Tari Bedayo Abung Siwo Migo Lampung Utara Bakal Getarkan Dialog Kebudayaan Bersama Menteri Fadli Zon di HPN 2026

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:16:46 WIB
Tari Bedayo Abung Siwo Migo Lampung Utara Bakal Tampil pada acara Dialog Kebudayaan

SERANG (RiauInfo) – Sembilan gadis asal Lampung Utara dijadwalkan membuka Dialog Kebudayaan bersama Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, dengan menampilkan tarian tradisional Bedayo Abung Siwo Migo. Tarian klasik yang sarat nilai sejarah ini akan menjadi sajian pembuka dalam rangkaian acara bergengsi jelang puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2026.

Perhelatan Dialog Kebudayaan tersebut akan berlangsung pada Minggu, 8 Februari 2026 siang, bertempat di Hotel Horison UPI Serang, Banten. Selain menghadirkan Menteri Kebudayaan, acara ini juga menampilkan narasumber dari kalangan wartawan senior serta sepuluh bupati dan wali kota penerima Anugerah Kebudayaan PWI Pusat.

Tari Bedayo Abung Siwo Migo sendiri telah mendapatkan pengakuan nasional pada tahun 2024 sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Kehadirannya di panggung HPN menjadi bukti nyata pelestarian aset kultural daerah di kancah nasional.

Sembilan penari yang akan tampil adalah Maya Aulia, Maizal Nadia, Rindiani Mutiara Fitdhin, Chika, Mutiara Husnul Aulia, Syana Nan Pernai, Eka Setiawati, Annisa, dan Feronica. Penampilan mereka berada di bawah arahan penata tari Nani Rahayu dan penata kostum Bayu Pramudita.

Sinergi Membangun Budaya dari Daerah

Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo Hartono, menjelaskan bahwa dialog ini merupakan upaya mencari titik temu pembangunan budaya antara daerah dan pusat. Menurutnya, penting untuk menyelaraskan gerakan pembangunan kebudayaan dari "pinggir" yang dilakukan kepala daerah dengan kebijakan pemerintah pusat.

"Dialog ini ingin mencari hal-hal apa saja yang bisa kita sinergikan antara wartawan kebudayaan, pemerintah daerah khususnya penerima anugerah, dengan Kementerian Kebudayaan," ujar Yusuf yang juga akan bertindak sebagai pemandu acara dalam diskusi tersebut.

Secara filosofis, Tari Bedayo Abung Siwo Migo bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan representasi nilai luhur masyarakat Lampung Utara. Tarian ini menggambarkan keharmonisan, kebersamaan, serta bentuk penghormatan mendalam terhadap adat dan leluhur yang diwariskan turun-temurun.

Bupati Lampung Utara, Hamartoni Ahadis, menegaskan bahwa tarian ini biasanya hanya ditarikan dalam prosesi adat sakral. Namun, dalam konteks kenegaraan dan formal, tarian ini difungsikan untuk menyambut tamu agung sebagai simbol keramahan dan solidaritas masyarakat Lampung Abung.

Simbol Identitas dan Tantangan Modernisasi

Ketua Dewan Kesenian Lampung Utara (DKLU), Dra. Nani Rahayu, MM, menambahkan bahwa keanggunan penari yang mengenakan pakaian adat lengkap dengan siger dan kain tapis bersulam emas menjadi ciri khas utama.

Penggunaan properti kipas dalam tarian tersebut juga melambangkan keterbukaan masyarakat setempat terhadap dunia luar.
Meski memiliki nilai estetika dan sejarah yang tinggi, Hamartoni tidak menampik adanya tantangan besar di era modernisasi. Pesatnya perubahan gaya hidup global saat ini mulai mengikis minat generasi muda untuk mempelajari dan melestarikan tarian tradisional seperti Bedayo Abung Siwo Migo.

Pemerintah Kabupaten Lampung Utara pun terus melakukan upaya simultan, mulai dari promosi hingga memasukkan tarian ini ke dalam kurikulum sekolah. Pelatihan di sanggar-sanggar budaya kini digencarkan agar tarian ini tetap hidup dan menjadi atraksi utama pariwisata daerah.

Kehadiran tarian ini di arena HPN Serang diharapkan menjadi pemantik bagi publik nasional untuk lebih mengenal kekayaan budaya Lampung Utara. Hamartoni berharap melalui panggung ini, identitas budaya daerah semakin kuat dan mampu bersaing di tengah arus globalisasi.

Acara Dialog Kebudayaan ini diprediksi akan menjadi salah satu sesi paling krusial dalam rangkaian HPN 2026. Sinergi antara insan pers, pemerintah daerah, dan kementerian diharapkan mampu melahirkan rumusan baru dalam menjaga kedaulatan budaya Indonesia di masa depan.
 

Terkini