Ukus Kuswara: Trend Pariwisata Bergeser Menjadi Serenity, Sustainability dan Sprituality

JAKARTA (RiauInfo) – Pada tahun tahun terakhir ini, terjadi pergeseran tren kepariwisataan, dari motivasi bersenang-senang menjadi mencari pengalaman baru. Paradigma pariwisata pun bergeser dari “sun, sand and sea” menjadi “serenity, sustainability and spirituality”. Berdasarkan penelitian bahwa dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir ini terjadi kenaikan hinga 165% atas perjalanan wisata yang didasarkan pada keyakinan diri (faith based). UNWTO (2010) memperkirakan sekitar 330 juga wisatawan global atau kurang lebih 30% dari total keseluruhan wisatawan global melakukan kunjungan ke situs-situs religious penting di seluruh dunia, baik didasarkan pada motif spiritual atau pun motif kognitif.

Ukus Kuswara, Sekretaris Kementerian Pariwisata mengemukakan itu kerpada wartawan di Jakarta, Sabtu lalu, berkenaan dengan persiapan wartawan meliput aktifitas wisata religi Manaqib di pondok pesantren Sirnarasa, Desa Ciomas Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Pesona wisata religi Manaqib di ponpes Sirnarasa, menurut Ukus Kuswara yang juga merupakan tokoh masyarakat Ciamis itu, merupakan pesona Indonesia yang tersembunyi. Ponpes Sirnarasa identik dengan ketasawuuffannya, terletak di kaki Gunung Syawal – Ciamis dan sarat dengan keindahan alam, juga memiliki potensi wisata religi karena sejak tahun 90-an telah menjadi bagian tak terpisahkan dari penggerak dan pemberdaya masyarakat Islam, baik aspek intelektualnya dalam bentuk pendidikan formal dan nonformal, maupun dalam bentuk kegiatan pengajian sufistik yang massif. Jemaah yang datang berziarah ke ponpes Sirnarasa berasal dari dalam dan luar negeri.

“Indonesia merupakan Negara yng terdiri dari berbagai suku bangsa dan budaya. Dari sekian banyaknya, ada potensi yang tersembunyi yang sangat mungkin digali., diperkuat dan dioptimalkan.Identitas bangsa ini sejak dulu dikenal dengan religiusitasnya. Di semua pelosok negeri akan ditemukan komunitas komunitas keberagaman yang kuat fondasinya. Sehingga menjadi ciri khas peradaban bangsa yang dapat menjadi pembeda dengan bangsa lain,” ungkas Ukus Kuswara.

Dia menambahkan, selain mengembangkan wisata religi manaqib di ponpes Sirnarasa, Panjalu, Ciamis, Kemenpar pun siap mengembangkan sejumlah kegiatan religi lainnya yang masih tersembunyi. Mengembangkan Situs Walisongo misalnya, adalah pekerjaan yang tak kalan menarik. Situs Walisongo bisa dijadikan jalur wisata ziarah (pilgrimage routr) yang disukai masyarakat muslim. Dan kegiatan itu bisa dikembangkan menjadi rute terbesar dan terpanjang melebihi Camino de Santiago yang kini menjadi kebanggaan Eropa. Untuk itu diperlukan langkah-langkah strategis dan peran serta pemangku kepentingan pariwisata yang berkelanjutan dan bertanggungjawab, serta kontribusi pariwisata untuk pemahaman budaya dan pelestarian warisan alam dan budaya yang terkait dengan jalur kuno (ancient trails) dan tempat-tempat sacral (sacral places).

Data yang diolah dari berbagai sumber memunculkan gambaran umum bahwa jumlah peziarah di 9 (Sembilan) makam Walisongo pada tahun 2014 mencapai 12,2 juta orang dan dengan pengeluaran wisatawan mencapai Rp 300 ribu per kun jungan atau total pengeluaran setahun Rp 3,6 triliun. Diperkirakan pada 2014 terdapat 3.000 orang wisman yang berkunjung dengan pengeluaran total sekitar 450 ribu USD atau 150 USD perharinya.

Kementerian Pariwisata memproyeksikan kunjungan wisatawan di situs Walisongo tahun 2019 mampu mencapai 18 juta orang wisatawan nusantara atau sekitar 15% dari target wisatawan nusantara pada tahun 2019 dengan pengeluaran wisatawan per kunjungan rata-rata Rp 400 ribu atau senilai Rp 7,2 triliun dalam setahun. Strategi promosi dan pemasaran pariwisata yang tepat diharapkan menjadikan situs Walisongo sebagai destinasi wisata minat khusus berbasis religi yang mampu menarik 10.000 wisman pertahunnya dengan total pengeluaran senilai 1,5 juta YSD atau rata-rata 150 USD per harinya. (Ami Herman)

Adrizas: