Riau Masih Minim Pariwisata

609 views

PEKANBARU (RiauInfo) – Minimnya pariwisata di Provinsi Riau, khususnya kota Pekanbaru diakui oleh Gubernur Riau, H.M Rusli Zainal, usai mengikuti sidang Paripurna Istimewa Hari Ulang Tahun Kota Pekanbaru ke-234, di ruang Paripurna Kantor DPRD Pekanbaru, Senin (23/6).

Menurut Rusli Zainal yang didampingi isteri, Dra Hj Septina Primawati Rusli, diusia kota Pekanbaru yang sudah mencapai 234 pada 23 Juni 2008 ini memang berkembang sangat pesat. Perkembangan tersebut dapat dilihat dari pertumbuhan penduduk, perkotaan, infrastruktur meningkat secara cepat.

Untuk itu, Pekanbaru sebagai ibu kota sekaligus icon Provinsi Riau, diharapkan membenahi diri dan membangun berbagai pusat-pusat pelayanan yang menyangkut public service.

Salah satunya yang ditekankan oleh orang nomor satu Riau yang masih akan mencalonkan dirinya pada Pilkada Gubernur September 2008 mendatang ini, adalah mengenai kawasan Pariwisata.

Ia mengakui, bukan hanya kota Pekanbaru yang minim lokasi wisata dan penghijauan, termasuk daerah kabupaten/kota lainnya, juga sangat minim dengan lokasi pariwisata. Namun, upaya untuk meningkatkan pariwisata di Riau, pemerintah telah melakukan berkonsultasi dengan pemerintah pusat beberapa waktu lalu.

“Dan dari hasil pertemuan tersebut, kita minta kepada Kabupaten/ Kota se Provinsi Riau untuk menetapkan minimal satu potensi pariwisata yang ada di daerah bersangkutan. Sehingga, pariwisata di Provinsi Riau menjadi salah satu objek setelah industri dan perdagangan.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi II Bidang Keuangan dan Ekonomi DPRD Pekanbaru, Haris Jumadi, membenarkan bahwa masih banyak potensi-potensi wisata yang ada di kota Pekanbaru belum tergali secara maksimal.

Menurutnya, untuk menggali potensi pariwisata yang sebenarnya cukup banyak di kota bertuah ini, harus ada upaya dan kerja keras dari dinas Pariwisata itu sendiri. Sehingga dengan banyaknya potensi-potensi yang bisa dikembangkan tapi tidak tersentuh sama sekali membuktikan bahwa kinerja dari dinas terkait belum maksimal.

Haris menggambarkan salah satu contoh, yaitu perkembangan pasar Bawah. Padahal, dulunya pasar bawah itu terkenal keunikanya ciri khas barang dan keramik dengan harga murah meriah. Tetapi semenjak pasar bawah itu dirobah menjadi pasar moderen dan ternyata ciri khas pasar Bawah tersebut sebagai pasar murah dan tempat perdagangan barang-barang bersejarah itu menjadi hilang.

Karena harga barang yang ada di pasar bawah tersebut sudah sama dengan harga barang yang ada di pasar lainya. Sehingga para pengunjung tidak lagi berminat untuk berbelanja kepasar bawah tersebut.

Ia menambahkan, selain belum maksimalnya kinerja dinas pariwisata, kurang tergalinya potensi yang ada juga karena kurangnya berkoordinasi dengan dinas pasar, Dinas Perhubungan dan dinas lainnya.(muchtiar)

Posting Terkait