salah satu pesan utama Prabowo dalam pidatonya.

Ketahanan Pangan dan Industrialisasi

Selain sumber daya alam dan rantai pasok, Prabowo menyoroti agenda ketahanan pangan. Presiden menyampaikan transformasi Indonesia dari negara pengimpor pangan menjadi negara pengekspor pangan sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian ekonomi.

Prabowo menawarkan kerja sama konkret di antara negara-negara BRICS untuk mendorong industrialisasi. Kerja sama tersebut diarahkan agar sumber daya dan kapasitas produksi tidak berhenti pada kegiatan ekstraksi atau perdagangan bahan mentah.

Industrialisasi bersama dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah dan memperkuat posisi negara-negara berkembang dalam rantai pasok global. Pendekatan tersebut sejalan dengan penekanan Prabowo terhadap inovasi dan pemanfaatan teknologi.

Dalam konteks sumber daya alam, Indonesia memiliki posisi strategis karena memiliki mineral kritis dan rare earth. Sumber daya tersebut disebut Prabowo sebagai bagian penting dari kebutuhan ekonomi hijau global pada masa mendatang.

Memperkuat Suara Global South

Prabowo juga mengangkat posisi negara-negara Global South atau negara-negara berkembang dalam menghadapi perubahan tatanan ekonomi dan politik global. Indonesia menilai negara berkembang perlu memiliki peran lebih besar dalam menentukan arah pembangunan dunia.

Menjelang 2030, Prabowo menekankan pentingnya mempersiapkan tatanan global setelah Agenda 2030. Negara-negara berkembang, menurut pesan yang disampaikan Presiden, perlu ikut menentukan arah tatanan tersebut agar pembangunan global menjadi lebih inklusif.

Agenda pembangunan setelah 2030 diharapkan tetap memberikan ruang bagi negara berkembang untuk mencapai kemakmuran jangka panjang. Karena itu, kerja sama BRICS dipandang sebagai salah satu wadah untuk memperkuat posisi kolektif negara-negara Global South.

Pidato Prabowo di KTT BRICS India pada 13 September 2026 dengan demikian menempatkan kerja sama ekonomi, industrialisasi, ketahanan pangan, teknologi, dan keberlanjutan sebagai bagian yang saling berkaitan.

Pesan utama Indonesia melalui Prabowo adalah perlunya mengubah tantangan global menjadi peluang melalui kekuatan kolektif. BRICS didorong tidak hanya menjadi forum kerja sama antarnegara, tetapi juga menjadi penghubung sumber daya, teknologi, produksi, pasar, dan rantai pasok untuk menghasilkan manfaat yang lebih nyata bagi masyarakat.

Bagi Indonesia, agenda tersebut juga berkaitan dengan upaya memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam. Kerja sama industrialisasi, teknologi, pangan, dan rantai pasok menjadi bagian dari tawaran Indonesia dalam memperkuat kontribusi BRICS terhadap ekonomi global.

Dengan memasuki periode menuju 2030, Prabowo menegaskan pentingnya memastikan suara negara-negara berkembang tetap diperhitungkan dalam pembentukan tatanan global berikutnya. Indonesia mendorong BRICS memainkan peran dalam menciptakan pembangunan yang lebih inklusif dan kemakmuran jangka panjang.

Terkini