Perkenalkan Wisata Riau ke Mancanegara

899 views
Provinsi Riau memiliki wisata dan event yang berpotensi menarik wisatawan. Baik domestik maupun mancanegara. Letak Provinsi Riau sangat strategis. Dekat dengan gerbang masuk wisatawan mancanegara, khususnya Singapura dan Malaysia. Ini membuat Provinsi Riau potensial untuk menjadi salah satu destinasi pariwisata unggulan nasional.

Berdasarkan data dari Riau Tourizm Board (RTB), terdapat hampir 300 wisata di Riau. Mulai dari wisata alam, budaya, kuliner, belanja dan lainnya. “Jika mampu kita kelola dengan baik, saya yakin dan percaya Riau akan menjadi daerah kunjungan wisatawan,” kata Ketua Riau Tourizm Board (RTB), H Fadlah Sulaiman SH MM.

Namun, katanya, untuk menggapai kesuksesan tersebut butuh promosi dan sosialiasi. Promosi tak hanya di tingkat lokal atau nasional, tapi juga mancanegara.

Inilah yang dilakukan RTB dalam membantu pemerintah mempromosikan daerah ini hingga ke mancanegara.

Data yang dimiliki RTB sangat rinci dan detail. Di mana terdapat potensi daerah kabupaten/kota, alamat hotel berikut harga, alamat taksi, makanan khas daerah dan lsebagainya. Hal yang barangkali tak dilakukan oleh lembaga-lembaga promosi daerah lainnya.

Saat ini, lanjutnya, di Riau terdapat sekitar 402 hotel dengan 14.169 kamar. Khusus di Pekanbaru terdapat 138 hotel dengan 2.965 kamar.

Sementara itu, data dari Kementrian Pariwisata dan Kebudayaan, pada tahun 2011 lalu tingkat kunjungan secara nasional mencapai 237 juta, sementara pengeluaran mencapai 154 triliun. Di Riau sendiri di tahun yang sama untuk wisatawan mancanegara ada 47.000 kunjungan dan pada 2012 naik menjadi 51.250 kunjungan atau naik 9 persen.

Di tahun 2012 terdapat 245 juta perjalanan secara nasional. Di mana satu orang bisa mengadakan satu hingga tiga kali pejalanan dengan menghabiskan belanja Rp171, 5 triliun. Jumlah ini diperkirakan mengalami peningkatan 4 sampai 5 persen di tahun 2013.

“Berdasarkan data tersebut sudah saatnya Riau menjadi target kunjungan wisata,” terangnya.

Selain wisata alam dan budaya, banyaknya event besar yang dilaksanakan di Riau secara langsung akan berdampak pada peningkatan PAD. Orang akan banyak datang ke Riau yang tentunya akan berbelanja di daerah ini.

“Misalnya kita bisa melaksanakan event olahraga dengan memanfaatkan menu yang sudah ada. Karena event olahraga dapat membuat orang datang ke Riau,” tuturnya.

Menurutnya, ini potensi untuk mendatangkan wisatawan, terutama wisatawan nusantara. Dari catatannya, terdapat 275 wisata yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Riau.

Ke depanya menurut Fadlah pihaknya akan terus membangun kerjasama strategis dalam bentuk meningkatkan koordinasi, integrasi, singkronisasi dan simplikasi antara sesama stakeholder pariwisata dan antar stakeholder dengan pemerintah daerah di bidang pengembangan dan promosi pariwisata Riau.

Ombak Bono Membuka Mata Turis Asing


Bermain selancar (surfing) biasanya dilakukan kebanyakan orang di laut. Tetapi kalau di Provinsi Riau, main selancar bisa dilakukan di Sungai Kampar. Sejak pertama kali gelombang Bono (tidal bore) ditemukan, semakin banyak peselancar nasional dan internasional yang telah mencoba dahsyatnya gelombang tujuh hantu (seven ghost) ini. Gelombang Bono terdapat di Sungai Kampar, Kelurahan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau

Ya, sungai ini memang sudah lama dikenal memiliki gelombang yang disebut dengan bono . Gelombang bono terjadi karena pertemuan arus sungai dan arus laut yang sama-sama kuat. Ketika laut pasang, air laut akan memasuki muara sungai menuju ke hilir. Pertemuan arus laut menuju ke hilir dan arus sungai yang hendak menuju ke muara itu menimbulkan gelombang yang disebut bono. Gelombang bono tingginya bisa mencapai 3 sampai 6 meter.

Bagi penggemar surfing, berselancar menunggang gelombang bono menjadi tantangan tersendiri. Kata mereka, surfing di sungai lebih sulit, karena sulit mengambang dan berdiri. Tidak seperti surfing di laut yang mudah mengambang.

Gelombang bono cukup menarik bagi turis dan penggemar olahraga selancar. Bagi turis yang ingin menyaksikan gelombang bono, mereka biasanya berkumpul di Pantai Ogis, yang berjarak 2 kilometer dari Desa Teluk Meranti.

Selain menyaksikan aksi penggemar surfing menaklukkan bono, kita juga bisa menyaksikan penduduk sekitar bekudo bono . Bekudo bono adalah menunggangi gelombang bono dengan perahu pompong (perahu motor) atau speed boat, seperti orang berselancar.

