Tahun Baru

SETIAP tahun, menjelang pergantian tahun, sebagian besar warga dunia menyambutnya dengan rasa suka cita dan penuh kegembiraan. Tidak kecuali juga di Indonesia. Di Pekanbaru misalnya, sejak senja tadi orang-orang sudah mulai keluar rumah memenuhi sejumlah jalan protokol untuk menyambut pergantian tahun dari 2008 ke 2009.

Tidak hanya itu saja, beberapa tempat menggelar acara pesta penyambutan tahun baru dengan berbagai kegiatan yang sifatnya penuh kegembiraan dan kegemerlapan. Ada yang mendatangkan artis-artis ibukota, ada yang menggelar dangdutan semalam suntuk, dan tentunya dengan suguhan makanan yang enak-anak mengundang selera. Untuk bisa ikut dalam acara itu kita harus merogok kocek yang lumayan dalam.Masyarakat awam juga tidak ketinggalan. Merekapun membuat kegiatan yang tak kalah serunya untuk menyambut pergatian tahun. Ada yang membikin acara bakar-bakar ikan atau ayam, ada yang berkaraoke di alam terbuka, dan sebagainya dengan melibatkan warga tempat-teman dekatnya, dan ada pula sampai melibatkan seluruh orang sekampung.

Kegembiraan yang muncul saat menyambut pergantian tahun ini memang sudah mentradisi sejak puluhan tahun yang silam. Sebab bagi sebagian orang, pergantian tahun ini bisa berarti batas antara masa silam dan masa datang. Semua hal yang buruk di masa silam akan ditinggalkan, dan kemudian diperbaiki di tahun baru yang menjadi masa datang.

Dulu saya memang ikut berfikir demikian. Namun setelah usia terus berlanjut dan kini sudah memasuki kepala empat, pemikiran saya jadi berubah. Setiap pergantian tahun bukannya merasa bahagia, malah menjadi takut sendiri. Takut melihat usia terus saja berlanjut. Setiap tahun berganti maka usia akan terus bertambah.

Tentunya pembaca akan berfikir saya merasa takut karena kematian akan semakin dekat saja. Sumpah!, bukan itu yang saya takutkan. Soal kematian adalah urusan Allah. Setiap orang pasti mati. Kematian juga tidak pernah mengenal usia, anak-anak, ABG, orangtua bisa saja mati kapan saja. Jadi kematian tidak perlu dipikirkan, karena ada zat yang mengaturnya.

Lalu takut karena apa? Apa takut semakin terlihat tua akibat usia terus bertambah? Ah, tidak sama sekali. Wajah tua tidak perlu ditakutkan. Bahkan kini dengan teknologi perawatan, orang yang sudah berusia lanjut bisa terlihat muda. Buktinya Liz Taylor yang sudah tua rentah masih terlihat gres. Begitu pula Titiek Puspa, belum terlihat seperti nenek-nenek.

Takut saya hanya terfokus pada dosa-dosa yang telah saya buat tahun lalu, tahun lalunya lagi, tahun lalu-lalunya lagi, dan tahun-tahun sebelumnya. Sampai tahun ini saya merasa belum sanggup menghapus dosa-dosa tersebut, dan sekarang masuk lagi ke tahun baru. Saya takut saat menjalani tahun yang baru ini, tanpa disadari kembali lagi berbuat dosa. Alangka semakin bertumpuknya dosa yang telah saya perbuat.

Harus diakui, semua kita tentunya tidak ingin berbuat dosa. Selain ganjarannya sangat pedih nantinya, juga perbuatan itu menimbulkan kerugian ke orang lain. Tapi terkadang tanpa kita sengaja, perbuatan dosa itu terjadi juga. Tidak sengaja, termakan jatah teman, Tidak sengaja perkataan menyinggung orang lain. Tidak sengaja menggosipin tetangga sendiri. Dan banyak hal-hal lainnya yang sesungguhnya tanpa disengaja.

Selama ini tidak ada jaminan perbuatan-perbuatan tersebut tidak bakal dilakukan di tahun yang baru saja kita masuki ini. Tapi apa boleh buat, tahun baru harus kita masuki. Kita tidak mungkin lari menuju tahun-tahun sebelumnya. Karena The Time Tunnel (Terowongan Waktu) itu hanya ada di kisah-kisah fiktif yang sampai kini tidak jelas bagaimana teknologinya.

Dan…
sekarang kita sudah di tahun baru.
Tahun 2009.
Selamat datang tahun baru
dan selamat datang pula dosa-dosa baru.***

Adrizas
Pemimpin Redaksi RiauInfo

 

 

Rizki: