JAKARTA (RiauInfo) – Industri data center Indonesia berpotensi mengalami pertumbuhan pesat seiring meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan ekonomi digital. Pertumbuhan tersebut mendorong kebutuhan terhadap kapasitas komputasi, listrik, konektivitas, sistem pendinginan, hingga infrastruktur pendukung data center.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam IEE Series – Energy Week 2026 yang berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 2–5 September 2026. Kegiatan tersebut mempertemukan pelaku industri energi, teknologi, manufaktur, kelistrikan, baterai, data center, dan infrastruktur dalam satu ekosistem.
Data Center Map mencatat terdapat 198 pusat data yang beroperasi di Indonesia, dengan 128 pusat data atau sekitar 64 persen berada di kawasan Jabodetabek. Jumlah pusat data diperkirakan terus bertambah dalam beberapa tahun mendatang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.
Dari sisi kapasitas, total kapasitas operasional pusat data Indonesia hingga semester pertama 2026 mencapai 682 megawatt (MW) berdasarkan IT Load. Kapasitas tersebut diperkirakan meningkat menjadi sekitar 1,6 gigawatt (GW) pada kuartal II 2027 seiring masuknya pusat data baru.
AI Dorong Kebutuhan Infrastruktur Data Center
Pertumbuhan AI menjadi salah satu faktor yang mengubah kebutuhan industri data center. Infrastruktur AI membutuhkan kemampuan komputasi lebih besar sehingga berdampak langsung terhadap kebutuhan listrik, bandwidth, konektivitas, serta teknologi pendinginan.
Hendra Suryakusuma, Chairman IDPRO, menjelaskan perubahan tersebut dalam forum Future Outlook: Indonesia as a Digital Hub pada Data Center Asia–Indonesia. Menurut Hendra, perkembangan AI dan exponential computing membuat desain dan kebutuhan data center semakin kompleks.
“Dengan munculnya AI dan exponential computing, cara kita membangun data center menjadi sangat berbeda, mulai dari kebutuhan compute, bandwidth, konektivitas, hingga sistem pendinginan yang semakin canggih, dan ini tentu melibatkan kerja berbagai sektor juga untuk mendukungnya,” ujar Hendra.
Kebutuhan tersebut menciptakan peluang investasi yang lebih luas. Investasi tidak hanya berkaitan dengan teknologi data center, tetapi juga mencakup lahan industri, properti untuk pengembangan pusat data, jaringan fiber optic, pasokan listrik, sistem pendinginan, serta sumber energi.
Potensi tersebut juga berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Laporan Google, Temasek, dan Bain & Company yang dikutip Bloomberg Technoz mencatat nilai gross merchandise value (GMV) ekonomi digital Indonesia mencapai US$99 miliar, terbesar di Asia Tenggara. Nilai tersebut diproyeksikan terus meningkat hingga US$340 miliar pada 2030.
Salah satu ekspansi berskala besar datang dari Digital Edge Indonesia. Perusahaan tersebut akan mengoperasikan pusat data berskala besar di Cikarang, Bekasi, dengan kapasitas mencapai 500 MW mulai kuartal IV 2026.
Listrik dan Konektivitas Jadi Faktor Kunci
Pertumbuhan pusat data membawa konsekuensi terhadap kebutuhan energi. Data center membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar sekaligus tingkat keandalan tinggi karena operasional infrastruktur digital bergantung pada kesinambungan pasokan energi.
Energy Week 2026 memperlihatkan keterkaitan antara industri data center dengan sektor kelistrikan dan energi. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Electric & Power Indonesia, The Battery Show Indonesia, dan Data Center Asia–Indonesia berlangsung dalam satu ekosistem pada 2–5 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Denny Setiawan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menekankan pentingnya diversifikasi konektivitas untuk meningkatkan ketahanan infrastruktur digital. Infrastruktur data center membutuhkan lebih dari satu jalur konektivitas agar tidak terlalu bergantung pada satu jalur jaringan.
“Jadi, kita tidak hanya bergantung pada satu jalur, tetapi harus membangun konektivitas yang lebih resilient. Data Center yang tangguh menjadi fondasi bagi ekonomi digital yang berdaulat, inklusif, dan berkelanjutan,” kata Denny Setiawan.
Kebutuhan energi yang semakin besar juga membuka ruang bagi pengembangan green data center. Energi terbarukan mulai dilirik sebagai salah satu sumber listrik untuk mendukung pusat data yang lebih berkelanjutan, meskipun peningkatan pemanfaatan energi terbarukan juga membutuhkan sistem penyimpanan energi untuk menjaga fleksibilitas jaringan.
Risiko Ekologi Ikut Menjadi Perhatian
Di tengah prospek investasi yang besar, pertumbuhan pusat data juga membawa tantangan lingkungan. Lonjakan pembangunan pusat data perlu diimbangi dengan kesiapan energi, infrastruktur, serta pendekatan pembangunan yang memperhatikan keberlanjutan.
Tema “Sustainability for Industrial Transformation” dalam Energy Week 2026 menempatkan efisiensi, ketahanan infrastruktur, penyimpanan energi, konektivitas, dan kesiapan sumber daya manusia sebagai bagian dari transformasi industri.
Karena itu, pengembangan industri data center Indonesia tidak berdiri sendiri. Pemerintah, regulator, perusahaan telekomunikasi, institusi pendidikan, hyperscalers, cloud providers, perusahaan energi, hingga pelaku infrastruktur perlu membangun ekosistem yang saling mendukung.
Selain infrastruktur fisik, ketersediaan talenta juga menjadi faktor penting. Hendra Suryakusuma menyebut lebih dari 72 persen penduduk Indonesia berusia di bawah 48 tahun, yang dinilai menjadi modal demografi dalam pengembangan ekonomi digital.
Marsudi Wahyu Kisworo, Dewan Pengarah BRIN, mengatakan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia di bidang keamanan siber, data science, dan AI.
“Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan talenta digital untuk menghadapi tantangan keamanan ke depan. Kita membutuhkan lebih banyak SDM yang memiliki kemampuan di bidang keamanan digital, data science, dan artificial intelligence,” kata Marsudi.
Dengan pertumbuhan AI dan ekonomi digital, industri data center Indonesia berpotensi menjadi salah satu penggerak investasi infrastruktur digital. Namun, pertumbuhan kapasitas perlu berjalan beriringan dengan kesiapan listrik, konektivitas yang tangguh, energi terbarukan, teknologi pendinginan, lahan, serta sumber daya manusia agar ekspansi pusat data dapat berlangsung secara berkelanjutan.