Beberapa peselancar internasional yang sudah pernah mencoba berselancar dengan gelombang Bono berasal dari negara Perancis, Brasil, Inggris, Jerman, Kanada, Belgia, Amerika Serikat, Australia, Singapura, dan lainnya.

Bahkan perusahaan dunia sekelas Rip Curl juga telah melakukan ekspedisi di Gelombang Bono ini pada Maret 2011 yang lalu. Durasi gelombang Bono ini dapat menempuh hampir 30 sampai 40 kilometer dengan waktu tempuh berkisar antara 1,5 jam sampai 2 jam yang diawali dari Pulau Muda sampai dengan Teluk Binjai di Sungai Kampar.

Kini, Bono sudah menjadi salah satu wisata andalan di Provinsi Riau, khususnya Kabupaten Pelalawan. Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Pariwisata berencana akan mengembangkan objek wisata yang banyak digemari bule ini. Salah satunya dengan meningkatkan infrastruktur penunjang dikawasan tersebut.(adv)

Majukan Ekonomi Daerah


Ketua Badan Promosi Pariwisata Riau, Fadlah Sulaiman mengatakan, pariwisata Riau berpeluang dalam memajukan ekonomi daerah.

“Banyaknya event yang diselenggarakan di Riau menjadi pemicu bermunculannya hotel, terutama di Pekanbaru. Apalagi dengan diselenggarakannya kegiatan multy event PON XVIII lalu. Tak dapat dipungkiri, PON kemarin memberi pengaruh besar bagi pengusaha hotel dan restoran mengembangkan usahanya,” katanya dalam dialog bertemakan pariwisata tajaan Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau, belum lama ini.

Selain itu, lanjutnya, produk-produk Usaha Kecil dan Menengah (UKM) akan menjadi incaran wisatawan.

Melalui dialog ini, katanya, dapat saling tukar informasi tentang pariwisata yang terdapat di Riau. “Kalau bisa informasi tersebut diambil dari pusat hingga ke kabupaten-kabupaten. Seperti letak objek wisatanya, kendaraan menuju ke lokasi, restoran yang sesuai kehalalannya maupun penginapannya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua BPPS, Jono Lesmana menjelaskan, potensi pariwisata yang dimiliki Provinsi Riau, khususnya kota Pekanbaru sangat besar. Karena kotanya bersih dan tak terlalu padat penduduknya.

Salah satu peserta perwakilan Universitas Islam Riau (UIR) yang juga aktif di kesenian, Karsinem, mengatakan, kerjasama yang akan dijalin sangat bagus. Karena dapat mempromosikan kedua daerah yang mempunyai budaya dan latar belakang yang berbeda.(MPI).(adv)

[b/Bakar Tongkang, Event yang Mendunia[/b]

Prosesi ritual Bakar Tongkang sudah menjadi tradisi tahunan bagi masyarakat suku Tionghoa di Bagansiapi-api Kabupaten Rokan Hilir (Rohil).

Bahkan tradisi ini sudah menjadi event bagi Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir dan sebagai bagian dari program Visit Indonesia.

Kenapa tidak? karena mampu menyedot puluhan ribu wisatawan. Baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Taiwan,Hongkong hingga China.

Di tahun 2013, terdapat 45 ribu wisatawan nusantara dan mancanegara yang menyaksikan bakar tongkang.

Tradisi ini sudah dilaksanakan sejak tahun 1920. Biasanya beberapa minggu sebelum acara puncak, hotel dan penginapan telah penuh oleh mereka yang ingin menghadiri atraksi ini.

Memang ritual ini diselenggarakan untuk mengenang para leluhur yang menemukan Kota Bagansiapi-api dan wujud syukur terhadap Dewa Kie Ong Ya dan Dewa Tai Su Ong.

Ritual ini bermula ketika pada tahun 1826. Dimana ada sekitar 18 orang Tionghoa merantau dari Provinsi Fu-Jian, China. Mereka berlayar menggunakan 3 kapal kayu yang disebut tongkang. Di tengah perjalanan, dua tongkang tenggelam. Tongkang yang selamat akhirnya sampai di suatu tempat yang saat itu masih berupa hutan.

Mereka melihat cahaya api yang berkerlap-kerlip sebagai tanda adanya daratan. Cahaya api itu ternyata berasal dari kunang-kunang (Si Api-api) yang bertebaran di antara hutan bakau yang tumbuh subur di tepi pantai. Di daerah yang tidak bertuan ini, mereka akhirnya mendarat dan membangun tempat pemukiman baru, yang kemudian dikenal dengan nama Bagansiapi-api.

Adapun kata Bagan sendiri mengandung makna sebagai tempat, daerah, atau alat penangkap ikan. Di dalam tongkang yang selamat itu terdapat patung Dewa Laut Ki Ong Ya dan Tai Su Ong. Ritual ini diadakan pada tanggal 16 bulan kelima lunar setiap tahunnya atau dalam bahasa Hokkien disebut Go Cap Lak. Go berarti bulan kelima dan Cap Lak berarti tanggal enam belas.

Oleh sebab itu, satu abad setelah mendaratnya mereka di Bagansiapi-api, warga Tionghoa di Kabupaten Rokan Hilir menggelar ritual bakar tongkang untuk menghormati dua dewa itu yang jadi perlambang keselamatan dalam mengembara.(adv)

Posting Terkait