Peran Kelas Menegah DI Indonesia Belum Menjadi Kekuatan Dinamik

JAKARTA (RiauInfo) – Sabtu, tanggal 5 Desember 2015, hari ini, Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB) kembali melaksanakan Diskusi Panel Serial ke-5 dengan tema baru yaitu “Dinamika Proses Keindonesiaan”. Dalam diskusi serial kali ini, hadir sebagai pembicara pertama adalah Dr. Faisal Basri. Kemudian pembicara kedua, Prof. Dr. Benny H Hoed yang sedianya hadir menyampaikan materi, terpaksa diwakilkan oleh Bagiono DS dari pihak YNSB, karena Prof Dr Benny H Hoed meninggal dunia beberapa hari lalu.

Kelas Menengah di dunia termasuk Indonesia, kata Dr Faisal Basri, pada dasarnya merupakan motor penggerak dinamika suatu masyarakat. Hal ini karena dari kalangan mereka inilah, tumbuh dan berkembangnya gagasan dan kiprah yang bermanfaat bagi seluruh masyarakat. Sayangnya peran kelas menengah khususnya di Indonesia, belum bisa diandalkan, karena belum berperan menjadi kekuatan dinamik untuk mewujudkan suatu masyarakat yang sejahtera bagi seluruh lapisan dan kalangan yang ada dalam batang tubuh bangsa ini.

Padahal, kata Faisal Basri lagi, telah menjadi rahasia umum, jika hampir semua jenis ideologi ekonomi pernah dicoba di Indonesia yang didukung oleh didalamnya kelas menengah di Indonesia. Karena itu, masyarakat kelas menengah di Indonesia kini perlu melakukan perubahan untuk segera membantu persoalan yang nyata di depan mata. Seperti: Pengelolaan Sumber Daya Alam, Melindungi rakyat dari ganasnya pasar dan globalisasi, Tidak mempertentangkan peran negara dan peran pasar, dan Memperkuat jantung perekonomian.

Menurut Faisal Basri, banyak fenomena yang patut disikapi terkait semakin banyaknya impor pangan dan produk manufacturing, serta energi. Fenomena maraknya impor tersebut dimulai pada tahun 2007 hingga saat ini. “Bagaimana kita bisa compatable dengan dunia jika banyak barang banyak impor di Indonesia”, katanya.

Karena itu, semangat nasionalisme harus terus diperkuat. Nasionalisme disini adalah pencerminan dari tekad suatu bangsa untuk memperkokoh eksitensi negaranya dan memajukan kehidupan rakyatnya di tengah pergaulan masyarakat dunia yang terbuka dan berkeadaban, dengan melakukan tindakan-tindakan yang memperkuat peran negara dalam melayani masyarakatnya.
Faisal Basri juga mengingatkan jika di Indonesia pada saat ini lebih banyak Strata Menengah daripada Kelas Menengah. Strata Menengah lebih bersifat konsumtif sedangkan Kelas Menengah lebih bersifat kritis dan mau menyinari lingkungannya.

Sementara itu, Pontjo Sutowo, sang Pembina YNSB menyatakan hingga saat ini ekonomi nasional masih bercorak ekonomi kolonial, yaitu bertitik berat pada ekspor bahan mentah dan mengimpor barang jadi. Kenyataan itu lebih diperparah dengan dipraktekkannya faham neo-liberalisme dalam kebijakan pemerintah. “Sesungguhnya kita belum siap bersaing dalam suatu sistem pasar bebas yang benar-benar terbuka”, kata Pontjo Sutowo.

Dalam paparan Prof. Dr. Benny H Hoed yang disampaikan Ketua SC YSNB Bagiono DS menyatakan jika Kelas Menengah terdiri dari lima kelompok besar. Yaitu, bermodal ekonomi, bermodal budaya intelektual, budaya politik, budaya birokrasi dan budaya seni. (Ami Herman)

Adrizas: