Investasi Pariwisata Indonesia Rp73,56 Triliun, Pemerintah Bidik 13 Destinasi

Sabtu, 12 September 2026 | 16:30:25 WIB
Investasi pariwisata Indonesia mencapai rekor Rp73,56 triliun pada 2025, tetapi sekitar 76,5 persen masih terkonsentrasi di Jakarta dan Bali.

JAKARTA (RiauInfo) – Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mendorong investor asing dan mitra internasional memperluas investasi pariwisata Indonesia ke 13 Destinasi Pariwisata Prioritas dan 10 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata. Dorongan tersebut disampaikan dalam forum Monthly Economic Diplomatic Breakfast di Jakarta, Jumat, 11 September 2026. 

Investasi pariwisata Indonesia mencatat rekor Rp73,56 triliun pada 2025, atau sekitar 4,17 miliar dolar AS. Namun, distribusi investasi masih terkonsentrasi di Jakarta dan Bali dengan porsi sekitar 76,5 persen. 

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena konsentrasi investasi di dua wilayah utama membuat manfaat ekonomi sektor pariwisata belum tersebar secara optimal ke berbagai daerah.

“Itulah mengapa saat ini kami mendiversifikasi investasi ke destinasi prioritas lain di luar Bali dan Jakarta,” kata Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dalam forum yang digelar bersama Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin Indonesia). 

Investasi Masih Didominasi Hotel dan Restoran

Selain persoalan geografis, pemerintah juga melihat adanya konsentrasi investasi berdasarkan jenis usaha. Sekitar 75 persen investasi pariwisata Indonesia pada periode tersebut diarahkan ke pembangunan hotel dan restoran. 

Pemerintah ingin memperluas struktur investasi sehingga tidak hanya bertumpu pada akomodasi dan usaha makanan. Diversifikasi tersebut mencakup pembangunan infrastruktur pendukung aksesibilitas, marina kapal pesiar, serta atraksi wisata baru.

Menurut Widiyanti, perluasan investasi ke berbagai subsektor dapat membentuk ekosistem pariwisata yang lebih kuat sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi daerah.

Pemerintah juga menilai perubahan pola perjalanan wisatawan mulai menciptakan peluang bagi destinasi di luar Jawa dan Bali. Pergeseran tersebut dinilai dapat menjadi dasar untuk menarik investasi baru ke berbagai daerah tujuan wisata.

Kunjungan Danau Toba Tumbuh Lebih dari 106 Persen

Salah satu contoh perkembangan destinasi di luar Bali dan Jakarta terlihat di Danau Toba, Sumatera Utara. Kunjungan wisatawan ke Danau Toba pada awal 2026 tumbuh lebih dari 106 persen. 

Pertumbuhan tersebut menunjukkan adanya peluang pengembangan destinasi prioritas yang dapat diikuti peningkatan investasi. Pemerintah berharap pertumbuhan kunjungan wisatawan dapat mendorong pembangunan fasilitas dan usaha pendukung di kawasan tersebut.

Widiyanti mengatakan pemerataan investasi pariwisata diharapkan memberikan dampak lebih luas melalui penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan bisnis, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. 

Pemerintah Siapkan Berbagai Insentif

Untuk meningkatkan daya tarik investasi, pemerintah menyediakan sejumlah insentif bagi investor. Insentif tersebut antara lain berupa tax allowance, insentif bagi industri padat karya, serta pembebasan bea masuk untuk peralatan pariwisata dan yacht. 

“Pemerintah menyediakan berbagai insentif, mulai dari tax allowance dan insentif untuk industri padat karya hingga pembebasan bea masuk untuk peralatan pariwisata dan yacht,” ujar Widiyanti. 

 

Dukungan kebijakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan minat investasi sekaligus memperluas jenis proyek pariwisata yang dikembangkan di luar Jakarta dan Bali.

Kadin Dorong Potensi Pariwisata Dikembangkan

Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Internasional Kadin Indonesia, James Riady, mengatakan sektor pariwisata tetap menjadi salah satu sektor yang tumbuh cepat di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi. 

Menurut James, Indonesia memiliki keunggulan karena tidak harus membangun seluruh aset pariwisata dari awal. Indonesia sudah memiliki sumber daya alam dan budaya berupa pantai, laut, lokasi menyelam, hutan, serta kekayaan budaya yang dapat menjadi daya tarik wisata.

“Tantangannya adalah mengubah potensi tersebut menjadi peningkatan kunjungan wisatawan, lama tinggal, belanja wisatawan, investasi, penciptaan lapangan kerja, dan kunjungan kembali,” kata James Riady. 

Pemerintah bersama Kadin Indonesia selanjutnya mendorong agar investasi tidak hanya masuk ke hotel dan restoran, tetapi juga berbagai subsektor pendukung. Strategi tersebut diharapkan memperluas rantai ekonomi pariwisata sekaligus meningkatkan manfaat sektor pariwisata bagi masyarakat daerah.

Dengan nilai investasi pariwisata yang mencapai rekor Rp73,56 triliun pada 2025, pemerintah kini menghadapi tantangan berikutnya, yakni memastikan investasi tersebut tersebar lebih merata. 13 Destinasi Pariwisata Prioritas dan 10 KEK Pariwisata menjadi bagian dari sasaran perluasan investasi di luar Jakarta dan Bali. 

Langkah tersebut sekaligus membuka peluang bagi pengembangan hotel, resort, kawasan komersial, transportasi, marina, atraksi wisata, dan properti pariwisata di berbagai destinasi baru. Pemerintah berharap diversifikasi investasi dapat memperkuat ekosistem pariwisata dan meningkatkan dampak ekonomi di tingkat daerah.

 

Terkini