Sudah Hilangkan Sikap Melayu di Kota Pekanbaru?

MASIH segar dalam ingatan beberapa waktu yang lalu ketika saya menapakkan kaki di kota tercinta ini kembali kita melihat ada perubahan warna yang berbeda di kota Pekanbaru. Dari kondisi perkantoran kota yang mengalami perkembangan infrastruktur maupun banyak munculnya pusat perbelanjaan yang kian merebak bak jamur. 

Unik, indah, menarik dan mempesona. Sayangnya dari keseluruhan itu ada satu hal yang dari dulu hingga sampai saat ini belum menunjukkan suatu perubahan yang signifikan. Kita bisa saja mengalami perkembangan dari segi perekonomian maupun aspek-aspek terkait lainnya. Namun pertanyaan yang mestinya kita turut perhitungkan adalah sudah siapkah kita dengan perubahan itu?

Subjek yang menjadi bahasan dari artikel ini adalah kita, masyarakat yang menjadi elemen dari perubahan itu. Pembaca sekalian, apalah artinya sebuah mobil yang cantik dan mewah jika sang pengemudi tidak tahu cara menggunakan, merawat, menjaga dan meng-update bagian-bagian yang hampir ketinggalan zaman.

Kita orang melayu, orang yang katanya senang berbudaya, namun kok mengapa ya banyak dari orang-orang masyarakat melayu yang saya temui dalam kehidupannya terpengaruh oleh budaya orang luar melayu sendiri mungkin hal tersebut juga saya alami dalam kehidupan ini.

Sependapatkah jika dikatakan bahwa khasanah melayu yang bisa kita lihat dengan jelas saat ini hanyalah sebuah topeng yang diletakkan di pusat-pusat perbelanjaan, perkantoran dan segala bentuk fisik lainnya, tidak hal nya dengan budaya bersosial. Hanya kalangan tertentu yang masih memberikan khasanah melayu dalam kesehariannya. Benarkah kita ini orang melayu ?

Dimana letak sisi budaya melayu jika lampu merah saja di langgar, ucapan-ucapan tutur kata yang tidak wajar masih sering terdengar, para pekerja di departemen store dan tempat perbelanjaan sejenis memberikan wajah yang ”masam” kepada pelanggan baru, dan tingkat kepedulian di area public services area yang sangat minim. Siapa dan bagaimana sebenarnya edukasi melayu ? Apa pantas kah itu disebut sebagai budaya melayu? Siapa kita sebenarnya?

Hampir satu bulan saya kembali ke kota tercinta untuk melepaskan waktu lebaran bersama keluarga dan beberapa kali hal yang saya sampaikan diatas terjadi menimpa saya. Mulai dari beberapa pelayan toko yang dengan angkuhnya melayani pelanggan, dari caci maki orang di lampu merah ketika merasa terhambat sedikit, dari pelayan pembayaran rekening yang bersikap cuek ataupun seorang costumer service sebuah ATM yang bertanya dengan nada yang lumayan pedas untuk prospeknya. WOOW !! Thats gonna be amazing !!

Nah, sebagai kaum intelektual yang identik dengan bahan-bahan bacaan. Siapa sebenarnya kita ? Dengan kondisi Pekanbaru yang merupakan kota multikulur. Apakah saat ini kita adalah tuan rumah di tanah sendiri ataukah kita merupakan bagian dari masyarakat melayu yang terikut dalam imbas pendatang sehingga melupakan etika pergaulan berkhasanah melayu ? Jawabannya hanya ada di kita.***

Penulis adalah Mahasiswa UGM Asal Riau

Rizki: