Rupiah Tembus Rp17.300 per Dolar AS, Tekanan Geopolitik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

Kamis, 23 April 2026 | 11:47:00 WIB
Ilustrasi

PEKANBARU (RiauInfo) – Kota dan pasar keuangan domestik hari ini dikejutkan dengan posisi nilai tukar rupiah yang terus meluncur jatuh hingga menembus level psikologis baru sebesar Rp17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (23/4/2026). Penurunan tajam ini menempatkan mata uang Garuda pada posisi terlemah sepanjang sejarah, menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian memanas. 

Berdasarkan data pasar yang dihimpun hingga siang hari, rupiah diperdagangkan pada kisaran Rp17.300 hingga Rp17.312 per dolar AS. Jika dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya, nilai tukar rupiah tercatat melemah sebesar 0,72 persen, sementara secara tahun kalender berjalan (year-to-date), depresiasi telah mencapai angka 3,76 persen. 

Kondisi ini menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia untuk periode April 2026. Para pelaku pasar cenderung menjauhi aset berisiko dan beralih ke aset aman (safe haven) seiring dengan ketidakpastian global yang meningkat drastis dalam beberapa pekan terakhir. 

Faktor Eskalasi Timur Tengah 

Penyebab utama dari keterpurukan ini adalah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menemui titik temu. Dampak paling nyata terasa pada sektor energi, di mana harga minyak mentah jenis Brent kembali melonjak ke level 103 dolar AS per barel setelah sempat melandai di angka 90 dolar AS pada pekan lalu. 

Kenaikan harga minyak ini dipicu oleh penutupan kembali jalur logistik vital, Selat Hormuz. Hal tersebut memberikan sentimen negatif bagi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, serta mendorong penguatan Indeks Dolar AS (DXY) yang merangkak naik ke level 98,65. 

Selain faktor eksternal, tekanan juga datang dari masifnya arus modal keluar (capital outflow) dari pasar obligasi dan ekuitas dalam negeri. Para investor asing terpantau melakukan aksi jual bersih guna mengamankan likuiditas di tengah bayang-bayang resiko inflasi impor yang menghantui ekonomi nasional. 

Langkah Strategis Bank Indonesia 

Merespons kondisi yang mengkhawatirkan ini, Bank Indonesia (BI) menyatakan telah bersiaga di pasar untuk melakukan langkah-langkah stabilisasi. Intervensi dilakukan secara ganda, baik di pasar spot maupun di pasar domestik non-deliverable forward (DNDF), guna memastikan volatilitas tetap terkendali. 

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa pelemahan ini bukan merupakan fenomena tunggal rupiah, melainkan dampak sistemik yang juga menekan mata uang regional lainnya di kawasan Asia. Namun, BI berkomitmen untuk memitigasi dampak buruk terhadap daya beli masyarakat. 

"Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market guna menjaga daya tarik aset domestik," ujar Destry dalam keterangan tertulisnya yang diterima wartawan. 

Dampak Terhadap Ekonomi Domestik 

Lebih lanjut, Destry menekankan bahwa kebijakan moneter saat ini diarahkan untuk memastikan aset domestik tetap kompetitif meski diterpa gejolak global. BI berupaya keras agar pelemahan rupiah tidak berdampak terlalu dalam pada kenaikan harga barang-barang pokok yang berbahan baku impor. 

Pengamat pasar menilai, jika level Rp17.300 ini bertahan dalam waktu lama, maka risiko inflasi akibat kenaikan biaya produksi di sektor manufaktur akan sulit dihindari. Hal ini dikhawatirkan dapat mengoreksi target pertumbuhan ekonomi nasional yang telah ditetapkan sebelumnya. 

Hingga berita ini diturunkan, pergerakan rupiah masih terpantau fluktuatif di pasar spot. Masyarakat dan pelaku usaha diharapkan tetap tenang sembari memantau perkembangan kebijakan lebih lanjut dari otoritas moneter dalam menghadapi tantangan ekonomi di pertengahan tahun 2026 ini.

 

Terkini