Wakil Rektor UI: Jangan Ciptakan Generasi Cemas

993 views

wakil rektor UIJAKARTA (RIauInfo) – Budayawan yang juga Wakil Rektor Universitas Indonesia, Prof Dr Bambang Wibawarta SS MA mengingatkan bahwa beragam kongres kebudayaan yang sudah dilangsungkan hingga sejauh ini, ternyata tidak menghasilkan apa apa, kecuali hanya catatan catatan yang tidak terlalu penting sehingga tidak ditanggapi masyarakat luas.

“Mestinya kongres kebudayaan itu bisa menghasilkan sesuatu yang manfaatnya dirasakan masyarakat, misalnya integritas kebudayaan, ketahanan kebudayaan. Korea hasil pemaknaan ketahanan budayanya menghasilkan Samsung yang kini mendunia. Indonesia tidak ada…” Ujar Bambang Wibawarta dalam dialog dengan jajaran pers yang digelar yayasan suluh nuswantara bakti (YSNB) di jakarta, kemarin. Dialog tersebut dihadiri pembina YSNB Ponco Sutowo, ketua YNSB Imam Sunaryo, Imam Ansyori Saleh (praktisi hukum) dan mantan Panglima Jenderal Purn Djoko Suyanto.

Menurut wakil rektor UI itu, umumnya kongres kebudayaan Indonesia itu digelar dengan sasaran mencetak generasi emas. Tapi, apa yang kelihatan dan dirasakan sekarang? Memprihatinkan sekali. Kita sebagai bangsa terkesan hilang jati diri kebangsannya. Kita terus menerus berutang ke luar negeri hanya untuk membangun, kita terus menerus impor beras, daging sapi bahkan kedelai dan garam.

“Malu kita sebagai bangsa. Jangan jangan kongres kebudayaan yang sudah sudah itu hanya meahirka generasi cemas, jadi bukan melahirkan generasi emas sebagaimana diharapkan. Jujur kita tak ingin lagi mecetak generasi cemas. Karena itu kita harus punya inrtegritas kebudayaan agar ketahanan kebudayaan kita bisa kuat,” ujar Prof Bambang Wibawarta.

Dia juga menambahkan pentongnya integritas kebudayaan karena Indonesia bangsa yang besar. Tidak ada negara lain yang jumlahnya suku bangsanya meebih 1000 suku bangsa. Hanya Indonesia yang punya 1100 suku bangsa. Jika tidak dikelola dengan benar, jika tidak dibekali dengan pamahanan pentingnya integritas kebudayaan, jelas negeri ini akan menjadi negeri yang rawan konflik beragam kepentingan.

“Lihat saja RUU Kebudayaan yang sudah mengakomodasi banyak masalah berat masih juga disisipi kepentingan tembakau. Itu mengada ada, mengingat di pihak terkait lainnya menyatakan masalah tembakau sama artinya akan menyuruh anak anak merokok.” Ujar Bambang Wibawarta. (Ami Herman)

Posting Terkait