“Takkan Hilang Budaya Melayu di Bumi”

755 views
news2262PEKANBARU (RiauInfo) – Seorang Budayawan dan Tokoh Masyarakat Riau, DR,(HC),H Tenas Effendi mengatakan dengan tegas bahwa, “Takkan Hilang Budaya Melayu di Bumi”. Buktinya, kebudayaan Daerah Riau yang berpuncak dari Kebudayaan Melayu Riau memiliki dinamika tersendiri.

“Semua itu saya katakan sejalan dengan perkembangan daerah ini dan masyarakatnya, kemajuan ilmu dan teknologi. Serta semakin luasnya kontak-kontak budaya dengan budaya luar. Azas keterbukaan dan kemajemukan pada hakekatnya mencerminkan dinamika kebudayaan melayu yang selalu berusaha untuk mengikuti perubahan,” ungkap Tenas Effendi dalam sambutannya pada acara Disukusi Panel Budaya Melayu PWI Riau di Aula RCI, Pekanbaru, Rabu (5/9).

Menurut Tenas, azas ini selama berabad-abad memberikan peluang bagi proses interaksi masyarakat yang terbilang kaum dan akulturasi budaya dalam arti luas. Akibatnya terjadilah beragam perubahan dan pergeseran nilai yang positif dan ada pula yang negatif. Nilai-nilai Islam yang “menjiwai” dan menjadi “nilai utama” budaya Melayu. Sehingga menjadi benteng yang kokoh amatlah ditentukan oleh sejauh mana kepribadian seseorang mampu mencerna, menghayati dan mengaktualisasikan nilai-nilai dimaksud.

Dinamika budaya daerah ini telah menunjukan kegemilangannya terutama dimasa kerajaan Melayu masih berdiri di Riau. Dengan dinimikanya, kebudayaan Melayu mampu mengekalkan “jatidiri” yang mampu mengangkat harkat dan martabat untuk kesejahteraan rakyat. Namun, dalam tahap tertentu menjadi “surut” kerena perubahan struktur pemerintah dan tantangat yang terus menerus dari beragam pengaruh budaya luar yang melanda masyarakat.

“Kita pun tidak menafikan upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat, organisasi seni, sanggar, seniman, buadayawan dan berbegai kelembagaan yang ada kaitanya dengan kebudayaan. Kita juga tidak menafikan adanya visi dan misi kebudayaan Riau, yang mengandung harapan besar untuk membangkitkan Melayu di Riau, bahkan di Asia Tenggara,” katanya.

“Mimpi” untuk menjadikan Riau sebagai pusat pengembangan kebudayaan Melayu di Asia Tenggara nampaknya masih jauh dari kenyataan dan tetap sebagai “mimpi indah”. Rancangan untuk mewujudkan “mimpi” dimaksud walaupun sudah dibangun dengan bahasa indah dan sarat teori, namun usaha mewujudkannya masih jauh dari memadai.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa jatidiri sesuatu kaum itu terbentuk dari nilai-nilai azasnya yang dijelmakan ke dalam berbagai perilaku kehidupan pribadi, berumahtangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai itu tentulah sudah ada, hidup dan mengakar ditengah-tengah masyarakat sejak dahulu. Didalam Budaya Melayu, nilai-nilai azas yang menjadikan jatidiri tentulah tidak beranjak daripada nilai-nilai yang Islami.

Itulah adat di dalam Rumpun Melayu mentatakan,”Adat Bersendikan Hukum, Hukum Bersendikan Syarak, Syarak Bersendikan Kitabullah” atau “Adat Sebenar Adat ialah Quran dan Sunnah Nabi”. Nilai-nilai inilah yang perlu dikekalkan dan dijadikan teras jatidiri kemelayuan. Nilai ini terdapat dalam semua aspek kehidupan.

“Kita berharap, dengan semakin tingginya kesadaran pihak pengelola pelaku dan perancang media massa dalam mengembangkan dan pembinaan kebudayaan bangsa. Sehingga dapat menyebarluaskan nilai-nilai azas kebudayaan Melayu khasnya, kebudayaan bangsa umumnya dapat terus ditingkatkan. Dengan demikian dapat membentuk masyarakat yang berbudaya beradab dan memiliki jatidiri bangsa yang kokoh,” pungkasnya. (Dd)


Posting Terkait