Silaturrahim Raja-raja Melayu se-Kalimantan Barat

818 views
news5871YOGYAKARTA (RiauInfo) — Keraton masih merupakan pusat kebudayaan Melayu. Dari keratonlah muncul berbagai adat istiadat, tata-laku, serta karya-karya budaya yang hingga saat ini masih eksis keberadaannya.

Kesimpulan ini terungkap dari pertemuan silaturrahim antara raja-raja se-Kalimantan Barat di Balairung Kraton Surya Negara, Sanggau, Kalimantan Barat. Pertemuan akrab para raja ini berlangsung pada Senin siang (21/07/2008), setelah pawai pembukaan Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) Kalimantan Barat V tahun 2008.

Pertemuan ini difasilitasi oleh Ketua Panitia FSBM, H. M. Natsir HS. dan Raja Kraton Surya Negara, Drs. H. Gusti Arman, M.Si. Selain tuan rumah, para raja yang berkumpul di keraton ini, adalah Raja dari Kerajaan Sekadau, Kerajaan Kubu, Kerajaan Ketapang, Kerajaan Sambas, Kerajaan Simpang, Kerajaan Landak, Kerajaan Sintang, Kerajaan Mempawah, Kesultanan Pontianak, serta utusan dari Malaysia dan Brunei Darussalam.

Hadir juga memenuhi undangan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Barat, Rihat Natsir Silalahi, SE dan Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Mahyudin Al Mudra, SH., MM.

Sebelum acara dimulai, para tamu undangan diperkenankan menikmati jamuan makan siang dengan menu khas daerah Sanggau, yaitu sungkui. Sungkui merupakan masakan seperti lontong, tetapi dengan bentuk yang tipis, terbuat dari beras yang dibalut dengan daun sungkui. Untuk menyantapnya, disediakan lauk seperti opor ayam, srundeng, serta sambal goreng nanas.

Pertemuan tersebut dibuka dengan sambutan Gusti Arman yang mengingatkan pentingnya membangun serta menjaga silaturrahim antara raja-raja Melayu di Kalimantan Barat. “Dalam kondisi saat ini, institusi kerajaan kerap dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan politik,” ujar Gusti Arman. Padahal, menurutnya, kerajaan-kerajaan ini merupakan benteng terakhir kebudayaan Melayu.

Sementara Raja Kerajaan Ismahayana, Landak, Gusti Suriansyah menggarisbawahi perlunya mengembangkan kerajaan sebagai wahana untuk mengaktualisasikan kebudayaan Melayu. Melalui berbagai kegiatan yang melibatkan kerajaan-kerajaan seperti festival kali ini, Gusti Suriansyah berharap kebudayaan Melayu akan semakin maju.

Warisan Budaya

Kemajuan di dunia Melayu tentu tak bisa lepas dari upaya-upaya untuk menggali, memelihara, melestarikan, serta mengembangkan khazanah budaya Melayu. Mahyudin Al Mudra, selaku pemangku BKPBM mengatakan, “usaha keras yang dilakukan oleh pihak kerajaan selama ini masih terbatas pada memelihara dan melestarikan kebudayaan, namun belum mampu untuk mengembangkan serta mengambil manfaat atas aset budaya yang dimilikinya”.

Kesadaran untuk mengembangkan khazanah budaya inilah yang belum tergarap dengan matang. Salah satu contoh yang dikemukakan oleh Mahyudin adalah pentingnya membangun dunia wisata sebagai bagian dari pengembangan budaya Melayu. Obyek-obyek wisata di kawasan dunia Melayu sampai sekarang belum dikelola dan dipromosikan secara baik. “Padahal, melalui dunia pariwisata masyarakat makin mengenal kekayaan budaya Melayu,” ujarnya.

Senada dengan refleksi tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalbar, Rihat Natsir Silalahi, S.E. mendukung ide pengembangan dan pemanfaatan khazanah budaya kerajaan, baik dalam skala nasional maupun internasional.

“Saat ini, kita sedang menuju ekonomi kreasi berbasis warisan budaya. Jadi, kita harus pandai-pandai mengelola dan memanfaatkan warisan budaya. Sebab, seni budaya Melayu merupakan bagian dari kebudayaan nasional,” jelas Rihat.

Rihat juga mengajak para pemangku kerajaan Melayu di Kalbar untuk menyongsong masa depan, tetapi dengan tidak meninggalkan tradisi. Salah satu bentuk revitalisasi terhadap khazanah kebudayaan Melayu dapat dilakukan melalui perkembangan dunia cetak dan teknologi informasi. Rihat mengatakan, “Apa yang telah dilakukan oleh MelayuOnline.com merupakan upaya untuk menyongsong masa depan kebudayaan Melayu,” ujarnya memuji.

Di sela-sela acara, Pemangku BKPBM menyerahkan cenderahati berupa buku Tunjuk Ajar Melayu karya Dr. HC. Tenas Effendi kepada para raja yang hadir dalam acara itu.

Buku tersebut merupakan satu upaya revitalisasi budaya lisan Melayu menjadi karya tulisan yang tak dapat lekang oleh waktu. Penyerahan buku klasik yang telah dicetak dalam bentuk lux itu juga menandai terjalinnya persahabatan yang erat antara BKPBM dan para raja Melayu di Kalbar.(ad/rls)

 

Posting Terkait