WISATA KAMPAR Masjid Jami’ Bukti Kesatuan Negeri

596 views

BERKUNJUNG ke Kabupaten Kampar belumlah lengkap tanpa mengunjungi Mesjid Jami’. Mesjid kebanggaan negeri serambi Mekah Riau ini terletak di Kecamatan Air Tiris dan berdekatan dengan pasar. Semula mesjid ini adalah sebuah mushola berukuran 6m x 8m yang digunakan untuk kebutuhan beribadah para penjual, pembeli dan masyarakat sekitarnya saat panggilan suci tiba.

Mesjid Lambang Kesatuan Negeri

Pesatnya perdagangan terutama beras dan membuat pasar Air Tiris yang pertama tersebut menjadi pusat perdagangan yang diperhitungkan. Musholapun tidak lagi mampu menampung jemaahnya.

Pada tahun 1901 dengan Datuk Ongku Mudo Sangkal tokoh agama setempat mengumpulkan seluruh masyarakat kenegerian Air Tiris yang terdiri dari 24 negri untuk membangun sebuah mesjid.

Setiap kenegerian membawa satu tiang yang digunakan sebagai tiang tengah mesjid. Kedua puluh empat tiang tersebut masih ditambah lagi dengan 12 tiang sumbangan dari masyarakat. Pasak bukannya paku yang digunakan memperkokoh bangunan tersebut sekaligus memberikan keunikan.

Pembangunan mesjid dikerjakan dengan gotong royong oleh masyarakat tanpa ada yang mendapatkan upah. Mesjid Jami terbukti telah menyatukan masyarakat kenegerian Air Tiris.

Menurut M. Ali selaku Kepala Desa setempat, pada jaman pendudukan Belanda, banyak usaha untuk memperlemah kesatuan masyarakat tersebut. Salah satunya adalah dengan membakar mesjid Jami yang posisinya tidak jauh dengan pos mereka. Usaha tersebut tidaklah berhasil karena mesjid masih tetap berdiri utuh.

Bentuk Mesjid dan Pelestariannya

Mesjid Jami’ berbentuk bangunan panggung berwarna cokelat tua ini memiliki pintu sebanyak 3 buah yang terletak di depan dan di samping. Jumlah jendela sebanyak 12 buah yang berhiaskan ukiran. Bila diamati dengan jelas, masing-masing jendela memiliki ukiran dengan motif yang berbeda-beda. Ternyata keseluruhan ukiran dalam mesjid terdiri dari 24 macam yang mewakili seni dan kebudayaan masing-masing kenegeraian.

Bangunan tengah mesjid memiliki ketinggian 25 meter dan atap mesjid terdiri dari tiga tingkat. Masing-masing tingkat berhiaskan ukiran khas atap bangunan Melayu pada tiap sudutnya. Pada samping mesjid dapat dijumpai menara yang di bagian bawahnya terdapat kolam bak air yang di dalamnya diletakkan sebuah batu menyerupai kepala kerbau. Batu tersebut menurut cerita dapat berpindah-pindah sendiri tanpa ada yang mengangkatnya.

Mesjid Jami’ pertama kali direnovasi pada tahun 1982 dengan dibantu oleh pemerintah provinsi. Salah satu yang bagian mesjid yang direnovasi adalah lantainya. Pada tahun 1982 kembali dilakukan renovasi berupa penggantian menara.

Menurut M. Ali saat ini Mesjid Jami’ masuk sebagai cagar budaya di Batu Sangkar dan diharuskan untuk tidak merubah fisik mesjid termasuk ukiran-ukiran di dalamnya. Meskipun beberapa kali diusulkan merubah warna cat mesjid tersebut, tetapi sampai saat ini mesjid tersebut masih berwarna cokelat tua.

Pemeliharaan mesjid tetap dilakukan oleh masyarakat Air Tiris dibantu oleh dana yang selain diperoleh dari masyarakat juga dari kunjungan-kunjungan jemaah baik dari nusantara maupun luar negeri.

Sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk memelihara warisan nenek moyang kita. Tidak perlu menunggu bantuan dari pemerintah, sudah selayaknyalah kita juga harus memperhatikannya. Mesjid Jami’ inilah sebagai contoh pemersatu masyarakat dan masyarakat yang bersatu memeliharanya. (ari)

Posting Terkait