Rekomendasi Seminar RBM ke-II 2008 Perlu Segera Diimplementasikan

746 views
news7905PEKANBARU (RiauInfo) – Rangkaian perhelatan akbar seni dan budaya dalam rangka Revitalisasi Budaya Melayu (RBM) ke-II 2008 berakhir pada Sabtu malam (20/12) di Lapangan Pamedan, Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri) telah berlangsung meriah.

Selama perhelatan RBM yang dimulai pada 15-20 Desember 2008, serangkaian kegiatan seni dan budaya seperti pergelaran seni, peraduan pantun, parade puisi, perkemahan budaya ASEAN, dan seminar bertajuk “Kebangkitan Sastra Melayu” telah dilakukan.

Malam penutupan RBM ditampilkan persembahan tari dari sanggar-sanggar kesenian Tanjungpinang, seperti Sanggar Bentan Telani, Megat, Kledang, dan PLS Sanggam. Peserta asal Penang Malaysia dan sanggar tari dari Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, juga turut meramaikan acara penutupan tersebut.

Menurut Humas Pemkot Tanjungpinang, Drs. Abdul Kadir Ibrahim (Akib), pelaksanaan RBM ke-II 2008 ini cukup meriah dan boleh dibilang berhasil, meski dalam beberapa kegiatan masih banyak kekurangan. “Selain mampu menghidupkan seni dan budaya Melayu di Tanjungpinang, RBM ke-II ini juga menghasilkan beberapa rekomendasi penting menyangkut pengembangan budaya Melayu ke depan,” ujar Bang Akib kepada MelayuOnline.com.

Rekomendasi itu dibuat oleh tim perumus yang terdiri dari Abdul Malik (Dosen Universitas Maritim Raja Ali Haji/UMRAH, Tanjungpinang), Mahyudin Al Mudra, SH., MM. (Pendiri dan Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu/BKPBM, Yogyakarta), Dr. Bisri Effendi (Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia/LIPI, Jakarta), dan Marhalim Zaini (Sastrawan Melayu Riau). Mereka berempat ditunjuk langsung oleh panitia RBM untuk menghasilkan tujuh rekomendasi penting bagi pengembangan budaya Melayu.

Ketujuh rekomendasi yang dibacakan oleh Abdul Malik ketika mengakhiri seminar sastra RBM itu antara lain, perlunya sinergi pemerintah pusat dan daerah untuk memfasilitasi aktivitas dan kreativitas sastra lisan maupun tulis yang dilaksanakan masyarakat.

Kemudian, dalam rangka meningkatkan tradisi keberaksaraan masyarakat, diperlukan alokasi anggaran yang memadai untuk membangun perpustakaan sekolah dan umum, taman-taman bacaan, penerbitan buku-buku, dan lomba-lomba penulisan ilmiah maupun sastra untuk mengasah keterampilan menulis masyarakat.

Rekomendasi tersebut juga menggarisbawahi minimnya informasi ilmiah tentang sastra dan kebudayaan Melayu, sehingga pemerintah harus menyediakan media kebudayaan Melayu yang dapat menunjang kegiatan belajar dan penelitian kebudayaan dan sastra melayu. Dengan cara itu, mosaik-mosaik tradisi dan budaya Melayu yang telah tercerai-berai oleh batasan politik ataupun geografis dapat disatukan dalam hamparan dokumentasi yang utuh.

Sedangkan untuk memberikan apresiasi terhadap seniman, budayawan, media massa, dan lembaga-lembaga kebudayaan Melayu, tim perumus merekomendasikan supaya membentuk sebuah lembaga pemberi penghargaan yang dinamakan Penghargaan Haji Ibrahim, yang disponsori oleh pemerintah dan pihak berwenang. Selain itu, perlu juga diwacanakan secara nasional bahwa gerakan awal kebangkitan nasional sudah dicetuskan sejak berdirinya Rusdiyah Klab pada tahun 1892 di Pulau Penyengat, Tanjungpinang.

Yang tidak kalah penting, yakni perlunya memasukkan pantun, syair, dan gurindam dalam pelajaran muatan lokal di seluruh sekolah, mulai dari tingkat dasar hingga tingkat atas. Guna menunjang proses pembelajaran muatan lokal itu, tim perumus juga merekomendasikan perlunya pelatihan guru-guru, kurikulum yang komprehensif, dan bahan ajar yang berkualitas.

Yang terakhir, untuk menindaklanjuti hasil seminar RBM, perlu diadakan Kongres Kebudayaan Melayu berskala internasional yang melibatkan negara-negara Melayu serumpun, dengan pembahasaan aspek kebudayaan yang lebih luas.

Dalam kesempatan terpisah, Van der Putten (Peneliti budaya Melayu dari Belanda) kepada MelayuOnline.com, mengatakan bahwa ketujuh poin rekomendasi tersebut merupakan potret besar persoalan yang dihadapi oleh dunia Melayu sekarang. Karena itu,

“Pihak-pihak terkait juga harus mendorong dan mengingatkan pemerintah supaya segera mengimplementasikan tujuh rekomendasi seminar RBM ke-II tersebut, sehingga kegemilangan tamadun Melayu tetap terjaga sampai kapan pun,” kata Dosen National University of Singapure (NUS) itu.(ad/rls)

 


Posting Terkait